UNIRAYAUNIRAYA

Haga : Jurnal Pengabdian Kepada MasyarakatHaga : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat

Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengintegrasikan kearifan lokal Te Aro Naweak Lako ke dalam pendidikan karakter di Sekolah Dasar di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Te Aro Naweak Lako mengandung nilai empati (naweak) dan kebersamaan (lako) yang selaras dengan tujuan pendidikan karakter untuk membentuk siswa yang berbudi pekerti dan peduli sosial. Metode pelaksanaan meliputi pelatihan guru, pengembangan modul pembelajaran berbasis budaya lokal, pendampingan di kelas, serta evaluasi melalui observasi dan wawancara. Guru dari tiga sekolah dasar terlibat aktif dalam proses ini. Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap nilai empati, tanggung jawab, dan kerjasama. Kegiatan ini juga mempererat hubungan antara sekolah dan masyarakat adat dengan keterlibatan tokoh lokal yang menghidupkan kembali cerita rakyat dan praktik gotong royong, yang semakin terpinggirkan oleh modernisasi. Evaluasi karakter siswa mengindikasikan peningkatan signifikan pada aspek empati, tanggung jawab, kerjasama, dan cinta budaya. Guru dan orang tua memberikan apresiasi karena pendekatan ini lebih kontekstual dan berdampak langsung pada perilaku siswa di sekolah dan rumah. Kegiatan ini merekomendasikan replikasi model Te Aro Naweak Lako di sekolah lain di wilayah pegunungan Papua sebagai langkah pelestarian budaya dan penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Te Aro Naweak Lako ke dalam pendidikan karakter di Sekolah Dasar di Wamena menunjukkan hasil yang sangat positif.Konsep Te Aro Naweak Lako, yang merepresentasikan nilai empati (naweak) dan kebersamaan (lako), terbukti mampu membentuk karakter siswa yang lebih peduli, kooperatif, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.Pembelajaran yang mengaitkan konteks budaya lokal dengan materi tematik PPKn dan IPS mampu menumbuhkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai luhur masyarakatnya sendiri.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan sebaiknya mendorong pengembangan dan pendistribusian modul pembelajaran berbasis kearifan lokal secara sistematis dan berkelanjutan. Kedua, pelatihan guru secara rutin perlu dilakukan untuk memperkuat kompetensi mereka dalam mengembangkan pembelajaran karakter kontekstual berbasis budaya lokal. Ketiga, kolaborasi dengan tokoh adat dan komunitas lokal harus terus dibina agar pelestarian budaya dan pendidikan karakter berjalan secara harmonis. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya menjadi program formal semata, tetapi juga menjadi alat pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal bagi generasi muda Papua.

Read online
File size412.5 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test