ALJAMIAHALJAMIAH

Al-Jami'ah: Journal of Islamic StudiesAl-Jami'ah: Journal of Islamic Studies

Tulisan ini membahas narasi Islam intoleran di dua kota, Solo dan Yogyakarta, pasca rezim Soeharto. Selain itu juga menjelaskan sejumlah aksi intoleran dan kompleksitas faktor-faktor yang berkelindan didalam peristiwa tersebut. Tulisan ini mengajukan argumen bahwa Islam intoleran mempunyai beragam bentuk, mulai dari ideologis, instrumentalis hingga simbolis. Meskipun demikian, kategori tersebut tidak bersifat kaku dan permanen, tetapi terkadang bersifat saling overlap satu sama lainnya. Ada kemungkinan juga bentuk intoleran berubah seiring dengan perubahan waktu dan kondisi. Kajian ini berdasarkan pada studi lapangan di dua kota pada rentang waktu 2014 – 2016. Secara metodologi kajian ini menggunakan pendekatan Extended Cased Method (ECM). Data dikumpulkan melalui serangkaian wawancara mendalam dan observasi partisipatif dengan didukung data sekunder dari arsip daerah dan sejumlah media surat kabar lokal.

Narasi dari Yogyakarta dan Solo telah memberikan bukti bahwa struktur hubungan kekuasaan memiliki peran signifikan dalam kebangkitan intoleransi Islamis di kedua kota.Perbedaan trajektori sejarah dan politik di kedua kota membentuk perbedaan bentuk jaringan, ekspresi, dan hubungan kontroversial antara Islamis dan nasionalis.Artikel ini berpendapat bahwa intoleransi Islamis memiliki bentuk yang beragam dan dinamis.Intoleransi Islamis dapat muncul dalam bentuk ideologis, instrumental, dan simbolis.Harus ditekankan lagi bahwa kategorisasi ini tidak jelas dan kaku karena ketiga bentuk intoleransi ini mungkin tumpang tindih satu sama lain pada peristiwa dan kesempatan yang berbeda.Mereka juga dapat bergeser dari satu dimensi ke dimensi lain mengikuti dinamika yang berubah baik di tingkat lokal, nasional, atau global.Ketiga bentuk intoleransi ini berkembang di ruang sosial-politik yang disengketakan dan terbatas.Mereka bersaing satu sama lain dalam menangkap makna, identitas, simbolisme, dan sumber daya politik-ekonomi meskipun ekspresi dan kepentingan mereka terikat dan saling terkait secara kompleks.Seperti yang dibahas sepanjang artikel ini, dalam dinamika praktik sosial dan politik di tingkat lokal, Islamis dan nasionalis yang bertentangan mungkin terlibat dalam momen artikulasi tertentu dan tidak terlibat dalam yang lain.

Berdasarkan temuan penelitian ini, saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: Pertama, perlu dilakukan analisis lebih mendalam tentang bagaimana dinamika global, nasional, dan lokal saling berinteraksi dan mempengaruhi bentuk intoleransi di Yogyakarta dan Solo. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana konflik geopolitik antara Arab Saudi dan Iran, serta dinamika politik di Timur Tengah, memengaruhi sentimen anti-Syiah di Indonesia. Kedua, penelitian dapat berfokus pada bagaimana intoleransi ideologis, khususnya anti-komunisme, telah berevolusi dan tetap relevan di Indonesia pasca-Suharto. Bagaimana narasi anti-komunisme digunakan oleh Islamis untuk memperkuat identitas kelompok dan memenangkan dukungan politik? Ketiga, penelitian dapat menyelidiki lebih lanjut bagaimana intoleransi instrumental, seperti dalam persaingan kontrol ekonomi dan politik, telah membentuk lanskap sosial dan politik di kedua kota. Bagaimana kelompok Islamis dan nasionalis memanfaatkan intoleransi sebagai alat untuk meraih keuntungan ekonomi dan politik?.

  1. DOI Name 10.17813 Values. doi name values index type timestamp data hs serv 16z crossref desc 43z mobilization... doi.org/10.17813DOI Name 10 17813 Values doi name values index type timestamp data hs serv 16z crossref desc 43z mobilization doi 10 17813
  2. A Tale of Two Royal Cities: The Narratives of Islamists' Intolerance in Yogyakarta and Solo | Azca... doi.org/10.14421/ajis.2019.571.25-50A Tale of Two Royal Cities The Narratives of Islamists Intolerance in Yogyakarta and Solo Azca doi 10 14421 ajis 2019 571 25 50
Read online
File size622.97 KB
Pages26
DMCAReport

Related /

ads-block-test