UNISSULAUNISSULA

International Conference on Education, Technology, and Social SciencesInternational Conference on Education, Technology, and Social Sciences

Penelitian ini menguji penggunaan metafora interpersonal dalam percakapan guru di Taman Kanak-Kanak Panca Budi di Medan, melalui perspektif Linguistik Fungsional Sistemik (SFL). Penelitian ini berfokus pada bagaimana guru menggunakan metafora interpersonal untuk membentuk komunikasi kelas, membimbing interaksi, dan meningkatkan keterlibatan siswa. Data dikumpulkan melalui observasi kelas dan rekaman audio, diikuti dengan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru secara strategis menggunakan metafora interpersonal untuk mempromosikan kolaborasi, menegaskan otoritas, dan mendorong partisipasi siswa, menciptakan lingkungan kelas yang lebih dinamis dan inklusif. Penelitian ini menyelidiki penggunaan makna interpersonal dalam percakapan guru dalam kelas taman kanak-kanak, dengan fokus pada berbagai bentuk suasana hati dalam ucapan deklaratif, imperatif, dan interogatif. Penelitian ini menganalisis ucapan guru, menyoroti frekuensi dan dampak pernyataan, perintah, dan pertanyaan dalam membentuk interaksi kelas. Dalam data ini, terdapat lima contoh pengkodean metaforis, terdapat empat pengkodean metaforis dari perintah yang dieksekusi dalam suasana hati interogatif dan satu pengkodean metaforis dari pernyataan yang dieksekusi dalam suasana hati imperatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya komunikasi guru terutama berfokus pada penyediaan instruksi yang jelas dan langsung. Namun, hal ini juga menunjukkan bahwa guru dapat menggunakan bahasa metaforis dalam interaksi mereka.

Penelitian yang dilakukan di Taman Kanak-Kanak Panca Budi di Medan bertujuan untuk menginvestigasi berbagai jenis ujaran yang digunakan oleh guru dalam interaksi kelas, dengan fokus khusus pada frekuensi dan penggunaan berbagai bentuk ujaran, seperti pernyataan, perintah, pertanyaan, dan ujaran tidak langsung.Selain itu, penelitian ini juga menempatkan perhatian khusus pada penggunaan metafora interpersonal, yang berfungsi untuk memperjelas atau menekankan ide-ide tertentu dengan cara yang meningkatkan komunikasi.Hasil penelitian mengungkapkan bahwa perintah adalah bentuk ujaran yang paling sering digunakan, dengan 58 kejadian.Ini diikuti oleh pertanyaan, yang muncul 38 kali, dan pernyataan, yang dibuat 35 kali.Penggunaan metafora interpersonal yang terbatas menunjukkan bahwa gaya komunikasi guru lebih langsung dan kurang fleksibel, yang berpotensi membatasi cara siswa berinteraksi dengan guru dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.Oleh karena itu, penting bagi guru untuk meningkatkan kemampuan komunikasi mereka dengan memasukkan bahasa tidak langsung dan metafora interpersonal ke dalam interaksi kelas.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana penggunaan metafora interpersonal dapat ditingkatkan dalam konteks kelas taman kanak-kanak. Hal ini dapat melibatkan pengembangan program pelatihan guru yang berfokus pada penggunaan bahasa metaforis untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa. Kedua, penelitian dapat menyelidiki bagaimana karakteristik siswa, seperti latar belakang bahasa dan gaya belajar, memengaruhi efektivitas penggunaan metafora interpersonal. Dengan memahami faktor-faktor ini, guru dapat menyesuaikan strategi komunikasi mereka untuk memenuhi kebutuhan individu siswa. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk membandingkan penggunaan metafora interpersonal dalam berbagai konteks budaya dan pendidikan. Hal ini dapat memberikan wawasan tentang bagaimana norma-norma budaya memengaruhi gaya komunikasi guru dan bagaimana metafora interpersonal dapat digunakan untuk menjembatani kesenjangan budaya dalam kelas.

Read online
File size239.4 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test