PUBLICATION CENTERPUBLICATION CENTER

Indonesian Journal of Teacher EducationIndonesian Journal of Teacher Education

Literasi sains merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki pada abad ke-21. Namun demikian, hasil berbagai studi internasional menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains peserta didik di Indonesia, khususnya dalam Programme for International Student Assessment (PISA), masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan menganalisis bukti-bukti empiris dari berbagai studi terdahulu mengenai kontribusi E-Modul IPA berbasis Ethno-STEAM yang mengintegrasikan etnosains, sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika dalam konteks ekowisata lokal tenun di Desa Sade terhadap literasi sains peserta didik. Secara spesifik, kajian ini berupaya mengidentifikasi pola, kesenjangan penelitian, serta implikasi teoritis dan praktis dari studi-studi yang relevan. Desa Sade yang berada di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, merupakan masyarakat adat Sasak yang masih mempertahankan tradisi menenun dan kearifan lokal, sehingga berpotensi menjadi sumber belajar yang kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti alur PRISMA, menelaah sepuluh artikel ilmiah terpilih yang terbit pada tahun 2016–2025 dari Google Scholar, SINTA, serta ERIC. Analisis dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi tema-tema dominan yang muncul dari seluruh literatur. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pemanfaatan kearifan lokal, integrasi tradisi tenun dalam pembelajaran, pengembangan E-Modul berbasis etnosains, serta pemanfaatan ekowisata secara konsisten berkontribusi terhadap peningkatan literasi sains. Kajian juga mengungkap kesenjangan penelitian berupa minimnya studi yang secara khusus mengintegrasikan konteks ekowisata tenun Sasak dalam E-Modul berbasis Ethno-STEAM yang tervalidasi secara empiris.

Pendekatan Ethno-STEAM berbasis kearifan lokal, khususnya yang mengintegrasikan tradisi tenun Sasak dan ekowisata Desa Sade, secara konsisten berkontribusi terhadap peningkatan literasi sains peserta didik melalui empat tema dominan, yaitu sumber belajar kontekstual, konteks pembelajaran lintas disiplin, media pembelajaran berbasis etnosains, dan literasi sains lingkungan.Terdapat kesenjangan penelitian signifikan karena belum ada studi yang mengembangkan dan memvalidasi E-Modul IPA berbasis Ethno-STEAM secara komprehensif dan terukur dalam konteks ekowisata tenun Sasak Desa Sade.Temuan ini memperkuat relevansi teori pembelajaran kontekstual dan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dalam pengembangan bahan ajar IPA berbasis budaya lokal.

Pertama, perlu dikembangkan penelitian R&D untuk merancang dan memvalidasi E-Modul IPA berbasis Ethno-STEAM yang secara khusus mengintegrasikan konteks ekowisata dan tradisi tenun Sasak di Desa Sade, dengan melibatkan guru, peneliti, dan pengelola wisata lokal sebagai mitra kolaboratif. Kedua, untuk memperkuat bukti efektivitas, diperlukan penelitian kuasi-eksperimen yang menguji dampak penggunaan E-Modul tersebut terhadap literasi sains peserta didik di sekolah-sekolah terdekat, dengan membandingkan kelompok eksperimen dan kontrol secara sistematis. Ketiga, perlu dieksplorasi integrasi pembelajaran luar kelas berbasis ekowisata Desa Sade ke dalam kurikulum IPA, di mana siswa dapat melakukan observasi langsung terhadap konsep sains dalam konteks budaya dan lingkungan nyata, sehingga pembelajaran tidak hanya berlangsung di kelas tetapi juga di lokasi wisata budaya. Ketiga arah penelitian ini saling melengkapi dan dapat mendukung pengembangan pendidikan sains yang kontekstual, bermakna, serta berkelanjutan. Dengan menghubungkan teknologi pembelajaran digital, kearifan lokal, dan konservasi lingkungan, pendekatan ini berpotensi meningkatkan keterlibatan siswa dan pemahaman konsep sains secara mendalam. Selain itu, pendekatan ini dapat memperkuat identitas budaya dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Penelitian lanjutan sebaiknya dilakukan secara kolaboratif agar hasilnya relevan, praktis, dan mudah diadopsi oleh sekolah. Fokus pada konteks lokal juga memungkinkan hasil penelitian dapat direplikasi di daerah lain dengan potensi budaya serupa. Dengan demikian, pendidikan sains di Indonesia dapat menjadi lebih inklusif dan berwawasan lingkungan.

  1. Kajian etnosains dalam ritual belaq tangkel pada masyarakat suku sasak sebagai sumber belajar IPA | Educatio.... doi.org/10.29408/edc.v17i1.5520Kajian etnosains dalam ritual belaq tangkel pada masyarakat suku sasak sebagai sumber belajar IPA Educatio doi 10 29408 edc v17i1 5520
  2. Etnomatematika: Eksplorasi Budaya Sasak sebagai Sumber Belajar Matematika Sekolah Dasar | JRPM (Jurnal... doi.org/10.15642/jrpm.2020.5.1.1-13Etnomatematika Eksplorasi Budaya Sasak sebagai Sumber Belajar Matematika Sekolah Dasar JRPM Jurnal doi 10 15642 jrpm 2020 5 1 1 13
  3. PISA 2022 Results (Volume I) | OECD. pisa results volume oecd skip main content state learning equity... doi.org/10.1787/53f23881-enPISA 2022 Results Volume I OECD pisa results volume oecd skip main content state learning equity doi 10 1787 53f23881 en
  4. The Effectiveness of EthnoSTEM-Based Science Learning to Improve Junior High School Students' Science... jppipa.unram.ac.id/index.php/jppipa/article/view/5710The Effectiveness of EthnoSTEM Based Science Learning to Improve Junior High School Students Science jppipa unram ac index php jppipa article view 5710
Read online
File size232.7 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test