UMNYARSIUMNYARSI

Journal of Public Administration and Management StudiesJournal of Public Administration and Management Studies

Kaum adalah salah satu dari tiga bentuk kelompok kekerabatan dalam masyarakat Minangkabau. Kaum merupakan kumpulan dari beberapa paruik, sedangkan suku adalah kumpulan dari beberapa kaum, dan nagari terdiri dari setidaknya empat suku. Eksistensi paruik, kaum, dan suku dalam kehidupan masyarakat nagari masih sangat terasa hingga saat ini. Keberadaan kaum ini juga masih sangat dirasakan di Nagari Pasia Laweh, termasuk dalam kegiatan pembangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah lebih lanjut eksistensi kaum dalam pembangunan di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Nagari Pasia Laweh masih hidup berkelompok dalam ikatan kaum. Kaum merupakan elemen terpenting dalam pembangunan di Nagari Pasia Laweh. Setiap tahapan pembangunan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, selalu melibatkan kaum. Pada tahap perencanaan, wali nagari akan berdiskusi dengan niniak mamak, kemudian pelaksanaan program akan dilakukan oleh masyarakat dalam kaum tersebut. Motto sahino samalu mendorong semua kaum untuk terlibat aktif dalam kegiatan pembangunan demi memajukan nagari dan memenuhi kebutuhan kaum.

Kaum, sebagai kearifan lokal Minangkabau, terbukti memiliki eksistensi yang sangat tinggi dalam pembangunan di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam.Keberadaannya menjadi unsur esensial, di mana setiap tahapan pembangunan selalu melibatkan partisipasi aktif kaum.Didorong oleh motto sahino samalu, keterlibatan kaum secara menyeluruh ini berkontribusi signifikan terhadap kemajuan nagari dan pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Penelitian ini telah menunjukkan betapa pentingnya peran kaum dalam pembangunan di Nagari Pasia Laweh. Namun, untuk memperdalam pemahaman, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik. Pertama, akan sangat bermanfaat jika dilakukan studi perbandingan mendalam di beberapa nagari lain di Minangkabau, baik yang juga berprestasi maupun yang masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang membuat peran kaum sangat kuat di satu tempat dibandingkan tempat lain, serta melihat bagaimana model kolaborasi ini beradaptasi atau menghadapi kendala di lingkungan yang berbeda. Ini bisa membantu kita memahami apakah keberhasilan di Pasia Laweh adalah unik atau dapat direplikasi dengan modifikasi tertentu. Kedua, mengingat penelitian ini bersifat kualitatif, studi lanjutan dapat mengeksplorasi pengukuran dampak kuantitatif dari keterlibatan kaum. Bagaimana partisipasi aktif kaum, misalnya melalui program Kelompok Tani Hutan berbasis kaum atau kegiatan manunggal, secara konkret berkontribusi pada peningkatan indikator kesejahteraan ekonomi masyarakat, peningkatan kualitas infrastruktur, atau bahkan penurunan angka kemiskinan di nagari? Pengukuran semacam ini akan memberikan bukti empiris yang lebih kuat tentang efektivitas model pembangunan berbasis komunitas. Ketiga, penting juga untuk meneliti keberlanjutan eksistensi dan peran kaum di tengah dinamika perubahan zaman, terutama di kalangan generasi muda. Apakah nilai-nilai seperti sahino samalu masih mengakar kuat pada anak muda, dan bagaimana program-program seperti Sekolah Hukum Adat Nagari (SAHAM) dapat memastikan transmisi kearifan lokal ini terus berlangsung efektif? Penelitian ini bisa menggali tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan tradisi di era globalisasi dan merumuskan strategi adaptasi agar kaum tetap relevan sebagai pilar pembangunan di masa depan. Melalui penelitian ini, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang potensi dan masa depan pembangunan berbasis kearifan lokal.

  1. Kearifan Lokal dan Aktifitas Filantropi Perantau Sulit Air Sepakat (SAS) dalam Menghadapi Revolusi Industri... doi.org/10.18326/infsl3.v13i1.177-200Kearifan Lokal dan Aktifitas Filantropi Perantau Sulit Air Sepakat SAS dalam Menghadapi Revolusi Industri doi 10 18326 infsl3 v13i1 177 200
  2. Hybridization and Urban Governance: Malleability, Modality, or Mind-Set? - Jill Simone Gross, 2017. urban... journals.sagepub.com/doi/10.1177/1078087416637127Hybridization and Urban Governance Malleability Modality or Mind Set Jill Simone Gross 2017 urban journals sagepub doi 10 1177 1078087416637127
Read online
File size331.8 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test