PENERBITPENERBIT

Jurnal Penelitian Agama HinduJurnal Penelitian Agama Hindu

Transfer memori diejawantahkan secara konseptual sebagai upaya aktif dan persuasif dalam mengingat, menyadari, mewarisi nilai-nilai keagungan, kebertahanan, yang ajeg dalam konteks seni pertunjukan. Laku khas imajinasi sebagai alat afirmasi transfer ingatan mengacu pada pembentukan citra mental yang menonjolkan objek, gagasan, atau konsep-konsep yang besar dan berkesan serta memiliki pengaruh aprsiatif dalam pewarisan nilai monumental pertunjukan wayang kulit tradisi Bali. Tujuan penelitian ini pertama, mengetahui trans memori yang didasarkan pada alat imajinasi dalam pewarisan nilai monumental wayang kulit Bali kedua, menganalisis signifikasi trans memori dalam pewarisan nilai monumental wayang kulit Bali. Pendekatan fenomenologi (psikologi-imajinasi) dan teori estetika instrumental menunjang penelitian berbasis riset kualitatif pada penelitian ini. Temuan penelitian yaitu pertama, trans memori imajinasi menunjukkan fase-fase tindakan yang didasarkan pada laku imajinasi, imajinasi (transmutasi objek oleh subjek) kreativitas dan citra mental serta pengaruh emosional dalam imajinasi (trasformasi dan restrukturisasi objek melalui alam metakognitif subjek) konteks budaya objek (klarifikasi dan internalisasi nilai ke dalam objek) nilai monumental objek (pemahaman nilai keagungan dari objek). Kedua, Signifikasni trans memori imajinasi berdampak pada perilaku aktif dalam pewarisan nilai monumental pertunjukan wayang kulit tradisi Bali. Pertama, telaah sumber pengalaman estetik audiens sebagai ide penghadiran citra imajiner oleh dalang. Kedua, Sumber seni yang ditrasformasi dalam ragam elemen estetis pertunjukan wayang dengan melibatkan isu trending/populer dari ruang sosial-budaya audiens dan dalang, sehingga menciptakan dialektika dan katarsis sebagai ruang apresiasi audiens. Ketiga, internalisasi nilai-nilai sosial-religius audiens dalam membangun stigma keterlibatan dan keberlanjutan eksistensi vertikal-horizontal. Keempat, pembentukan citra wayang sebagai wujud seni monumental.

Trans memori imajinasi merupakan satu upaya untuk mengetahui dan memahami, nilai monumental yang diwariskan berdasarkan laku imajinasi.Wujud seni pertunjukan wayang kulit sebagai representasi nilai budaya warisan secara turun temurun, muncul sebagai objek eksistensial sekaligus medium dari nilai monumental.Fase-fase dalam membangun ingatan kolektif akan kepemilikin identitas yang diekspresikan dalam bentuk seni pertunjukan wayang tradisi Bali, dibangun dari hubungan interpersonal subjek melalui rekonstruksi sumber pengalaman estetik, transformasi sumber seni dalam ragam elemen estetis, internalisasi nilai-nilai sosial-religius, dan pembentukan citra wayang sebagai wujud seni monumental.Menginternalisasi trans memori tidak hanya merawat ingatan kolektif masyarakat akan nilai sejarah dari pertunjukan wayang dan berbagai makna yang terkandung dalam sumber-sumber sastra lakonnya, tetapi juga membangun satu mekanisme sistem pewarisan dengan bentuk keterlibatan secara aktif subjek pelaku budaya melalui pendidikan, agama, bahasa, adat dan sosial.Monumentalisme seni pertunjukan wayang berdampak secara psikologis, dalam membangitkan minat-apresiasi, rasa hormat, rasa memiliki, dan kekaguman terhadap seni pertunjukan wayang, di mana subjek tidak lagi melihat wayang hanya hiburan, melainkan sarana memperkuat identitas budaya dan spiritual masyarakat.Hal ini mengubah cara subjek berinteraksi dengan pertunjukan wayang dan mampu menempatkan aspek teks dan kontekstual dari pertunjukan sesuai pada ruang-ruang dan gaya penikmatan estetik dari berbagai jenis dan modelnya.Temuan penelitian yaitu trans memori imajinasi dalam pertunjukan wayang kulit Bali, berpotensi menghantarkan subjek (dalang, penonton, peneliti dan apresiator seni) untuk meletakkan pemahaman terhadap wayang sebagai sebuah objek eksistensial yang kemudian membentuk citra wayang dalam paradigma seni sebagai sebuah wujud yang mengandung nilai-nilai monumental.Citra wayang dalam paradigma seni menjadi simbol dari kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Bali, yang dipelihara dan dilestarikan sebagai bagian integral dari identitas budaya mereka.Dapat dipetakan fase-fase sebelumnya, saling berperan membentuk landasan pemahaman yang kuat bagi subjek untuk menganggap wayang sebagai objek eksistensial.Dengan cara ini, ingatan kolektif tentang sejarah dan tradisi terus diperkuat dan diperbarui, memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tetap relevan dan dihargai oleh generasi penerus, sekaligus menciptakan kesadaran akan identitas budaya yang kuat di tengah perubahan zaman.

Berdasarkan temuan penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan:. . 1. Mengkaji lebih lanjut pengaruh imajinasi dalam pembentukan nilai-nilai monumental pada pertunjukan wayang kulit Bali, khususnya dalam konteks budaya dan sosial-religius. Penelitian ini dapat berfokus pada bagaimana imajinasi dalang dan penonton saling berinteraksi dan membentuk pemahaman bersama tentang nilai-nilai tersebut.. . 2. Menjelajahi dampak psikologis dari pengalaman estetik yang dihasilkan oleh imajinasi dalam pertunjukan wayang kulit Bali. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana imajinasi memengaruhi emosi, persepsi, dan perilaku penonton, serta bagaimana hal itu berkontribusi pada pemahaman dan apresiasi mereka terhadap nilai-nilai monumental.. . 3. Mempertimbangkan peran teknologi dalam mewujudkan nilai-nilai monumental pertunjukan wayang kulit Bali di era digital. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan pengalaman estetik, memfasilitasi interaksi antara dalang dan penonton, serta mempromosikan nilai-nilai budaya dan sosial-religius yang terkandung dalam pertunjukan wayang.

Read online
File size383.39 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test