IPBIPB

Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management)Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management)

Pariwisata berkontribusi signifikan terhadap ekonomi Indonesia tetapi menimbulkan tantangan lingkungan, khususnya perubahan iklim. Taman Margasatwa Ragunan, sebuah situs pariwisata perkotaan, menghadapi masalah keberlanjutan, dengan pengelolaan gajah diidentifikasi sebagai sumber emisi karbon utama karena asupan makanan mereka yang tinggi. Dalam perkembangannya, pariwisata perkotaan perlu dikendalikan dan dirancang dengan baik agar berkelanjutan. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dampak dan menghitung emisi karbon yang dihasilkan oleh pengelolaan gajah. Gajah dipilih untuk penelitian ini karena mereka mengonsumsi lebih banyak makanan dan menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi dibandingkan hewan lain di kebun binatang. Penilaian Daur Hidup (LCA) digunakan untuk mengevaluasi dampak lingkungan secara kuantitatif. Penelitian ini dilakukan menggunakan LCA dalam batasan gate-to-gate. Penelitian dimulai dengan observasi Taman Margasatwa Ragunan untuk mengidentifikasi komponen input-proses-output dalam pengelolaan gajah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan gajah di Taman Margasatwa Ragunan menghasilkan jejak karbon sebesar 4,62 kg CO₂-eq per unit kotoran gajah, dengan titik panas emisi gas rumah kaca berasal dari pakan gajah, khususnya rumput gajah. Temuan ini menekankan perlunya pengelolaan pakan yang berkelanjutan untuk mengurangi emisi di kebun binatang perkotaan.

Pengelolaan gajah berpotensi menghasilkan jejak karbon yang berkontribusi pada peningkatan konsentrasi gas rumah kaca global.Hasil analisis Penilaian Daur Hidup (LCA) menunjukkan bahwa satu unit gajah menghasilkan jejak karbon sebesar 4,62 kg CO2-eq per kotoran gajah, dengan pakan rumput gajah menjadi titik panas emisi gas rumah kaca utama.Oleh karena itu, mitigasi emisi difokuskan pada pengelolaan pakan gajah yang berkelanjutan, penggunaan energi yang efisien, pengurangan limbah, serta transportasi yang ramah lingkungan selama pemeliharaan gajah.

Untuk penelitian lanjutan, sangat dianjurkan untuk mengeksplorasi secara mendalam inovasi pakan gajah yang berkelanjutan dan rendah karbon. Studi dapat menyelidiki kelayakan penggunaan pakan alternatif seperti budidaya hidroponik atau pengembangan sumber pakan terbarukan yang dapat ditanam di dalam atau sangat dekat dengan area kebun binatang, tidak hanya sekadar pakan lokal, guna meminimalkan emisi dari transportasi dan proses produksi. Tujuan utamanya adalah menemukan solusi pakan yang memiliki jejak karbon minimal dari hulu ke hilir, memastikan keberlanjutan jangka panjang. Selain itu, cakupan penilaian daur hidup (LCA) yang saat ini terbatas gate-to-gate perlu diperluas secara komprehensif. Penelitian selanjutnya harus meninjau seluruh siklus hidup pengelolaan gajah, mencakup aspek-aspek penting seperti pengadaan dan perawatan medis seumur hidup gajah, konsumsi air dan listrik di seluruh fasilitas pendukung kebun binatang, serta dampak lingkungan dari kunjungan wisatawan yang berinteraksi langsung dengan gajah. Pendekatan holistik ini akan menghasilkan pemahaman yang jauh lebih akurat tentang total jejak karbon dan dampak lingkungan keseluruhan, mengidentifikasi titik panas emisi yang mungkin terabaikan. Terakhir, sangat disarankan untuk melakukan studi kelayakan menyeluruh tentang pemanfaatan kotoran gajah secara inovatif, melampaui sekadar potensi biogas. Ini dapat mencakup analisis teknis dan ekonomi dari berbagai metode konversi kotoran menjadi produk bernilai tambah tinggi, seperti pupuk organik, bahan bakar padat terbarukan, atau bahkan bahan konstruksi ramah lingkungan. Penelitian ini akan membantu mengidentifikasi potensi nyata kotoran gajah sebagai sumber daya berharga dalam model ekonomi sirkular untuk kebun binatang, sekaligus berkontribusi pada pengurangan emisi dan biaya operasional secara signifikan.

  1. Carbon Footprint of Elephant Mammal Management in Taman Margasatwa Ragunan Using Life Cycle Assessment... journal.ipb.ac.id/jpsl/article/view/58171Carbon Footprint of Elephant Mammal Management in Taman Margasatwa Ragunan Using Life Cycle Assessment journal ipb ac jpsl article view 58171
  2. JEJAK KARBON KONSUMSI LPG DAN LISTRIK PADA AKTIVITAS RUMAH TANGGA DI KOTA DENPASAR, BALI | ECOTROPHIC... doi.org/10.24843/EJES.2016.v10.i01.p11JEJAK KARBON KONSUMSI LPG DAN LISTRIK PADA AKTIVITAS RUMAH TANGGA DI KOTA DENPASAR BALI ECOTROPHIC doi 10 24843 EJES 2016 v10 i01 p11
  3. Impacts of European livestock production: nitrogen, sulphur, phosphorus and greenhouse gas emissions,... doi.org/10.1088/1748-9326/10/11/115004Impacts of European livestock production nitrogen sulphur phosphorus and greenhouse gas emissions doi 10 1088 1748 9326 10 11 115004
  4. Daily Activity of Elephant Allomothers (Elephas maximus sumatranus) in Tangkahan Conservation Response... iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/305/1/012090Daily Activity of Elephant Allomothers Elephas maximus sumatranus in Tangkahan Conservation Response iopscience iop article 10 1088 1755 1315 305 1 012090
Read online
File size691.93 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test