UNIBAUNIBA

Zona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas BatamZona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Batam

Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada perempuan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Pada stadium IIA2 dan IIB, tumor berukuran besar sering memerlukan kemoterapi neoadjuvan untuk mengurangi massa tumor sebelum dilakukan pembedahan radikal. Proses apoptosis berperan dalam progresivitas tumor, dan protein caspase 3 merupakan biomarker penting dalam mekanisme ini. Namun, hingga kini belum tersedia penanda yang dapat memprediksi progresivitas tumor setelah kemoterapi neoadjuvan pada stadium tersebut. Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif terhadap 35 pasien kanker serviks stadium IIA2 dan IIB yang memenuhi kriteria inklusi. Ekspresi caspase 3 dinilai melalui pengecatan imunohistokimia pada sampel jaringan blok parafin. Subjek dibagi berdasarkan ekspresi caspase 3 positif dan negatif. Setelah kemoterapi neoadjuvan, dilakukan evaluasi klinis untuk menilai progresivitas tumor. Analisis statistik dilakukan dengan uji Chi-square dan regresi logistik. Sebanyak 62,9% pasien berusia ≥50 tahun dan 94,3% merupakan multipara. Sebagian besar subyek (60%) menunjukkan ekspresi Caspase-3 yang positif, dari segi progresivitas tumor sebanyak 60% mengalami progresif serta 25,7% pasien yang dinyatakan operabel, sedangkan mayoritas (74,3%) tetap inoperabel pasca kemoterapi. Meskipun tidak ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara ekspresi caspase 3 dan progresivitas tumor (p > 0,05), secara klinis terdapat kecenderungan peningkatan progresivitas pada ekspresi caspase 3 positif.

Ekspresi caspase 3 belum terbukti signifikan secara statistik sebagai prediktor progresivitas kanker serviks stadium IIA2 dan IIB pasca kemoterapi neoadjuvan.Namun, terdapat indikasi klinis bahwa ekspresi positif berkaitan dengan peningkatan progresivitas tumor, sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar.Meskipun tidak signifikan secara statistik, ekspresi caspase 3 positif menunjukkan tren yang mendukung operabilitas pasien setelah terapi.

Pertama, perlu dikaji lebih dalam apakah kombinasi biomarker caspase 3 dengan biomarker lain seperti p53 atau Ki-67 dapat meningkatkan akurasi prediksi respons terapi pada kanker serviks stadium lanjut, mengingat keterbatasan sensitivitas dari satu biomarker tunggal. Kedua, penting untuk meneliti bagaimana perbedaan regimen kemoterapi neoadjuvan, khususnya antara cisplatin tunggal dan kombinasi cisplatin-5FU, memengaruhi ekspresi caspase 3 dan respons klinis jangka panjang, agar dapat dirancang terapi yang lebih personal. Ketiga, diperlukan penelitian longitudinal untuk memahami dinamika perubahan ekspresi caspase 3 selama dan setelah terapi, serta hubungannya dengan progresi penyakit dan hasil operasi, guna menentukan waktu optimal intervensi bedah berdasarkan status biologis tumor. Studi semacam ini dapat membantu mengidentifikasi subkelompok pasien yang paling mungkin diuntungkan dari pendekatan neoadjuvan versus pendekatan radioterapi primer. Selain itu, analisis terhadap pengaruh derajat diferensiasi dan tipe histopatologi terhadap ekspresi caspase 3 dapat memberikan wawasan mengenai heterogenitas tumor yang memengaruhi respons terapi. Penelitian dengan desain prospektif dan ukuran sampel lebih besar sangat dianjurkan untuk memvalidasi temuan studi ini. Integrasi data klinis, patologis, dan biomolekuler akan memperkaya pemahaman mengenai mekanisme resistensi terapi. Dengan pendekatan multidisiplin, diharapkan dapat ditemukan strategi prediktif yang lebih andal. Temuan ini juga membuka peluang untuk studi terapi target yang merangsang jalur apoptosis. Secara keseluruhan, penelitian lanjutan harus fokus pada personalisasi terapi berdasarkan profil biologis tumor.

Read online
File size433.33 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test