ISI YogyakartaISI Yogyakarta

Resital: Jurnal Seni PertunjukanResital: Jurnal Seni Pertunjukan

Penelitian ini mengeksplorasi fenomena pèghâ dalam tradisi musik terbhâng ghendhing dan kemplang di Probolinggo dan Bondowoso, Jawa Timur. Pèghâ merujuk pada proses adaptasi musik gamelan metal menjadi ansambel membranofon. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan etnografi, dengan pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan tinjauan pustaka. Temuan menunjukkan bahwa elemen seperti kejhungan, pola drum, pola bonang, dan struktur ghendhing dipertahankan, meskipun pergeseran dari metal ke membran menyebabkan perubahan signifikan. Perubahan ini menghasilkan gaya bermain yang lebih repetitif, dinamis, dan selaras dengan karakteristik membranofon. Penelitian ini juga menantang pandangan konvensional membranofon sebagai instrumen ritmis semata, menunjukkan kemampuan mereka untuk memainkan peran melodi kompleks dalam terbhâng ghendhing dan kemplang. Proses pèghâ menekankan musik tradisional sebagai entitas dinamis yang terus berevolusi melalui kreativitas lokal, menciptakan identitas musik baru sambil mempertahankan akar budaya. Pèghâ merefleksikan ketahanan tradisi di hadapan tantangan dan kekuatan transformasi seni sebagai medium negosiasi antara budaya lokal dan kekuasaan.

Fenomena pèghâ dalam tradisi terbhâng ghendhing dan kemplang merefleksikan inovasi kreatif yang bertujuan melestarikan musik gamelan di tengah perdebatan tentang larangan penggunaan instrumen metal.Melalui adaptasi ini, musisi lokal berhasil mempertahankan elemen kunci gamelan seperti kèjhung, pola kendangan, pola bonang, struktur musik, dan bentuk melodi.Namun, pergeseran dari metal ke membran menyebabkan perubahan signifikan dalam teknik bermain, timbre, dan dinamika musik.Gaya bermain menjadi lebih repetitif, ranjak, dan dinamis, menyesuaikan dengan keterbatasan membranofon yang tidak dapat mempertahankan nada yang lama.Struktur musik gamelan, termasuk kerangka balungan dan pola ritmik inti, dipertahankan dalam proses re-alokasi.Namun, elemen seperti durasi nada dan gaya bermain mengalami perubahan signifikan karena keterbatasan membranofon.Nada yang lama digantikan dengan pola melodi yang lebih padat dan repetitif.Meskipun struktur ritmik dalam terbhâng ghendhing dan kemplang tetap mengikuti prinsip saling tumpang tindih bonang, tetapi sekarang dimainkan dengan teknik perkusi yang lebih intens dan repetitif.Hal ini bertujuan untuk mengimbangi hilangnya nada yang lama dalam membranofon, menghasilkan profil suara yang unik dan dinamis.Pèghâ adalah konsep budaya-musik yang menangkap esensi suara gamelan, mencakup kualitas estetika melodi, harmoni instrumen, dan dinamika ritmik.Proses ini merefleksikan ketajaman persepsi musisi saat mereka menafsirkan kembali elemen gamelan melalui medium instrumen yang dialokasikan ulang.Melalui adaptasi ini, identitas artistik dan musikal baru muncul, tetap berakar pada prinsip-prinsip tradisi gamelan.Transformasi ini menciptakan perbedaan estetika antara referensi gamelan asli dan adaptasinya, merombak persepsi dan nilai-nilai yang terkait dengan gending.Penelitian ini menantang pandangan konvensional membranofon sebagai instrumen ritmis semata.Dalam konteks terbhâng ghendhing dan kemplang, membranofon berfungsi sebagai penghantar melodi yang rumit dan harmonis, melengkapi struktur musik yang biasanya dipenuhi oleh instrumen metal.Hal ini menyarankan bahwa fungsionalitas instrumen musik tidak harus didefinisikan secara kaku, tetapi dipertimbangkan dalam konteks budaya dan praktis spesifik di mana mereka digunakan.Pèghâ menunjukkan bahwa musik tradisional bukanlah bentuk statis, tetapi entitas dinamis yang dapat berevolusi menanggapi pergeseran sosial dan budaya.Fenomena ini mengungkapkan bahwa adaptasi bukan hanya reaksi terhadap tekanan eksternal, tetapi juga cara untuk menciptakan jalur inovasi baru dan melestarikan tradisi.Penelitian ini menawarkan wawasan berharga tentang bagaimana tradisi musik dapat bertahan dan berkembang, didukung oleh transformasi yang menghormati dan mempertahankan warisan budaya.

Saran penelitian lanjutan yang baru: . 1. Mempelajari lebih lanjut tentang peran kiai langghâr dalam pengembangan dan penyebaran terbhâng ghendhing dan kemplang, serta pengaruh mereka dalam mempertahankan tradisi musik ini di tengah perubahan sosial dan budaya.. 2. Menjelajahi pengaruh dan interaksi antara tradisi musik terbhâng ghendhing dan kemplang dengan budaya dan agama Islam di Probolinggo dan Bondowoso, serta bagaimana musik ini menjadi medium untuk negosiasi dan adaptasi budaya.. 3. Menganalisis lebih lanjut bagaimana proses pèghâ mempengaruhi identitas artistik dan musikal terbhâng ghendhing dan kemplang, serta bagaimana identitas ini berubah seiring waktu dan interaksi dengan tradisi musik lainnya.

  1. Madurese Soap Opera: An Industry and Madurese Culture Migration of Situbondo People | Hidayatullah |... journal.unnes.ac.id/nju/index.php/harmonia/article/view/14951Madurese Soap Opera An Industry and Madurese Culture Migration of Situbondo People Hidayatullah journal unnes ac nju index php harmonia article view 14951
  2. Gamelan Reinvented: Cultural Sound Transformation in Membranophone Ensembles of East Java | Hidayatullah... doi.org/10.24821/resital.v25i3.14537Gamelan Reinvented Cultural Sound Transformation in Membranophone Ensembles of East Java Hidayatullah doi 10 24821 resital v25i3 14537
Read online
File size1.66 MB
Pages35
DMCAReport

Related /

ads-block-test