UNIRA MALANGUNIRA MALANG

AL-WIJDÃN Journal of Islamic Education StudiesAL-WIJDÃN Journal of Islamic Education Studies

Indonesia dikenal sebagai entitas nasional yang terdiri dari berbagai perbedaan suku, budaya, dan agama. Sebagai hasil dari persatuan dalam keragaman, Indonesia memiliki dampak yang signifikan dalam sejarah untuk mendidik generasi muda. Artikel ini menggambarkan latar belakang sejarah bangsa yang menjalankan pendidikan khusus untuk membangun karakter bangsa. Selain itu, Indonesia sebagai negara yang beragama harus menetapkan tujuan bangsa yang selaras dengan nilai-nilai ajaran agama. Artikel ini juga membahas upaya untuk mendidik bangsa dengan fokus dan perhatian besar pada program pembudayaan. Secara rinci, artikel ini membahas kemajuan sukses dalam pendidikan karakter di Indonesia. Selain itu, artikel ini menggunakan metode analisis yang berfokus pada metode kausal-efektual yang mengkorelasikan Pendidikan Karakter sebagai hasil dari pembinaan karakter bangsa menggunakan model tinjauan pustaka. Artikel ini kemudian menemukan bahwa ada pola yang sama antara pembentukan karakter bangsa dan pendidikan karakter. Lebih lanjut, retrospeksi digunakan untuk merefleksikan implementasi nilai-nilai mulia Indonesia melalui prinsip pendidikan.

Konsep pendidikan karakter adalah upaya untuk membangun dan meningkatkan perilaku siswa agar menjadi lebih baik sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.Para ahli dan pendidik meyakini bahwa siswa yang telah memiliki dasar yang kuat akan lebih tahan terhadap kompleksitas zaman.Pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan perilaku terpuji pada generasi berikutnya.Hal ini sejalan dengan tujuan hak asasi manusia dalam implementasi pendidikan Islam, yaitu meningkatkan pengembangan karakter mulia, mempersiapkan kehidupan di dunia dan akhirat, menumbuhkan semangat belajar ilmiah, meningkatkan hal-hal teknis yang terkait, dan memperoleh manfaat.Ada korelasi antara nilai-nilai agama dan tujuan pendidikan karakter, sehingga program yang direncanakan harus sesuai dengan maksud dan tujuannya.Misalnya, dalam ajaran Islam selalu diajarkan untuk menghargai waktu, sehingga mekanisme implementasi pendidikan karakter juga harus sesuai dengan nilai ini.Pendidikan karakter memiliki peran khusus untuk kehidupan yang lebih baik bagi bangsa dan rakyatnya.Pendidikan agama di sekolah tidak hanya mengajarkan nilai-nilai kejujuran, tetapi juga berperan sebagai contoh kejujuran yang harus ditiru oleh siswa.Pendidikan karakter harus didukung oleh semua pihak, termasuk orang tua dan lingkungan di mana siswa tinggal dan berinteraksi.Ada tiga hal sederhana dalam proses adopsi pendidikan karakter di luar kelas, yaitu membawa siswa ke sekolah dengan fasilitas yang disediakan sekolah, program masuk sekolah dimulai pukul 6 pagi, dan program menyambut kedatangan siswa.Selain itu, ada program purifikasi diri pada hari Jumat, program makan bersama, dan program pengembangan diri.Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk manusia utuh.Manusia yang memiliki karakter baik adalah manusia yang memiliki kecerdasan, kehendak yang kuat, dan perasaan yang luas untuk generasi berikutnya.Karakter harus dinilai dari akumulasi berbagai sifat yang membentuk kepribadian seseorang.Proses implementasi pendidikan karakter dimulai dari individu.Untuk mereka yang dapat menerima proses belajar dengan tulus, akan mudah membentuk karakter yang baik.Adopsi pendidikan karakter akan didukung oleh semua hal dan aspek yang saling bersinergi, termasuk guru, lingkungan, dan anggota sekolah lainnya.Retrospeksi pendidikan karakter bertujuan untuk melihat, meninjau, dan mengevaluasi implementasi pendidikan karakter.Proses ini memiliki karakteristik dinamis yang berulang dengan penambahan solusi untuk menjawab semua masalah yang ada (iteratif incremental).Semakin maju dan maju sebuah era, ilmu pengetahuan juga akan berkembang.Dalam menyampaikan nilai-nilai karakter, tidak cukup hanya dengan memberikan tindakan atau contoh.Pemberian contoh terbukti memiliki dampak yang baik pada siswa secara keseluruhan, tetapi masih belum cukup.Apa yang harus dilakukan oleh pendidik selanjutnya adalah memperkuat nilai-nilai yang diterima oleh siswa, terutama pada aspek emosional, agar siswa dapat memahami nilai-nilai secara holistik.Melalui proses internalisasi dan personalisasi pada tahap pengalaman belajar intervensi, siswa akan menerima nilai-nilai moral.Habituasi dalam proses belajar tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga lebih baik jika ada habituasi yang dilakukan dan didukung oleh sekolah di lingkungan sekolah.Ada upaya untuk membentuk budaya sekolah yang mendukung penanaman nilai-nilai karakter yang disampaikan secara utuh.Dalam mengembangkan budaya di sekolah, dilakukan aktivitas yang diarahkan pada pengembangan diri, termasuk aktivitas spontan, aktivitas wajib, aktivitas contoh, dan aktivitas kondisioning.Aktivitas wajib yang telah dilakukan di beberapa sekolah di Indonesia, antara lain upacara bendera, berdoa setiap kali mulai dan selesai kelas, kegiatan bakti sosial, pengurus kelas, menabung, dan antre sebelum masuk kelas.Kemudian, ada aktivitas spontan, yaitu aktivitas mengunjungi siswa lain yang sakit atau terdampak bencana dan mengumpulkan sumbangan untuk seseorang yang terdampak bencana.Budaya positif ini harus dipertahankan dan ditingkatkan.Tentu saja, guru dan sekolah juga dapat menerima saran, kritik, dan masukan dengan rendah hati dan sopan.Dengan melakukan dan menerapkan kondisi di atas, ada situasi yang harus dipahami oleh semua orang.Hal ini terjadi bukan karena guru, pendidik, dan sekolah telah melakukan hal yang benar, atau sebaliknya, orang tua tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh sekolah dalam proses penanaman nilai-nilai moral pada peserta didik.Berdasarkan penjelasan di atas, jelas bahwa semua poin yang disebutkan sebelumnya adalah inti dari retrospeksi manifestasi dalam Pendidikan Karakter.Arti dan tujuan dari retrospeksi pendidikan karakter adalah iterasi incremental atau pengulangan apa yang telah dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai solusi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.Hal ini berasal dari fakta bahwa sistem saat ini dalam pendidikan nasional sebenarnya sudah baik.Apa yang perlu dipertimbangkan adalah penambahan hal-hal baru untuk menjawab masalah baru.Oleh karena itu, retrospeksi menjadi dorongan dan perlu segera diterapkan karena ini juga merupakan sikap rendah hati dan karakter untuk menerima berbagai masukan untuk kepentingan semua pihak, yaitu sekolah, orang tua, dan siswa yang berkumpul bersama.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan karakter, diperlukan prinsip, rencana, dan retrospeksi pendidikan karakter agar sistem yang ada dapat berkembang dan menjadi lebih baik. Retrospeksi merupakan sikap rendah hati dan karakter untuk menerima berbagai masukan dari semua pihak, yaitu sekolah, orang tua, dan siswa. Dengan demikian, dapat dilakukan perbaikan dan pengembangan sistem yang ada di sekolah untuk berjalan dengan baik. Selain itu, diperlukan pendekatan yang holistik dalam pendidikan karakter, yaitu tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik. Pendekatan ini akan lebih bermanfaat bagi siswa dalam memiliki sikap yang teguh terhadap situasi dan kondisi. Pendidikan karakter harus didukung oleh semua pihak, termasuk orang tua dan lingkungan di mana siswa tinggal dan berinteraksi. Ada tiga hal sederhana dalam proses adopsi pendidikan karakter di luar kelas, yaitu membawa siswa ke sekolah dengan fasilitas yang disediakan sekolah, program masuk sekolah dimulai pukul 6 pagi, dan program menyambut kedatangan siswa. Selain itu, ada program purifikasi diri pada hari Jumat, program makan bersama, dan program pengembangan diri. Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk manusia utuh. Manusia yang memiliki karakter baik adalah manusia yang memiliki kecerdasan, kehendak yang kuat, dan perasaan yang luas untuk generasi berikutnya. Karakter harus dinilai dari akumulasi berbagai sifat yang membentuk kepribadian seseorang. Proses implementasi pendidikan karakter dimulai dari individu. Untuk mereka yang dapat menerima proses belajar dengan tulus, akan mudah membentuk karakter yang baik. Adopsi pendidikan karakter akan didukung oleh semua hal dan aspek yang saling bersinergi, termasuk guru, lingkungan, dan anggota sekolah lainnya. Retrospeksi pendidikan karakter bertujuan untuk melihat, meninjau, dan mengevaluasi implementasi pendidikan karakter. Proses ini memiliki karakteristik dinamis yang berulang dengan penambahan solusi untuk menjawab semua masalah yang ada (iteratif incremental). Semakin maju dan maju sebuah era, ilmu pengetahuan juga akan berkembang. Dalam menyampaikan nilai-nilai karakter, tidak cukup hanya dengan memberikan tindakan atau contoh. Pemberian contoh terbukti memiliki dampak yang baik pada siswa secara keseluruhan, tetapi masih belum cukup. Apa yang harus dilakukan oleh pendidik selanjutnya adalah memperkuat nilai-nilai yang diterima oleh siswa, terutama pada aspek emosional, agar siswa dapat memahami nilai-nilai secara holistik. Melalui proses internalisasi dan personalisasi pada tahap pengalaman belajar intervensi, siswa akan menerima nilai-nilai moral. Habituasi dalam proses belajar tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga lebih baik jika ada habituasi yang dilakukan dan didukung oleh sekolah di lingkungan sekolah. Ada upaya untuk membentuk budaya sekolah yang mendukung penanaman nilai-nilai karakter yang disampaikan secara utuh. Dalam mengembangkan budaya di sekolah, dilakukan aktivitas yang diarahkan pada pengembangan diri, termasuk aktivitas spontan, aktivitas wajib, aktivitas contoh, dan aktivitas kondisioning. Aktivitas wajib yang telah dilakukan di beberapa sekolah di Indonesia, antara lain upacara bendera, berdoa setiap kali mulai dan selesai kelas, kegiatan bakti sosial, pengurus kelas, menabung, dan antre sebelum masuk kelas. Kemudian, ada aktivitas spontan, yaitu aktivitas mengunjungi siswa lain yang sakit atau terdampak bencana dan mengumpulkan sumbangan untuk seseorang yang terdampak bencana. Budaya positif ini harus dipertahankan dan ditingkatkan. Tentu saja, guru dan sekolah juga dapat menerima saran, kritik, dan masukan dengan rendah hati dan sopan.

  1. INTERNALISASI NILAI-NILAI MORALITAS DAN KESANTUNAN PADA ANAK USIA DINI | Bakhtiyar | Journal of Urban... journal.uwks.ac.id/index.php/sosiologi/article/view/565INTERNALISASI NILAI NILAI MORALITAS DAN KESANTUNAN PADA ANAK USIA DINI Bakhtiyar Journal of Urban journal uwks ac index php sosiologi article view 565
  2. One moment, please.... one moment please wait request verified ojs.fkip.ummetro.ac.id/index.php/ekonomi/article/view/141One moment please one moment please wait request verified ojs fkip ummetro ac index php ekonomi article view 141
Read online
File size740.65 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test