ALJAMIAHALJAMIAH

Al-Jami'ah: Journal of Islamic StudiesAl-Jami'ah: Journal of Islamic Studies

NU telah lama dikenal berteologi moderat dan pluralis. Meskipun demikian, ulama dan aktifis akar rumput kurang memperhatikan ajaran pluralis tersebut. Bahkan sebagian dari mereka justru terlibat dalam penyerangan dan persekusi kelompok minoritas seperti Ahmadiyah dan Shiah di Indonesia. Hal ini cukup membingungkan dan kontradiktif antara artikulasi pemikiran pluralis tokoh senior NU dengan tindakan intoleran yang dilakukan pengikut NU di level akar rumput. Dengan pendekatan teori gerakan sosial, artikel ini menjelaskan kontradiksi tersebut dengan melacak akarnya pada struktur organisasi NU yang terdesentralisasi dan otoritas teologi berbasis ulama lokal yang mempunyai pesantren dan interpretasi keagamaannya sendiri yang dipatuhi oleh santri dan pengikutnya.

Artikel ini menunjukkan kontradiksi antara posisi teologis pluralis resmi Nahdlatul Ulama (NU) dengan tindakan intoleran oleh ulama dan cabang NU di tingkat lokal terhadap minoritas Ahmadiyah dan Syiah.Kontradiksi ini disebabkan oleh struktur organisasi NU yang terdesentralisasi, yang memberikan otoritas besar kepada kyai lokal, seringkali bertentangan dengan kebijakan toleransi kepemimpinan nasional.Untuk mengatasi dilema ini dan mencegah kekerasan di masa depan, disarankan adanya kolaborasi dan sosialisasi ajaran pluralis NU yang lebih baik dari PBNU kepada anggota akar rumput melalui pesantren dan organisasi afiliasi, serta forum diskusi tentang toleransi terhadap kelompok minoritas.

Untuk penelitian selanjutnya, sangat penting untuk mendalami bagaimana Nahdlatul Ulama (NU) dapat secara efektif mengatasi tantangan intoleransi agama yang muncul dari struktur organisasinya yang terdesentralisasi. Pertama, sebuah studi dapat mengeksplorasi sejauh mana pesan-pesan pluralisme yang disuarakan oleh pimpinan pusat NU (PBNU) benar-benar sampai dan diterima oleh ulama dan anggota di tingkat akar rumput. Ini berarti meneliti saluran komunikasi apa yang paling efektif—baik formal maupun informal, termasuk media sosial atau pertemuan langsung—dalam membentuk pandangan di kalangan kyai lokal dan pengikutnya, terutama saat menghadapi isu-isu sensitif tentang kelompok minoritas agama. Memahami hal ini akan membantu PBNU dalam merancang strategi penyampaian pesan yang lebih tepat sasaran. Kedua, akan sangat bermanfaat untuk meneliti faktor-faktor spesifik di tingkat lokal yang mendorong sebagian kyai untuk menentang arahan toleransi dari PBNU, sementara yang lain justru mendukungnya. Penelitian ini bisa melihat pengaruh faktor sosial-ekonomi, perbedaan interpretasi keagamaan, atau bahkan tekanan politik lokal yang membuat kyai tertentu memilih untuk mengadopsi sikap eksklusif atau memicu tindakan kekerasan. Dengan menganalisis kasus-kasus di daerah yang mengalami konflik intoleransi versus daerah yang berhasil menjaga kerukunan, kita bisa mendapatkan wawasan berharga tentang pemicu dan pencegah intoleransi. Ketiga, mengingat saran untuk menjalin kerja sama antara PBNU dengan pesantren, badan otonom seperti GP Ansor, Fatayat, Muslimat, serta lembaga penelitian dan LSM afiliasi NU, perlu ada evaluasi tentang seberapa besar dampak program kolaborasi semacam ini dalam mempromosikan toleransi. Ini bisa dilakukan melalui studi yang mengukur perubahan sikap masyarakat, penurunan insiden intoleransi, atau peningkatan dialog antaragama di wilayah yang menjadi sasaran program. Penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi keberhasilan, tetapi juga tantangan dalam implementasi kolaborasi, sehingga rekomendasi di masa depan bisa lebih praktis dan berkelanjutan.

  1. Practicing What It Preaches? Understanding the Contradictions between Pluralist Theology and Religious... aljamiah.or.id/index.php/AJIS/article/view/55201Practicing What It Preaches Understanding the Contradictions between Pluralist Theology and Religious aljamiah index php AJIS article view 55201
Read online
File size546.47 KB
Pages24
DMCAReport

Related /

ads-block-test