UNIMMANUNIMMAN

Jurnal Kesehatan AmanahJurnal Kesehatan Amanah

Stunting is a growth failure condition in toddlers caused by chronic malnutrition, making children shorter than their age. Stunting is a public health issue that requires serious attention due to its long-term impact on childrens development. Based on observations at Puskesmas Dalu Sepuluh, the prevalence of stunting was recorded at 52 children in 2022 and 35 children in 2023 out of a total of 6,737 toddlers. In addition, 8 children were identified as stunted during this research. This study aims to analyze the determinants of stunting in children aged 0–59 months in the working area of Puskesmas Dalu Sepuluh, Dalu 10 A Village, Tanjung Morawa District, Deli Serdang Regency. The research design used was observational analytic with a cross-sectional approach. The population consisted of 445 toddlers, and a sample of 211 respondents was selected using the Slovin formula with probability random sampling. Data were analyzed using the Chi-Square test, Fishers Exact test, and Multiple Logistic Regression Enter Method at a 95% confidence level. The findings showed that complementary feeding (OR = 9.13, 95% CI: 1.39–76.01) reduces the risk of stunting, while family income (OR = 12.92, 95% CI: 1.56–106.91) and parenting patterns (OR = 11.56, 95% CI: 1.39–96.01) increase the risk. Addressing these factors is vital to reduce stunting prevalence in toddlers.

Penelitian ini menunjukkan bahwa MP-ASI, pendapatan keluarga, pola asuh, dan ketersediaan pangan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada anak usia 0–59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Dalu Sepuluh Desa Dalu 10 A Kecamatan Tanjung Morawa.Faktor yang paling dominan memengaruhi kejadian stunting adalah pendapatan keluarga, di mana anak dari keluarga berpendapatan di bawah UMK berisiko 12,9 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting.Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong perbaikan pola asuh, pemenuhan gizi, dan ketersediaan pangan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menggali lebih dalam mengenai strategi intervensi yang efektif untuk meningkatkan pendapatan keluarga, khususnya bagi keluarga yang berisiko mengalami stunting. Penelitian ini dapat berfokus pada pengembangan program pemberdayaan ekonomi keluarga yang berkelanjutan. Kedua, studi kualitatif dapat dilakukan untuk memahami lebih mendalam mengenai pola asuh yang berkontribusi terhadap stunting, termasuk faktor-faktor budaya dan sosial yang mempengaruhinya. Hal ini akan membantu dalam merancang program edukasi yang lebih tepat sasaran. Ketiga, penelitian longitudinal diperlukan untuk melacak dampak jangka panjang dari intervensi gizi dan pola asuh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, serta untuk mengidentifikasi faktor-faktor lain yang mungkin berperan dalam kejadian stunting. Penelitian ini akan memberikan bukti yang kuat untuk mendukung kebijakan dan program pencegahan stunting yang lebih efektif dan berkelanjutan.

  1. Determinan Kejadian Stunting pada Anak Usia 0- 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Dalu Sepuluh Desa... doi.org/10.57214/jka.v9i2.968Determinan Kejadian Stunting pada Anak Usia 0 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Dalu Sepuluh Desa doi 10 57214 jka v9i2 968
Read online
File size555.65 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test