UMSBUMSB

Menara MedikaMenara Medika

Pendahuluan: Insomnia merupakan salah satu gejala yang muncul pada menopause. Terapi nonfarmakologi yang dapat digunakan untuk mengatasi insomnia adalah pemberian aromaterapi minyak melati namun efektivitasnya belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas aromaterapi minyak melati dalam mengatasi insomnia pada menopause di Desa Rancajawat Indramayu. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre experimental design, dengan pendekatan One Group Pretest- Posttest.Uji statistik yang digunakan paired sample t-test. Jumlah sampel penelitian yaitu 32 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner Insomnia Rating Scale KSPBJ-IRS (Kelompok Studi Psikiatri Biologi Jakarta). Hasil: Hasil penelitian membuktikan pengaruh sebelum dilakukan pemberian nilai rata-ratanya yaitu 18,25 sedangkan rata-rata pengaruh pemberian setelah intervensi menurun menjadi 16,09 dengan selisih nilai mean sebesar 2,16 dan nilai p value 0,000 (p<0,05) menunjukkan bahwa aromaterapi minyak melati efektif untuk mengurangi insomnia pada menopause. Diskusi: Dapat disimpulkan bahwa pemberian Aromaterapi minyak melati dengan durasi 15-30 menit sebelum tidur efektif dalam mengatasi insomnia pada menopause. Diharapkan terapi aromaterapi minyak melati dapat dijadikan sebagai terapi alternatif untuk mengatasi insomnia pada menopause.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan insomnia pada menopause sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi minyak melati dengan selisih niali mean 2,16.Dan terdapat efektivitas pemberian aromaterapi minyak melati hal ini dapat dilihat dari hasil analisis nilai correlation yaitu 0,900 maka pemberian aromaterapi minyak melati memiliki hubungan yang kuat.

Penelitian yang telah dilakukan ini memberikan bukti awal yang menjanjikan mengenai efektivitas aromaterapi minyak melati dalam mengatasi insomnia pada wanita menopause. Namun, untuk memperkuat temuan ini dan memberikan panduan praktis yang lebih komprehensif, beberapa arah penelitian lanjutan dapat dieksplorasi. Pertama, akan sangat berharga jika dilakukan studi perbandingan dengan kelompok kontrol atau plasebo, mungkin dalam desain randomized controlled trial (RCT), untuk secara lebih definitif mengkonfirmasi bahwa efek yang diamati memang berasal dari aromaterapi minyak melati itu sendiri, bukan faktor lain seperti efek plasebo atau regresi ke mean. Hal ini penting untuk meningkatkan validitas eksternal dan internal hasil penelitian. Kedua, mengingat durasi aplikasi yang disebutkan dalam penelitian ini (15-30 menit), perlu diuji apakah variasi dalam durasi, frekuensi, atau metode aplikasi (misalnya, inhalasi langsung, penggunaan diffuser di kamar tidur, atau aplikasi topikal) dapat memengaruhi tingkat efektivitasnya. Penelitian semacam ini dapat membantu mengoptimalkan protokol intervensi untuk penggunaan praktis di masyarakat. Ketiga, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang mekanisme biologis di balik efektivitas aromaterapi ini, studi di masa depan dapat menyelidiki dampak aromaterapi minyak melati terhadap biomarker fisiologis yang berhubungan dengan tidur dan stres, seperti kadar hormon serotonin, melatonin, atau kortisol. Dengan demikian, kita dapat lebih memahami bagaimana komponen aktif dalam minyak melati berinteraksi dengan sistem saraf dan endokrin tubuh untuk meningkatkan kualitas tidur, memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat bagi penggunaan terapi ini sebagai alternatif non-farmakologi.

Read online
File size230.92 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test