UMJ PremiumUMJ Premium

KonstruksiaKonstruksia

Risiko kontraktor dengan menggunakan kontrak EPC lebih tinggi dibandingkan tipe kontrak lainnya. Proyek yang berlokasi di area fasilitas permanen yang masih beroperasi atau yang disebut juga Proyek Brownfield mempunyai karakteristik yang berbeda dengan proyek Greenfield dimana proyek Brownfield terdapat banyak interface dengan fasilitas eksisting yang tidak dapat dihindari. Kondisi ini membuat kemungkinan terjadinya sengketa konstruksi menjadi lebih tinggi. Sangat diperlukan untuk diketahui faktor-faktor yang paling dominan atas terjadinya sengketa konstruksi pada proyek brownfield untuk dapat menghindari dan mengurangi kemungkinan terjadinya sengketa pada Proyek EPC Brownfield. Pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan kuesioner yang disistribusikan kepada responden dari dua sudut pandang yang berbeda yaitu Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa. Teknik pengambilan sampel Purposive digunakan untuk menghindari terjadinya bias atas hasil penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan faktor yang paling dominan atas penyebab terjadinya sengketa dari sudut pandang Pengguna Jasa adalah (1) Kesalahan harga Penyedia Jasa dalam proses tender, (2) kurangnya pemahaman resiko Penyedia Jasa, (3) Kurangnya pemahaman kontrak Penyedia Jasa. Sedangkan dari sudut pandang Penyedia Jasa faktor yang paling dominan atas terjadinya sengketa adalah (1) Adanya pasal pasal yang ambigu pada kontrak, (2) kurangnya data FEED saat proses tender, (3) kurangnya data fasilitas eksisting saat proyek pada fase engineering.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyebab dominan sengketa konstruksi pada proyek EPC brownfield dari sudut pandang Pengguna Jasa adalah kesalahan kontraktor dalam penawaran harga, kurangnya pemahaman risiko dan kontrak oleh kontraktor, serta keterlambatan penyelesaian pekerjaan.Sementara itu, dari sudut pandang Penyedia Jasa, penyebab utama sengketa adalah kontrak yang ambigu, data FEED yang tidak memadai, informasi tender yang tidak lengkap, dan kurangnya data fasilitas eksisting.Penelitian ini menekankan pentingnya kejelasan kontrak, kelengkapan data, dan pemahaman risiko yang sama antara Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa untuk meminimalkan potensi sengketa.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengidentifikasi strategi mitigasi risiko yang efektif untuk mengurangi potensi sengketa pada proyek EPC brownfield, dengan mempertimbangkan perspektif kedua belah pihak. Kedua, studi komparatif dapat dilakukan untuk membandingkan penyebab sengketa pada proyek EPC brownfield di Indonesia dengan negara lain, guna mengidentifikasi praktik terbaik dan pelajaran yang dapat diterapkan. Ketiga, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan model prediktif untuk mengidentifikasi proyek EPC brownfield yang berpotensi mengalami sengketa, berdasarkan karakteristik proyek dan faktor-faktor penyebab sengketa yang telah diidentifikasi. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan pengelolaan risiko dan mengurangi sengketa pada proyek konstruksi di Indonesia, khususnya pada proyek EPC brownfield yang kompleks dan berisiko tinggi.

Read online
File size380.5 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test