OJSOJS

Jurnal Pendidikan MultidisiplinerJurnal Pendidikan Multidisipliner

Sindrom Peter Pan merupakan kecenderungan individu untuk menghindari tanggung jawab kedewasaan dan mempertahankan perilaku kekanak-kanakan. Pada remaja sekolah menengah, sindrom ini dapat muncul melalui pola komunikasi, pengambilan keputusan, dan keterikatan emosional yang tidak matang. Penelitian ini menganalisis pengaruh Analisis Transaksional (AT) terhadap perubahan pola komunikasi dan dinamika ego pada siswa SMA berinisial C yang menunjukkan perilaku dan cara berbicara kekanak-kanakan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi AT, khususnya melalui identifikasi posisi ego (Parent–Adult–Child), mampu membantu subjek mengenali pola komunikasi Child yang dominan dan menggantinya secara bertahap dengan pola Adult. Penelitian ini menegaskan relevansi AT sebagai pendekatan konseling dalam menangani kecenderungan Peter Pan Syndrome pada remaja.

Analisis Transaksional terbukti membantu subjek C mengenali dominasi ego Child dalam komunikasi dan perilakunya, terutama yang berhubungan dengan ciri Peter Pan Syndrome.Pendekatan AT mampu memfasilitasi transisi dari perilaku kekanak-kanakan menuju perilaku yang lebih dewasa melalui identifikasi ego state, analisis transaksional, dan koreksi permainan psikologis.Dengan demikian, AT dapat menjadi pendekatan yang tepat dalam konseling remaja yang mengalami ketidakmampuan berkembang menuju kedewasaan emosional.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menyelidiki efektivitas Analisis Transaksional pada remaja dengan latar belakang keluarga berbeda, seperti mereka dari keluarga otoriter, permisif, atau broken home, untuk melihat apakah respons terhadap intervensi AT dipengaruhi oleh pola asuh. Kedua, penting untuk mengembangkan studi yang mengevaluasi penerapan AT dalam kelompok konseling, bukan hanya secara individual, guna mengetahui apakah dinamika kelompok dapat memperkuat internalisasi ego Adult melalui interaksi sebaya. Ketiga, diperlukan penelitian tindakan kelas yang melibatkan guru dan konselor sekolah untuk mengintegrasikan prinsip AT ke dalam pembelajaran sehari-hari, sehingga siswa tidak hanya mengalaminya dalam sesi konseling, tetapi juga dalam konteks akademik yang nyata. Penggalian lebih dalam terhadap durasi intervensi juga penting untuk menentukan berapa lama program AT harus berlangsung agar perubahan pola komunikasi menjadi stabil. Selain itu, penelitian bisa mengeksplorasi perbandingan AT dengan pendekatan konseling lain seperti CBT atau mindfulness untuk menilai efisiensi dan efektivitasnya dalam menangani sindrom serupa. Dengan begitu, hasil penelitian dapat memberikan panduan lebih komprehensif bagi sekolah dalam merancang layanan konseling yang berbasis bukti.

Read online
File size230.86 KB
Pages4
DMCAReport

Related /

ads-block-test