PUBLIKASIINDONESIAPUBLIKASIINDONESIA

Jurnal Pendidikan IndonesiaJurnal Pendidikan Indonesia

Istilah Benign Prostatic Hyperplasia atau BPH merupakan kondisi hiperplasia sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat pada laki-laki. BPH adalah masalah kesehatan yang biasa dijumpai pada 1 dari 3 pria pada usia lebih dari 50 tahun.Laki-laki yang mengalami BPH biasanya akan mengalami gejala LUTS atau Lower Urinary Tract Syndrome dimana muncul dorongan ingin berkemih secara tiba-tiba,sering buang air kecil pada malam hari,dan ketika sudah berkemih masih merasa kandung kemih belum kosong sepenuhnya,dimana gejala ini akan mengganggu produkvitas orang yang mengalaminya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Usia, Riwayat Hipertensi Dan Diabetes Melitus Tipe II terhadap kejadian Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) Di Rumah Sakit Royal Prima Medan. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional yaitu penelitian yang dilakukan secara pada satu waktu dan mengumpulkan data secara simultan yang digunakan untuk mencari hubungan antara variabel independen (Usia, Hipertensi, DM Tipe II) dengan variabel dependen (BPH). Penyajian data meliputi analisis multivariat,bivariat (Chi-square) dan multivariat (Logistic regression). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas pasien BPH berada pada kelompok usia 51–60 tahun sebanyak 29 (46%) orang dan 61–70 tahun sebanyak 22 (34,9%) orang (p=0,000), pasien BPH yang memiliki riwayat hipertensi sebanyak 45 (71,4%) orang (p=0,023), sedangkan pasien BPH dengan riwayat DM tipe II sebanyak 38 (60,3 %) orang (p=0,03).Melalui hasil analisis multivariat didapatkan pada masing-masing nilai Odds Ratio variabel independen (Usia,Hipertensi,Diabetes Melitus Tipe II) adalah OR = (1,6; 2,8; 2,5) yang menujukan bahwa dengan adanya ketiga variabel tersebut akan meningkatkan peluang laki-laki mengalami BPH.

Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar pasien Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) di Rumah Sakit Royal Prima Medan berusia 51-70 tahun, dan mayoritas memiliki riwayat hipertensi serta diabetes melitus Tipe II.Analisis multivariat menegaskan adanya hubungan signifikan, menunjukkan bahwa usia, hipertensi, dan diabetes melitus Tipe II secara simultan meningkatkan peluang kejadian BPH, dengan nilai Odds Ratio masing-masing 1,6.Oleh karena itu, disarankan bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan skrining dan monitoring prostat pada pria berusia di atas 50 tahun dengan komorbiditas hipertensi dan/atau diabetes melitus Tipe II, serta melakukan studi longitudinal dengan kontrol faktor perancu untuk penelitian selanjutnya.

Penelitian selanjutnya dapat memperkaya pemahaman kita tentang Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) dengan fokus yang lebih mendalam pada mekanisme biologis di balik hubungan antara usia, hipertensi, dan diabetes melitus Tipe II. Misalnya, studi dapat menelusuri bagaimana perubahan pada tingkat seluler atau molekuler, seperti disregulasi hormonal, stres oksidatif, atau jalur inflamasi yang dipicu oleh hipertensi dan diabetes, secara sinergis memicu pertumbuhan prostat yang tidak normal. Mengidentifikasi jalur-jalur spesifik ini akan membuka peluang baru untuk pengembangan terapi yang lebih bertarget. Selain itu, mengingat pentingnya faktor risiko ini, akan sangat bermanfaat jika dilakukan penelitian intervensi prospektif. Studi semacam itu bisa mengevaluasi efektivitas program modifikasi gaya hidup yang terstruktur, seperti pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, dan pengelolaan stres, atau strategi manajemen penyakit kronis yang lebih intensif, dalam mencegah atau memperlambat perkembangan BPH pada kelompok pria dengan risiko tinggi, terutama mereka yang memiliki ketiga kondisi komorbid tersebut. Pemahaman mengenai dampak intervensi ini tidak hanya akan memberikan panduan klinis yang lebih kuat tetapi juga berpotensi mengurangi beban penyakit BPH di masyarakat. Terakhir, penelitian juga bisa mengeksplorasi faktor genetik atau biomarker tertentu yang mungkin berperan dalam meningkatkan kerentanan seseorang terhadap BPH ketika dihadapkan pada faktor usia, hipertensi, dan diabetes. Dengan melakukan analisis genetik pada subpopulasi pasien BPH dengan komorbiditas ini, kita dapat mengidentifikasi penanda risiko genetik yang akan memungkinkan skrining lebih dini dan strategi pencegahan yang lebih personal dan presisi bagi individu-individu yang paling berisiko. Penelitian ini akan mengarah pada pendekatan kesehatan yang lebih proaktif dan individual dalam menghadapi BPH.

  1. Hubungan usia dan hipertensi terhadap kejadian BPH di RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek tahun 2020 | Lilian... ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/MAHESA/article/view/3923Hubungan usia dan hipertensi terhadap kejadian BPH di RSUD Dr H Abdul Moeloek tahun 2020 Lilian ejurnalmalahayati ac index php MAHESA article view 3923
  2. Epidemiology and treatment modalities for the management of benign prostatic hyperplasia. epidemiology... tau.amegroups.org/article/view/30514/26263Epidemiology and treatment modalities for the management of benign prostatic hyperplasia epidemiology tau amegroups article view 30514 26263
  3. Chronic inflammation in benign prostatic hyperplasia: Pathophysiology and treatment options - Inamura... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/iju.15518Chronic inflammation in benign prostatic hyperplasia Pathophysiology and treatment options Inamura onlinelibrary wiley doi 10 1111 iju 15518
Read online
File size281.98 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test