SADRASADRA

Kanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and MysticismKanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam di Indonesia. Kehadiran AI sebagai entitas pengajar digital memunculkan kekhawatiran mengenai masa depan guru manusia, khususnya dalam aspek pembinaan karakter dan spiritualitas peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi keberadaan guru manusia dalam konteks pendidikan Islam yang terdisrupsi oleh AI, dengan merujuk pada konsep wujūd dan māhiyyah dari filsafat Ibnu Sīnā. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan, dengan data primer berupa teks al-Shifā karya Ibnu Sīnā dan data sekunder dari jurnal terakreditasi nasional dan internasional. Teori wujūd dan māhiyyah digunakan sebagai kerangka untuk mengevaluasi eksistensi AI sebagai “guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI hanya memiliki eksistensi fungsional tanpa substansi spiritual, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai entitas pendidik dalam perspektif pendidikan Islam. Guru manusia, menurut Ibnu Sīnā, memiliki māhiyyah yang mencakup dimensi ruhani dan moral yang tidak dimiliki oleh AI. Kesimpulan dari studi ini menegaskan bahwa meskipun AI dapat berperan sebagai alat bantu, peran guru tetap tak tergantikan dalam membentuk jiwa dan karakter peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan Islam masa depan harus mengembangkan model kolaboratif yang menempatkan AI sebagai mitra, bukan pengganti guru.

Penelitian ini mengkonfirmasi bahwa guru manusia memiliki fondasi ontologis dan spiritual yang tak tergantikan oleh AI, sesuai filsafat Ibnu Sīnā, karena peran guru mencakup pembentukan moral dan intelektual yang tidak dimiliki AI.Oleh karena itu, pendidikan Islam di era digital harus menjaga nilai-nilai spiritual dan relasional sebagai inti, dengan AI berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti guru.Disarankan agar institusi pendidikan Islam mengembangkan kurikulum dan kebijakan yang memperkuat literasi etika dan spiritual guru, serta menegaskan posisi mereka sebagai aktor utama dalam sistem pendidikan berbasis nilai melalui pendekatan humanistik dan transendental.

Melihat kekhawatiran yang muncul terkait peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam pendidikan Islam, penelitian lanjutan sangat penting untuk memastikan bahwa teknologi dapat mendukung tanpa mengikis esensi pendidikan. Salah satu arah studi yang krusial adalah melakukan penelitian empiris yang mendalam untuk mengevaluasi efektivitas model pembelajaran kolaboratif. Model ini menempatkan AI sebagai mitra teknis dan guru manusia sebagai fasilitator utama dalam membimbing spiritualitas dan karakter siswa. Penelitian dapat mengkaji bagaimana implementasi konkret dari model kolaboratif ini secara signifikan mempengaruhi pembentukan moral, empati, dan pemahaman nilai-nilai spiritual siswa, dibandingkan dengan metode pengajaran tradisional atau yang terlalu bergantung pada AI. Selain itu, penting juga untuk mengeksplorasi bagaimana AI dapat dikembangkan secara etis agar selaras dengan nilai-nilai luhur pendidikan Islam. Ini bisa melibatkan perancangan kerangka kerja atau pedoman khusus untuk pengembangan AI yang mempertimbangkan aspek ontologis dan spiritual, sehingga alat bantu ini tidak hanya efisien dalam menyampaikan informasi tetapi juga mendukung pembinaan akhlak. Penelitian ini dapat mencari jawaban atas pertanyaan bagaimana bias algoritmik dapat dihindari atau diminimalkan dalam konten pendidikan Islam. Terakhir, dengan asumsi bahwa guru akan tetap menjadi pusat, studi juga harus berfokus pada pengembangan kurikulum pelatihan guru. Kurikulum ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital guru, tetapi yang lebih penting, memperkuat kemampuan mereka untuk memanfaatkan AI secara strategis sebagai alat pendukung. Pelatihan ini juga harus menekankan bagaimana guru dapat terus menjadi teladan moral dan pembimbing spiritual di tengah laju digitalisasi, memastikan bahwa mereka mahir dalam mengintegrasikan teknologi tanpa kehilangan sentuhan humanis dan transendental dalam mendidik jiwa.

  1. [2404.03044] The Artificial Intelligence Ontology: LLM-assisted construction of AI concept hierarchies.... doi.org/10.48550/arXiv.2404.030442404 03044 The Artificial Intelligence Ontology LLM assisted construction of AI concept hierarchies doi 10 48550 arXiv 2404 03044
  2. DOI Name 10.20871 Values. doi name values index type timestamp data hs serv 56z crossref desc 31z sekolah... doi.org/10.20871DOI Name 10 20871 Values doi name values index type timestamp data hs serv 56z crossref desc 31z sekolah doi 10 20871
  3. PEMIKIRAN IBNU SINA (RELIGIUS-RASIONAL) TENTANG PENDIDIKAN DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER... doi.org/10.32699/paramurobi.v6i1.4631PEMIKIRAN IBNU SINA RELIGIUS RASIONAL TENTANG PENDIDIKAN DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER doi 10 32699 paramurobi v6i1 4631
  4. The Copyright Responsibilities of Artificial Intelligence in the Digital Age | Indonesia Law Reform Journal.... ejournal.umm.ac.id/index.php/ilrej/article/view/26042The Copyright Responsibilities of Artificial Intelligence in the Digital Age Indonesia Law Reform Journal ejournal umm ac index php ilrej article view 26042
  5. Home Page. home page foundation profit organization govern digital object identifier system behalf agencies... Doi.OrgHome Page home page foundation profit organization govern digital object identifier system behalf agencies Doi Org
Read online
File size367.09 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test