UNIBAUNIBA

Zona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas BatamZona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Batam

Latar Belakang: Abortus saat ini masih merupakan masalah besar di Indonesia dilihat dari epidemiologis, mordibitas, mortalitas, dan prognosisnya. Ketidakjelasan patogenesis akibat adanya ketidakpastian etiologi dan faktor risiko yang direfleksikan pada belum adanya perlakuan yang mampu mendeteksi sedini mungkin mencegah kejadian abortus. Abortus dipengaruhi oleh beberapa faktor resiko seperti paritas, umur ibu, riwayat abortus, dan anemia defisiensi besi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan case control. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel berjumlah 69 orang. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekam medik. Analisis data dengan menggunakan uji statistik Chi Square. Hasil: Dari hasil penelitian didapatkan bahwa paritas, umur ibu, dan anemia defisiensi besi memiliki hubungan dengan kejadian abortus, sedangkan riwayat abortus tidak memiliki hubungan dengan kejadian abortus. Hasil uji statistik Chi Square didapatkan nilai p untuk paritas 0,000, umur ibu 0,000, riwayat abortus 0,779, dan anemia defisiensi besi 0,007. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara paritas, umur ibu, dan anemia defisiensi besi dengan kejadian abortus dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat abortus dengan kejadian abortus di poli kebidanan RS Budi Kemuliaan Batam.

Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara paritas, umur ibu, dan anemia defisiensi besi dengan kejadian abortus.Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat abortus dengan kejadian abortus di poli kebidanan RS Budi Kemuliaan Batam.Penelitian ini memberikan informasi penting mengenai faktor-faktor risiko abortus yang perlu diperhatikan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.Dengan memahami faktor-faktor ini, diharapkan dapat dilakukan upaya pencegahan yang lebih efektif untuk mengurangi angka kejadian abortus.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai mekanisme biologis yang menghubungkan anemia defisiensi besi dengan peningkatan risiko abortus, termasuk peran inflamasi dan stres oksidatif. Kedua, penelitian kualitatif dapat dilakukan untuk menggali pengalaman dan persepsi ibu hamil mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian abortus, termasuk faktor sosial budaya dan dukungan keluarga. Ketiga, studi intervensi yang melibatkan edukasi gizi dan suplementasi zat besi pada ibu hamil dengan risiko tinggi dapat dilakukan untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam mencegah kejadian abortus. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi abortus dan mengembangkan strategi pencegahan yang lebih efektif, sehingga dapat menurunkan angka kejadian abortus dan meningkatkan kesehatan reproduksi wanita.

Read online
File size384.59 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test