UMBUMB

SINERGISINERGI

Meskipun penerapan Lean Manufacturing (LM) telah meluas, efektivitasnya di industri makanan masih kurang dieksplorasi, terutama mengenai integrasi Sistem Kualitas (QS). Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan penempatan QS dan strategi implementasi LM di industri makanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan komparatif, menganalisis data empiris dari empat perusahaan pengolahan makanan di Indonesia selama enam bulan, dengan metode kualitatif (wawancara ahli, analisis dokumen) dan analisis kuantitatif. Metode Response Surface Methodology (RSM) dengan desain Box-Behnken diterapkan untuk optimasi, sedangkan Principal Component Analysis (PCA) mengidentifikasi variabel kunci yang mempengaruhi kesuksesan Lean Manufacturing. Dua strategi implementasi dibandingkan: implementasi bertahap dengan Sistem Kualitas yang terpisah (Perusahaan A dan B) dan implementasi bersamaan dengan Sistem Kualitas yang terintegrasi (Perusahaan C dan D). Temuan menunjukkan bahwa Perusahaan A mencapai kinerja tertinggi, dengan 88% di 5S dan 85% di Just-In-Time (JIT), diikuti oleh Perusahaan B dengan 80% di JIT dan 75% di 5S. Sebaliknya, Perusahaan C dan D menunjukkan kinerja yang lebih rendah. Hasil PCA menunjukkan bahwa PC1 (80,40%) terkait dengan pengiriman tepat waktu dan pertumbuhan penjualan, sedangkan PC2 (14,47%) terkait dengan faktor penolakan. Perusahaan A dan B unggul di PC1, sedangkan Perusahaan C dan D lebih dominan di PC2. Temuan ini menyarankan bahwa implementasi bertahap alat LM lebih efektif daripada penerapan bersamaan. Penelitian ini tidak hanya mengatasi kesenjangan kritis dalam literatur, tetapi juga memberikan wawasan praktis bagi praktisi industri makanan yang ingin meningkatkan efisiensi operasional melalui Lean Manufacturing.

Perusahaan A menunjukkan kinerja terbaik dalam hal 5S (88%) dan JIT (85%), dengan Perusahaan B berada di posisi kedua dengan 80% untuk JIT dan 75% untuk 5S.Perusahaan C dan D, di sisi lain, menunjukkan tingkat kinerja yang lebih buruk.Temuan analisis Principal Component (PCA) menunjukkan bahwa PC1 (80,40%) sebagian besar terkait dengan pertumbuhan penjualan dan pengiriman tepat waktu, sedangkan PC2 (14,47%) berfokus pada kriteria penolakan.Sementara Perusahaan C dan D lebih menonjol di PC2, Perusahaan A dan B lebih baik di PC1.Hasil ini menunjukkan bahwa mengadopsi semua alat Lean Manufacturing (LM) sekaligus tidak seefektif menggunakannya secara bertahap.Metode ini memungkinkan kontrol yang lebih baik terhadap faktor kinerja dan penyesuaian dengan kebutuhan operasional khusus.Saran untuk penelitian lebih lanjut adalah meningkatkan jumlah sampel penelitian, kemudian menganalisisnya menggunakan Structural Equation Model Partial Least Square (SEM-PLS) untuk menekankan pengaruh variabel LM (f2) dan nilai prediktif LM terhadap QS (Q2).

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar perusahaan makanan mempertimbangkan pendekatan bertahap dalam menerapkan Lean Manufacturing, terutama di konteks di mana sistem kualitas sangat penting. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi dampak jangka panjang strategi ini terhadap kinerja operasional. Hasil perbandingan tinjauan literatur dengan studi implementasi LM di industri makanan menunjukkan hasil yang sama, yaitu QS bukan penghalang dalam menerapkan konsep LM. Perusahaan makanan harus mampu memposisikan QS secara terpisah dari konsep LM yang sudah dikenal. Implementasi LM secara bertahap akan membantu perusahaan mengevaluasi alat LM yang sesuai yang dapat dioptimalkan dalam kondisi perusahaan. Selain itu, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk menganalisis pengaruh variabel LM dan nilai prediktif LM terhadap QS menggunakan Structural Equation Model Partial Least Square (SEM-PLS).

  1. Positioning of quality systems in lean manufacturing: integrated approach vs independent implementation... doi.org/10.22441/sinergi.2025.3.013Positioning of quality systems in lean manufacturing integrated approach vs independent implementation doi 10 22441 sinergi 2025 3 013
Read online
File size801.48 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test