STKIP PESSELSTKIP PESSEL

Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan SekolahJurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah

Phubbing merupakan fenomena sosial yang muncul bersamaan dengan kemajuan teknologi kominikasi dan juga masifnya penggunaan media sosial yang kian marak terjadi di hampir semua kalangan, terkhusus remaja, termasuk di lingkungan pendidikan, yang berpotensi merusak kualitas komunikasi serta membentuk karakter yang individualistik. Perilaku phubbing dapat berdampak pada perubahan pola interaksi sosial manusia dan juga berpengaruh terhadap nilai-nilai akhlak serta moral dalam berperilaku terhadap sesama, seperti empati, sopan santun, penghargaan, dan perhatian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui analisa data deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui cara library research (Penulisan kepustakaan) serta melibatkan pendekatan hermeneutik untuk menafsirkan teks-teks keislaman (Al-Quran dan hadis) dan nilai-nilai ajaran Islam yang relevan dengan perkembangan zaman dalam membentuk etika sosial dan adab akhlak dalam berkomunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PAI memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran spiritual dan sosial siswa melalui penanaman nilai adab, empati, pengendalian diri, serta penggunaan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Dalam telaah hermeneutik, nilai-nilai seperti husn al-khuluq (akhlak mulia), taawun (kerja sama), dan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan) menjadi kunci dalam membendung perilaku phubbing.

Penelitian ini menjelaskan bagaimana nilai keislaman dalam perspektif hermeneutik yaitu untuk memaknai teks lebih mendalam, secara tekstual, ayat-ayat dan juga hadis memang tidak secara langsung melegitimasi tentang perilaku phubbing namun esensi yang terkandung didalamnya mempunyai relevansi dengan perilaku phubbing.Dalam penelitian ini setidaknya ada sepuluh ayat dan sembilan hadis yang memiliki substansi yang serupa dengan perilaku phubbing.Perilaku Phubbing secara tidak langsung mengganggu hubungan sosial dan ukhuwah, karena membuat lawan bicara merasa tidak dihargai, di lupakan, atau diremehkan.Dalam beberapa ayat dan juga hadis sikap berlebihan, mengabaikan waktu juga telah di tegaskan bahwa yang demikian merupakan perbuatan yang di larang dalam syariat Islam, yang tidak di sukai dan di benci oleh Allah Swt dan Rasulnya.Sebaliknya akhlak yang baik sangat dicintai bahkan menjadi indikator keimanan seorang mukmin.Melalui pendekatan hermeneutik terhadap ajaran Islam, phubbing dapat di nilai sebagai perilaku yang tidak sesuai dengan nilai adab Islami, mengurangi kualitas silaturahmi dan ukhuwah serta melanggar etika dalam berkomunikasi dan kesopanan karena berperilaku berlebih-lebihan, tidak menghormati dan menghargai keberadaan orang lain, mengecewakan dan melukai hati orang lain, melalaikan dan juga menyia-nyiakan waktu.Sebagai seorang muslim hendaknya kita mengikuti teladan terbaik kita yaitu Nabi Muhammad saw yang telah memberikan contoh akhlak yang mulia karena perilaku mulia itu lebih terhormat dan akan mendatangkan kebaikan serta tergolong menjadi orang-orang yang dicintai oleh Allah Swt.Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya mengajarkan pengetahuan keislaman, tetapi juga membentuk akhlak, sikap, dan kesadaran moral siswa berdasarkan nilai-nilai Islam.Dalam konteks phubbing, PAI memiliki peran penting dalam membentuk sikap hidup dengan nilai-nilai keislaman yang berdasarkan Al-Quran dan hadits.Serta tafsir kontemporer harus berjalan beriringan agar pemahaman agama menjadi tidak kaku dalam menyikapi problematika yang terjadi.Pendidikan Agama Islam memiliki peran strategis dan solutif dalam mencegah serta mengatasi perilaku phubbing dengan mengelaborasikan berbagai peran sentral dalam pendidikan.Banyak peran dilibatkan diantaranya mengintegrasikan kurikulum digital pada pembelajaran, peran aktif sekolah dalam memberikan edukasi dan sosilaisasi, mengatur kebijakan dalam penggunaan smartphone, menggiatkan interaksi sosial keagamaan dalam penanaman nilai-nilai keislaman seperti membuat kegiatan-kegiatan rohis, khotmil Quran, tilawah, tahsin serta melibatkan peran guru dan staff sekolah dalam pembinaan pengawasan dan juga menjadi contoh dan role model dalam penggunaan gadget serta interaksi sosia, melibatkan peran orang tua juga menjadi salah satu yang harus diupayakan dengan membangun komunikasi dalam pembinaan dan pengawasan anak di rumah.

Untuk mengatasi perilaku phubbing, diperlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai pihak. Pertama, sekolah dapat memainkan peran penting dalam mengedukasi dan mensosialisasikan bahaya phubbing, serta mendorong interaksi sosial langsung. Kedua, integrasi kurikulum digital dalam pembelajaran PAI dapat membantu menarik minat siswa dan mengajarkan nilai-nilai keislaman secara kontemporer. Ketiga, peran guru PAI sangat sentral dalam membentuk remaja yang sehat secara akhlak dan spiritual, dengan mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam setiap mata pelajaran dan menjadi teladan bagi siswa. Keempat, penting untuk melibatkan konselor atau guru BK dalam memberikan bimbingan dan pengawasan, serta mengidentifikasi penyebab perilaku phubbing dan menerapkan strategi intervensi yang efektif. Kelima, orang tua juga harus terlibat dalam pembinaan dan pengawasan anak di rumah, serta membangun komunikasi yang terbuka dengan anak-anak mereka.

Read online
File size455.97 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test