POLTEKKES DENPASARPOLTEKKES DENPASAR

International Conference on Multidisciplinary Approaches in Health ScienceInternational Conference on Multidisciplinary Approaches in Health Science

Latar belakang: Kelelahan kerja merupakan salah satu permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya kecelakaan kerja. Kelelahan dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko seperti usia, hipertensi, indeks massa tubuh (IMT), masa kerja, durasi kerja, pola kerja, dan perokok aktif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami beberapa faktor penting yang menyebabkan tingkat kelelahan pada pengemudi Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang. Metode: Penelitian ini menggunakan kuesioner terstruktur dan observasi penelitian potong lintang dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengemudi Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang dengan jumlah sampel sebanyak 35 pengemudi, dan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling. Teknik pengolahan data menggunakan analisis data, yaitu uji korelasi rank Spearman yang digunakan untuk data tidak berdistribusi normal. Hasil: Semua variabel tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kelelahan pengemudi, namun variabel-variabel yang masih menunjukkan hubungan positif dan searah dengan tingkat kelelahan adalah usia, IMT, masa kerja, dan durasi kerja. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, tingkat kelelahan kerja pengemudi memiliki tingkat kelelahan rendah dengan 32 pengemudi (91,4%).

Pengemudi Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang mengalami tingkat kelelahan kerja yang rendah, yaitu sebesar 91,4%.Meskipun tidak signifikan, terdapat hubungan positif antara usia, indeks massa tubuh (IMT), masa kerja, dan durasi kerja dengan tingkat kelelahan.Gejala kelelahan yang muncul meliputi pucat, menguap, haus, kelelahan mata, mengantuk, dan sakit kepala tanpa penyebab jelas.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi pengaruh lingkungan kerja seperti suhu kabin, kebisingan, dan getaran terhadap kelelahan pengemudi BRT, mengingat faktor lingkungan dapat mempercepat munculnya kelelahan meskipun tidak diukur dalam penelitian ini. Kedua, sebaiknya diteliti dampak pola tidur dan kualitas istirahat di luar jam kerja terhadap tingkat kelelahan, karena penelitian ini menyebutkan bahwa waktu istirahat cukup namun tidak mengukur kualitas tidur pengemudi secara mendalam. Ketiga, perlu dikaji efektivitas sistem penjadwalan kerja saat ini melalui penelitian yang membandingkan tingkat kelelahan antar pengemudi dengan pola kerja berbeda dalam jangka panjang, agar dapat diketahui apakah sistem kerja dua hari kerja dan satu hari libur benar-benar optimal dalam mencegah akumulasi kelelahan secara kronis.

Read online
File size388.38 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test