169169

PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni BudayaPANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya

Teater Mamanda merupakan teater tradisional khas Kalimantan Selatan yang sudah ada semenjak tahun 1897. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah dan identitas Mamanda versi Banjarmasin di Kalimantan Selatan dari tahun 1970-2021. Metode sejarah digunakan untuk mengumpulkan data yang dianalisis menggunakan pendekatan identitas budaya Stuart Hall. Konsep identitas budaya dirumuskan sebagai proses wujud (faktor internal) dan sebagai proses menjadi (faktor eksternal). Faktor internal tampak pada inovasi dan adaptasi yang menggabungkan Mamanda Periuk dan Tubau, serta kreasi pada penggunaan unsur-unsur teater modern dalam pemanggungannya. Faktor eksternal merupakan permintaan masyarakat terutama di Banjarmasin untuk mengemas pertunjukan Mamanda dengan durasi pendek, serta secara konten menonjolkan humor dan cerita lakon yang kekinian. Dalam perkembangannya Teater Mamanda di Banjarmasin lebih banyak didominasi oleh struktur pertunjukan teater modern. Unsur-unsur teater modern tersebut yang kemudian menjadikan Mamanda di Banjarmasin yang sebelumnya merupakan teater tradisional kemudian berkembang menjadi teater populer.

Perjalanan teater Mamanda di Banjarmasin dari tahun 1970 hingga 2021 mengalami perkembangan panjang dan penting dalam sejarahnya.Adaptasi Mamanda Periuk dan Tubau oleh Bakhtiar Sanderta di Banjarmasin menjadi cikal bakal versi baru yang berkembang di berbagai daerah di Kalimantan Selatan.Berdasarkan teori identitas budaya Stuart Hall, Mamanda Banjarmasin memiliki identitas unik yang terbentuk dari inovasi seniman dan pengaruh permintaan pasar serta perkembangan zaman, sehingga berkembang menjadi teater populer dengan ciri khas struktur pertunjukan, naskah, tata rupa pentas, dan humor yang khas.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan mengeksplorasi lebih dalam pengaruh modernisasi terhadap perubahan nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam naskah Mamanda, serta bagaimana perubahan tersebut diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, studi komparatif antara Mamanda Banjarmasin dengan bentuk Mamanda lainnya di Kalimantan Selatan dapat dilakukan untuk mengidentifikasi perbedaan dan persamaan yang signifikan, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Terakhir, penelitian mengenai strategi pelestarian Mamanda di era digital, termasuk pemanfaatan media sosial dan platform streaming, dapat memberikan wawasan tentang bagaimana kesenian tradisional ini dapat terus relevan dan dinikmati oleh generasi muda. Penelitian-penelitian ini penting untuk dilakukan guna memastikan keberlanjutan Mamanda sebagai warisan budaya Kalimantan Selatan, sekaligus memperkaya khazanah seni pertunjukan Indonesia.

Read online
File size990.74 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test