UNIMMANUNIMMAN

Jurnal Kesehatan AmanahJurnal Kesehatan Amanah

Radikal bebas diketahui berperan dalam memicu beragam penyakit degeneratif, misalnya kanker, diabetes, penyakit kardiovaskular, serta mempercepat proses penuaan. Demi mencegah dampak tersebut, diperlukan senyawa antioksidan yang mampu menetralkan radikal bebas. Salah satu sumber antioksidan alami potensial ialah daun kunyit (Curcuma longa L.) yang diketahui kaya akan senyawa flavonoid dengan beragam manfaat biologis penting. Analisis ini dimaksudkan guna mengevaluasi pengaruh metode ekstraksi terhadap kadar flavonoid total serta aktivitas antioksidan ekstrak daun kunyit, sehingga dapat ditentukan metode paling efektif. Dua metode ekstraksi yang diterapkan yakni maserasi dan infundasi. Kadar flavonoid total ditetapkan melalui metode kolorimetri AlCl₃ dengan kuersetin sebagai standar pembanding. Uji aktivitas antioksidan dilaksanakan secara in vitro melalui pemanfaatan metode ABTS dengan parameter berupa kadar flavonoid total yang dinyatakan dalam mg quercetin equivalent (QE)/g ekstrak, serta nilai IC₅₀ sebagai indikator kekuatan aktivitas antioksidan pada sampel uji. Temuan analisis memperoleh bahwa metode maserasi memberikan kadar flavonoid tertinggi, yaitu 27,850 mg QE/g, dengan aktivitas antioksidan terbaik ditunjukkan oleh nilai IC₅₀ sebesar 44,224 μg/mL. Sebaliknya, metode infundasi menghasilkan kadar flavonoid dan aktivitas antioksidan yang lebih rendah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa metode ekstraksi menyumbang pengaruh terhadap kualitas ekstrak daun kunyit, dan maserasi merupakan teknik paling efektif menghasilkan ekstrak dengan kandungan flavonoid tinggi serta aktivitas antioksidan yang kuat.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa metode ekstraksi berpengaruh signifikan terhadap kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan ekstrak daun kunyit (Curcuma longa L.Metode maserasi terbukti sebagai metode paling efektif dalam menghasilkan kadar flavonoid total tertinggi, yaitu sebesar 27,850 mg QE/g.Sementara itu, metode ekstraksi microwave menunjukkan efektivitas paling tinggi dalam menghasilkan aktivitas antioksidan yang termasuk dalam kategori sangat kuat, dengan nilai IC50 sebesar 44,224 ppm.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki pengaruh variasi polaritas pelarut menggunakan desain respons permukaan untuk mengoptimalkan kadar flavonoid pada ekstraksi daun kunyit, sehingga dapat diidentifikasi kombinasi pelarut dan kondisi ekstraksi yang paling efisien. Selain itu, diperlukan studi komparatif antara metode maserasi dan teknik ekstraksi modern seperti ultrasound‑assisted atau microwave‑assisted untuk mengevaluasi peningkatan hasil dan aktivitas antioksidan, termasuk pengukuran dengan assay DPPH dan FRAP serta validasi in vivo pada model hewan. Selanjutnya, penelitian dapat fokus pada stabilitas fisis‑kimia ekstrak selama penyimpanan dan formulasi sediaan farmasi atau kosmetik, dengan menguji perubahan kandungan flavonoid dan aktivitas antioksidan selama periode waktu tertentu, guna memastikan keamanan dan efektivitas produk akhir.

  1. Review: Senyawa Fitokimia Daun Kunyit | Journal of Innovative Food Technology and Agricultural Product.... doi.org/10.31316/jitap.vi.5744Review Senyawa Fitokimia Daun Kunyit Journal of Innovative Food Technology and Agricultural Product doi 10 31316 jitap vi 5744
  2. PENGARUH METODE EKSTRAKSI TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KADAR FLAVONOID DAUN KAREHO (Callicarpa... journal.ubpkarawang.ac.id/index.php/Farmasi/article/view/977PENGARUH METODE EKSTRAKSI TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KADAR FLAVONOID DAUN KAREHO Callicarpa journal ubpkarawang ac index php Farmasi article view 977
Read online
File size548.73 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test