APPERTANIAPPERTANI

Jurnal Ilmu Ternak dan VeterinerJurnal Ilmu Ternak dan Veteriner

Pembuatan inokulum berbentuk bubuk melalui proses pengeringan akan menyebabkan kerusakan sel spora Trichoderma dan menurunkan viabilitas spora. Penelitian ini mengkaji kapasitas penyimpanan inokulum mutan Trichoderma dengan bahan pembawa lumpur kering dan beras ketan. Spora mutan Trichoderma AA1 kering dicampur dengan media pembawa berupa campuran lumpur kering dan tepung ketan. Perbandingan lumpur kering dengan beras ketan sebanyak 6, yaitu: 0:10, 2:8, 4:6, 6:4, 8:2, dan 10:0. Campuran spora dan bahan pembawa disimpan dan dianalisis hingga 16 minggu. Ketersediaan inokulum pada seluruh kombinasi perlakuan di atas 3,19×107 CFU (Jumlah sel jamur). Fluktuasi ketersediaan terkecil ditunjukkan pada rasio 4:6 yang berkisar antara 3,54×107 dan 6,1×107 CFU. Aktivitas enzim selulase mengalami peningkatan selama penyimpanan 16 minggu dengan peningkatan sebesar 66,67%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma dengan perbandingan lumpur kering:tepung ketan 4:6 mempunyai ketersediaan 3,54×107 CFU dan aktivitas pelepasan glukosa karboksimetil selulase (CMCase) 0,020 μmol/menit setelah penyimpanan 16 minggu. Temuan ini mengindikasikan bahwa inokulum dengan formulasi tersebut berpotensi digunakan dalam fermentasi hijauan pakan untuk meningkatkan kecernaan pakan unggas.

Studi ini menyimpulkan bahwa inokulum Trichoderma, menggunakan kombinasi lumpur kering dan beras ketan sebagai bahan pembawa, memiliki umur simpan yang optimal pada rasio 4.6, menghasilkan aktivitas CMCase sebesar 0,020 μmol/menit setelah 16 minggu penyimpanan.Hasil ini menunjukkan potensi inokulum dalam meningkatkan fermentasi pakan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kecernaan pakan unggas.Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji efektivitas inokulum ini dalam kondisi fermentasi pakan yang sebenarnya dan mengeksplorasi pengaruh rasio yang berbeda terhadap kinerja inokulum.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menginvestigasi pengaruh berbagai konsentrasi lumpur kering dan beras ketan terhadap komposisi metabolit sekunder yang dihasilkan oleh Trichoderma, karena metabolit ini dapat berkontribusi pada aktivitas biologis inokulum. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada optimasi proses pengeringan inokulum untuk meminimalkan kerusakan sel spora dan mempertahankan viabilitas spora yang tinggi. Ketiga, penting untuk mengevaluasi kinerja inokulum dalam kondisi fermentasi pakan yang sebenarnya, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti jenis pakan, kondisi fermentasi, dan interaksi dengan mikroorganisme lain. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, diharapkan dapat diperoleh formulasi inokulum Trichoderma yang optimal untuk meningkatkan kualitas pakan dan produktivitas unggas.

  1. Morpho-Molecular Characterization of Trichoderma Isolates from Rhizospheric Soils of Vegetables in Pakistan... doi.org/10.33687/phytopath.011.03.4309Morpho Molecular Characterization of Trichoderma Isolates from Rhizospheric Soils of Vegetables in Pakistan doi 10 33687 phytopath 011 03 4309
  2. Use of Dinitrosalicylic Acid Reagent for Determination of Reducing Sugar | Analytical Chemistry. acid... pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/ac60147a030Use of Dinitrosalicylic Acid Reagent for Determination of Reducing Sugar Analytical Chemistry acid pubs acs doi abs 10 1021 ac60147a030
  3. Impact of Growth Conditions on the Viability of Trichoderma asperellum during Storage. impact growth... doi.org/10.3390/microorganisms11041084Impact of Growth Conditions on the Viability of Trichoderma asperellum during Storage impact growth doi 10 3390 microorganisms11041084
Read online
File size300.15 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test