AKPERAKPER

Jurnal Wacana KesehatanJurnal Wacana Kesehatan

Salah satu masalah Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) adalah HIV. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat mengalami cemas dan tekanan psikologis yang disebabkan oleh reaksi terhadap diagnosis (ketakutan akan masa depan, kematian), stigma dan diskriminasi sosial, ketidakpastian hidup dengan penyakit kronis, beban pengobatan seumur hidup, perubahan biologis akibat virus pada otak, serta pengalaman hidup negatif dan isolasi diri; semua ini bisa memicu depresi, gangguan tidur, dan masalah mental lain yang memengaruhi kualitas hidup. Perawat mengurangi kecemasan pasien melalui pendekatan holistik yang mencakup komunikasi terapeutik dengan mendengarkan aktif, empati, memberi informasi jelas, intervensi fisik (teknik relaksasi, obat, menjaga kebersihan tidur), dan dukungan psikososial (menggali pikiran irasional, distraksi dengan musik/terapi bermain) agar pasien merasa aman, dipahami, dan mampu mengatasi ketakutannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kecemasan pasien HIV dan keluarga dalam menjalani terapi di Puskesmas Gedung Surian tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian sebanyak 38 responden yang terdiri dari pasien HIV dan keluarga, dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner komunikasi terapeutik dan tingkat kecemasan, serta dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia lansia (42,1%), berjenis kelamin perempuan (71,1%), dan berpendidikan menengah (52,6%). Sebagian besar komunikasi terapeutik perawat berada pada kategori baik (73,7%), sedangkan tingkat kecemasan pasien mayoritas ringan (44,7%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value = 0,010 (<0,05) yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kecemasan pasien HIV dan keluarga. Kesimpulannya, semakin baik komunikasi terapeutik perawat, maka tingkat kecemasan pasien dan keluarga dalam menjalani terapi semakin rendah.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang Hubungan komunikasi trapeutik perawat dengan kecemasan pasien HIV dan keluarga dalam menjalani terapi di Puskesmas Gedung Surian tahun 2025, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden berusia lansia dan berjenis kelamin Perempuan yang berpendidikan menengah.Sebagian besar responden menyatakan komunikasi trapeutik perawat baik dan memiliki tingkat kecemasan ringan.Terdapat hubungan komunikasi trapeutik perawat dengan kecemasan pasien HIV dan keluarga dalam menjalani terapi di Puskesmas Gedung Surian tahun 2025.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi komparatif antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kepatuhan pasien HIV dalam menjalani terapi ARV. Penelitian ini dapat dilakukan dengan desain penelitian quasi-eksperimental, di mana kelompok perawat dengan komunikasi terapeutik yang baik dibandingkan dengan kelompok perawat dengan komunikasi terapeutik kurang baik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris tentang dampak komunikasi terapeutik perawat terhadap kepatuhan pasien HIV dalam menjalani terapi, serta memberikan rekomendasi praktis bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan kualitas asuhan keperawatan bagi pasien HIV. Selain itu, penelitian lanjutan juga dapat fokus pada aspek dukungan keluarga dalam menghadapi kecemasan pasien HIV. Studi kualitatif dapat dilakukan untuk mengeksplorasi pengalaman keluarga dalam memberikan dukungan emosional dan psikososial kepada pasien HIV, serta mengidentifikasi strategi komunikasi yang efektif dalam mengurangi kecemasan keluarga. Hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan bagi tenaga kesehatan dan keluarga dalam meningkatkan kualitas hidup pasien HIV dan keluarga.

Read online
File size379.31 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test