UNISMUH PALUUNISMUH PALU

Journal of Public Health and PharmacyJournal of Public Health and Pharmacy

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengetahuan, sikap, dan praktik (KAP) perawat terkait keamanan siber di fasilitas kesehatan, dengan fokus pada variasi berdasarkan ukuran rumah sakit. Keamanan siber sangat penting dalam digitalisasi layanan kesehatan, namun kesenjangan dalam kesadaran dan pelatihan masih ada, terutama di negara berkembang. Dengan meningkatnya ancaman siber yang menargetkan institusi layanan kesehatan secara global, penelitian ini berupaya untuk mengatasi peran yang kurang dieksplorasi dari perawat dalam menjaga sistem informasi rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan signifikan dalam pengetahuan, sikap, dan praktik keamanan siber perawat. Kesadaran akan kebijakan keamanan siber rumah sakit tergolong rendah (43,2%), terutama di rumah sakit yang lebih besar. Perilaku berisiko, seperti penggunaan perangkat pribadi untuk transfer data sensitif, lazim terjadi (77,0%), dengan insiden tertinggi di rumah sakit yang lebih besar. Penelitian ini menyoroti perlunya program pelatihan keamanan siber yang ditargetkan, terutama untuk staf perawat di rumah sakit yang lebih besar, melalui peningkatan kesadaran akan serangan social engineering, penipuan email, dan deteksi infeksi. Penelitian lebih lanjut harus mengeksplorasi intervensi yang disesuaikan dan faktor organisasi yang memengaruhi keamanan siber di sistem layanan kesehatan untuk menginformasikan kebijakan kesehatan global.

Penelitian ini menyoroti perlunya program pelatihan keamanan siber yang ditargetkan, terutama untuk staf perawat di rumah sakit yang lebih besar, melalui peningkatan kesadaran akan serangan social engineering, penipuan email, dan deteksi infeksi.Dengan mengatasi kesenjangan dalam kesadaran dan praktik, rumah sakit dapat meningkatkan perlindungan data dan mengurangi risiko.Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi intervensi yang disesuaikan dan faktor organisasi yang memengaruhi keamanan siber di sistem layanan kesehatan untuk menginformasikan kebijakan kesehatan global.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan untuk memperdalam pemahaman tentang keamanan siber di fasilitas kesehatan. Pertama, penelitian kuantitatif lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor organisasi yang paling berpengaruh terhadap praktik keamanan siber perawat, seperti budaya keselamatan, dukungan manajemen, dan ketersediaan sumber daya. Hal ini dapat membantu rumah sakit dalam merancang intervensi yang lebih efektif dan berkelanjutan. Kedua, penelitian kualitatif, seperti wawancara mendalam dengan perawat dan manajer rumah sakit, dapat digunakan untuk mengeksplorasi persepsi dan pengalaman mereka terkait keamanan siber, serta hambatan dan fasilitator yang mereka hadapi dalam menerapkan praktik yang aman. Ketiga, penelitian intervensi dapat dilakukan untuk menguji efektivitas berbagai program pelatihan keamanan siber, seperti pelatihan berbasis simulasi, lokakarya interaktif, dan kampanye kesadaran, dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik perawat. Penelitian ini harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti metode pengajaran, konten pelatihan, dan umpan balik peserta. Dengan menggabungkan temuan dari penelitian kuantitatif dan kualitatif, serta menguji efektivitas intervensi yang berbeda, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih komprehensif dan efektif untuk meningkatkan keamanan siber di fasilitas kesehatan dan melindungi data pasien.

Read online
File size405.83 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test