STKIP JBSTKIP JB

Prosiding Conference on Research and Community ServicesProsiding Conference on Research and Community Services

Mitra PM-UPUD adalah UD Shalempang Batik Madura (Mitra 1) dan Kelompok Pembatik Rumahan, Pemasok Bahan, dan Penjahit Dusun Pliyang (Mitra 2). Permasalahan ditinjau dari aspek produksi, pasca proses produksi batik-tulis khususnya yang menggunakan bahan-bahan kimia, pengrajin Mitra 1 biasanya langsung membuang air limbah begitu saja ke selokan atau sungai terdekat tanpa melalui proses pengolahan limbah sebelumnya. Tujuan program adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas batik-tulis Madura motif Sampang yang ramah lingkungan di Desa Tanggumong Kecamatan Samapangi Kabupaten Sampang. Metode kegiatan ditempuh melalui implementasi kegiatan, berupa penerapan Teknologi Tepat Guna instalasi pengolah air limbah (IPAL) residu proses produksi batik tulis ke Mitra 1. Bangunan IPAL Batik-Tulis terdiri dari bak penangkap lilin, bak pengendap dan perata aliran berjumlah tiga buah, bak koagulasi berisi filter tawas, bak absorbsi karbon aktif berisi filter arang kayu atau batok kelapa berjumlah tiga buah, dan bak kontrol akhir. Bak kontrol akhir berfungsi menampung air limbah terakhir yang relatif aman bagi lingkungan sebelum dibuang ke saluran selokan atau sungai. Air limbah juga dapat dimanfaatkan untuk proses pencucian batik kembali atau dipakai untuk menyiram tanaman.

IPAL Batik Tulis untuk proses produksi Batik Tulis Tanjung Bumi yang ramah lingkungan sudah didesain dan diimplementasikan di Mitra 1 dan Mitra 2.Bangunan IPAL terdiri dari bak penangkap lilin, tiga bak pengendap dan perata aliran, bak koagulasi dengan filter tawas, tiga bak absorbsi karbon aktif dengan filter arang kayu atau batok kelapa, serta bak kontrol akhir yang menampung air limbah yang relatif aman bagi lingkungan.Air limbah setelah pengolahan dapat dimanfaatkan kembali untuk mencuci batik atau menyiram tanaman.

Pertama, perlu diteliti seberapa efektif penggunaan arang kayu dan batok kelapa sebagai media filtrasi dalam menyerap logam berat dan zat pewarna di limbah batik tulis secara berkala selama beberapa bulan penggunaan, untuk mengetahui masa pakai optimal dan waktu penggantian filter. Kedua, perlu dikaji penerapan sistem uji kualitas limbah secara mandiri oleh pengrajin menggunakan indikator hayati seperti ikan lele atau tanaman lokal, agar dapat terus memantau keamanan air buangan tanpa selalu bergantung pada laboratorium eksternal. Ketiga, perlu diuji potensi pemanfaatan kembali air olahan dari IPAL tidak hanya untuk penyiraman tanaman dan pencucian, tetapi juga sebagai bahan baku dalam proses produksi awal batik, seperti perendaman kain atau pelorodan lilin, untuk mengurangi konsumsi air bersih dan meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya.

Read online
File size1.07 MB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test