169169

PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni BudayaPANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya

Perkembangan teknologi memberi peluang untuk menggunakan media baru dalam mengkomunikasikan tari. Dance film salah satu model yang dapat digunakan untuk mewujudkan karya tari Ngaruhuk-ng yang dapat diapresiasi secara virtual. Dance film Ngaruhuk-ng merupakan bentuk alih wahana dari epos Takna Lawe masyarakat Kayaan, yang menyiratkan tentang pentingnya menghormati alam. Kajian terhadap epos Takna Lawe menemukan ajaran tentang sikap hidup dalam menjaga alam sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Sementara saat ini banyak terjadi berbagai bencana alam akibat kerusakan hutan. Isu deforestasi menjadi konten dalam karya Dance Film Ngaruhuk-ng. Melalui metode 4Ps of Creativity Model Mel Rhodes dan teori kreativitas Alma M Hawkins menghasilkan produk rekayasa budaya yang menggambarkan sosial budaya Kalimantan dalam kemarahan, kesedihan, sekaligus perlawanan sebagai bentuk dari perjuangan untuk bertahan hidup dari dampak deforestasi. Karya ini diharapkan dapat membuka kesadaran, akan pentingnya menjaga hutan dan bijak dalam memanfaatkannya.

Dance Film Ngaruhuk-ng merupakan bentuk alih wahana dari sastra lisan Takna Lawe yang dikaitkan dengan isu deforestasi hutan di Kalimantan.Karya ini menjadi bentuk rekayasa budaya dan ekspresi protes terhadap kerusakan hutan yang semakin meluas, serta menyampaikan perjuangan makhluk hidup untuk bertahan akibat hilangnya habitat.Karya ini juga mengingatkan masyarakat untuk kembali pada nilai luhur leluhur dalam menghormati, menjaga, dan melestarikan alam melalui tari kontemporer berbentuk dance film dengan pendekatan dramatik.

Pertama, perlu penelitian tentang bagaimana efektivitas dance film sebagai media penyadaran lingkungan dibandingkan dengan media seni lain seperti teater atau seni rupa di kalangan masyarakat muda Kalimantan. Kedua, penting untuk mengeksplorasi bagaimana narasi dari sastra lisan suku Dayak seperti Takna Lawe dapat diadaptasi ke dalam berbagai bentuk seni kontemporer lainnya, seperti musik digital atau instalasi seni interaktif, untuk menjangkau audiens global. Ketiga, perlu dikaji lebih lanjut mengenai dampak psikologis penonton setelah menyaksikan karya seni yang mengangkat isu deforestasi, apakah karya seperti Ngaruhuk-ng benar-benar mendorong perubahan sikap atau tindakan nyata terhadap pelestarian hutan, dan bagaimana elemen budaya lokal memperkuat resonansi emosional dalam karya tersebut. Penelitian-penelitian ini dapat membuka jalan bagi pengembangan seni berbasis budaya yang tidak hanya estetis, tetapi juga menjadi alat transformasi sosial yang efektif. Dengan menggabungkan pendekatan antropologi, estetika, dan psikologi, penelitian lanjutan dapat memperdalam pemahaman tentang peran seni dalam gerakan lingkungan hidup. Selain itu, eksperimen dengan teknologi augmented reality bisa dieksplorasi untuk membuat pengalaman seni yang lebih imersif. Penelitian bisa melihat bagaimana audiens merespons versi interaktif dari dance film yang memungkinkan mereka masuk ke dalam narasi kerusakan hutan. Pendekatan lintas disiplin seperti ini memungkinkan inovasi dalam penyampaian pesan lingkungan. Fokus pada komunitas lokal juga penting untuk memastikan keaslian narasi budaya. Penelitian lanjutan sebaiknya melibatkan masyarakat Dayak secara aktif dalam proses kreatif.

Read online
File size2.14 MB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test