UNISMUHUNISMUH

Equilibrium: Jurnal PendidikanEquilibrium: Jurnal Pendidikan

Artikel ini bertujuan untuk memahami makna uang panai sebagai harga diri perempuan suku Bugis Bone baik dari segi tradisi maupun dari segi gengsi. Uang panai secara tradisi merupakan sesuatu yang harus dipenuhi pihak laki-laki sebelum menikahi perempuan suku Bugis, pemberian uang panai terkadang dipengaruhi gengsi sehingga jumlah uang panai yang diminta keluarga perempuan sangatlah besar. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan datanya melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Data kemudian dianalisis dengan melihat tradisi pemberian uang panai kepada perempuan suku Bugis Bone yang kemudian dipengaruhi oleh gengsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). Pemberian uang panai secara tradisi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi pihak laki-laki, tanpa uang panai maka tidak ada pernikahan. 2). Tradisi uang panai menjadi gengsi dalam masyarakat suku Bugis Bone sehingga jumlah uang panai sangat tinggi. 3) Ketika ingin melihat status sosial perempuan lihatlah berapa jumlah uang panai yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan, semakin tinggi uang panai yang diberikan maka semakin tinggi status sosial perempuan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi panai dalam masyarakat Bugis Bone mencerminkan nilai tinggi yang diberikan pada harga diri perempuan.Besaran uang panai seringkali dipengaruhi oleh status sosial perempuan, seperti keturunan, pendidikan, ekonomi, dan kondisi fisik.Seiring waktu, tradisi ini mengalami pergeseran makna, di mana gengsi menjadi faktor dominan, sehingga berpotensi menimbulkan beban finansial bagi pihak laki-laki dan bahkan menghambat proses pernikahan.

Berdasarkan temuan penelitian, perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai dampak sosial dan ekonomi dari praktik uang panai terhadap kesejahteraan keluarga Bugis Bone. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana praktik uang panai memengaruhi keputusan perempuan dalam pendidikan dan karir, serta dampaknya terhadap kesetaraan gender dalam rumah tangga. Selain itu, penelitian lanjutan dapat berfokus pada pengembangan model mediasi atau negosiasi yang efektif antara keluarga calon pengantin untuk mencapai kesepakatan uang panai yang adil dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan kemampuan finansial kedua belah pihak. Terakhir, penting untuk mengkaji peran tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam mengedukasi masyarakat tentang makna pernikahan yang ideal dalam perspektif agama dan budaya, serta mendorong praktik uang panai yang tidak memberatkan dan tidak melanggar prinsip-prinsip keadilan.

Read online
File size366.12 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test