ISI DPSISI DPS

Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan TerbangunJurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun

Warisan budaya adalah tradisi atau ekspresi hidup yang diwarisi oleh nenek moyang dan diteruskan kepada keturunannya. Warisan budaya terbagi menjadi warisan budaya benda dan tak benda. Warisan budaya tidak hanya berlingkup pada monumen dan koleksi benda-benda, melainkan tradisi lisan, ritual, pertunjukan, pengetahuan dan praktek tentang alam, dan keterampilan untuk menghasilkan kerajinan tradisional. Warisan budaya berbentuk benda adalah warisan yang memiliki bentuk fisik dan terbagi menjadi warisan budaya benda bergerak dan tak bergerak. Mengingat bahwasannya cagar budaya adalah warisan dari leluhur yang tidak bergerak serta memiliki makna dan nilai tinggi, maka diperlukan langkah untuk menjaga dan melestarikan cagar budaya tersebut agar dapat diteruskan dan dipelajari lebih lanjut oleh generasi berikutnya. Bangunan Cagar budaya di Jakarta tersebar di beberapa wilayah. Terdapat 168 unit cagar budaya yang terbanyak terdapat di Jakarta Pusat. Kriteria cagar budaya sudah tertulis dalam Pasal 5 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 yaitu bangunan yang memiliki usia 50 tahun atau lebih, memiliki gaya paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Bangunan cagar budaya di Jakarta akan terus dilindungi karena sudah tertulis dalam Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan bangunan Cagar Budaya. Salah satu cagar budaya yang dilestarikan di Jakarta yaitu Candra Naya yang terletak di Jalan Gadjah Mada 188 Jakarta Barat. Candra Naya telah mengalami perubahan karena adanya dinamika isu politik, ekonomi, dan sosial budaya di kota Jakarta. Candra Naya tidak banyak diketahui oleh orang awam karena posisi bangunan tersebut tertutupi oleh bangunan di sekitarnya dan menyebabkan bangunan tersebut tidak terlihat dalam peta digital sehingga menimbulkan kurangnya ketertarikan masyarakat untuk mengunjungi dan melakukan riset pada Candra Naya.

Dari hasil pengamatan dan pengumpulan data diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa makna pada masa pembangunan Candra Naya.Hal tersebut berupa penggunaan atap lengkung atau ekor walet dilakukan untuk menunjukan status sosial penghuninya.Atap lengkung ini biasa digunakan oleh orang kaya, pejabat, dan orang berpendidikan.Courtyard pada Candra Naya memiliki makna keyakinan, keharmonisan, dan keseimbangan dalam kehidupan manusia.Selain itu, courtyard juga berfungsi untuk memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan alami agar masuk ke dalam bangunan.Skylight pada Candra Naya memiliki makna sebagai sumur langit agar memiliki hubungan langsung dengan Tuhan serta mendapatkan rezeki lebih.Moon gate memiliki makna keberuntungan dan kebahagiaan bagi siapapun yang melewatinya.Selain itu, moon gate juga berarti kelengkapan dan kekompakan dalam suatu keluarga.Fungsi utama dari moon gate yaitu sebagai penghubung visual dan pemisah antara dunia dalam dan dunia luar.Penggunaan pintu besar pada pintu utama Candra Naya dimaksud untuk mempermudah rezeki dan keberuntungan masuk ke dalam bangunan, dan penggunaan partisi dilakukan untuk mencegah rezeki dan keberuntungan tersebut bocor atau keluar melalui pintu belakang.Pada ruang tamu merupakan ruang publik yang dijadikan sebagai ruang menerima tamu dan terdapat dua ruang berbeda yang difungsikan sebagai tempat kerja dan menerima rekan kerjanya.Pada ruang tengah yang disebut courtyard ini merupakan ruang semi privat, yang dimana pada atapnya menggunakan skylight dan hanya tamu akrab dan keluarga yang diperkenankan masuk.Ruang keluarga sudah pasti merupakan ruang privat karena sebagai tempat berkumpul keluarga terdekat dan tamu-tamu yang sudah sangat akrab dan juga terdapat kamar tidur utama yang ditempati oleh Mayor Khow Kim An.Pada Ruang service terdapat dapur dan juga kamar para selir dan anak-anak, dapur dan kamar para selir dan anak dihubungkan oleh sebuah koridor yang memotong courtyard.Ruang terakhir yaitu courtyard yang berfungsi sebagai pemisah suatu ruang dengan ruang lainnya.Courtyard ini terletak di beberapa ruang diantaranya ruang tamu dengan ruang sembahyang , ruang keluarga dengan ruang sembahyang, ruang service dengan kamar para selir dan anak-anak, dan ruang service dengan ruang tamu dengan bentuk courtyard yang memanjang.

Berdasarkan hasil penelitian ini, kami menyarankan beberapa arah penelitian lanjutan. Pertama, perlu dilakukan studi lebih mendalam tentang pengaruh arsitektur Cina pada budaya dan masyarakat Indonesia, khususnya di Jakarta. Kedua, penelitian tentang bagaimana arsitektur Cina beradaptasi dengan iklim dan lingkungan Indonesia, serta bagaimana hal ini mempengaruhi makna dan fungsi bangunan. Ketiga, studi tentang bagaimana elemen-elemen arsitektur Cina seperti atap lengkung, courtyard, dan skylight, dapat diadaptasi dan diterapkan pada desain bangunan modern di Indonesia, dengan mempertimbangkan aspek budaya dan sosial.

  1. MAKNA ELEMEN ARSITEKTUR PADA BANGUNAN CANDRA NAYA | Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya,... doi.org/10.59997/vastukara.v3i2.1616MAKNA ELEMEN ARSITEKTUR PADA BANGUNAN CANDRA NAYA Jurnal Vastukara Jurnal Desain Interior Budaya doi 10 59997 vastukara v3i2 1616
Read online
File size826.93 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test