UM SURABAYAUM SURABAYA

AGREGATAGREGAT

Penilaian ulang integritas struktural bangunan beton bertulang pasca-kebakaran merupakan langkah krusial untuk menjamin keberlanjutan fungsi pelayanan kesehatan. Penelitian ini mengevaluasi kinerja struktural sebuah bangunan rumah sakit bertingkat yang mengalami kerusakan signifikan akibat kebakaran, dengan mengintegrasikan pengujian tak merusak menggunakan rebound hammer dan pemodelan numerik berbasis elemen hingga pada ETABS. Hasil pengujian menunjukkan adanya variasi kekuatan beton yang mencolok antar elemen struktur: kolom memiliki kekuatan rata-rata 25.95 MPa, balok 22.51 MPa, sedangkan pelat lantai menurun drastis pada lantai yang terpapar api, dengan nilai terendah 11.82 MPa hingga tertinggi 51.42 MPa pada lantai yang tidak terdampak. Pemodelan struktur dengan parameter degradasi tersebut memperlihatkan bahwa tegangan kolom masih berada dalam batas aman, namun 69% pelat lantai pada lantai dua dan sebagian balok lantai atas melampaui batas tegangan izin. Oleh karena itu, strategi rehabilitasi diprioritaskan pada penguatan pelat lantai dan peningkatan kapasitas balok, sementara kolom tidak memerlukan penggantian menyeluruh. Pendekatan ini memungkinkan optimasi biaya dan waktu pemulihan tanpa mengurangi keselamatan struktural.

Penelitian ini berhasil mendemonstrasikan efektivitas integrasi antara pengujian non-destruktif dan pemodelan komputasional dalam evaluasi pasca-kebakaran pada bangunan rumah sakit berbahan beton bertulang.Pendekatan gabungan tersebut memberikan pemahaman menyeluruh yang mendukung pengambilan keputusan cepat dan perencanaan rehabilitasi berbasis bukti.Hasil pengujian rebound hammer mengungkap variasi spasial yang mencolok pada mutu beton residual, dengan kekuatan rata-rata sebesar 25.51 MPa pada balok, serta variasi ekstrem pada pelat lantai, mulai dari 11.82 MPa pada lantai dua yang terpapar panas intens hingga 51.42 MPa pada lantai atas yang relatif terlindungi.Rentang penurunan mutu hingga 77% pada area paling terdampak menunjukkan adanya konsentrasi panas yang terlokalisasi pada lantai dua, sejalan dengan pola kebakaran terkompartemen yang membatasi rambatan api secara vertikal.Analisis ETABS yang mengadopsi variasi mutu material secara spasial memperlihatkan hierarki kinerja struktural pada kondisi batas layanan.Kolom menunjukkan kinerja paling memadai, dengan tegangan tekan maksimum hanya 69% dari batas izin—mengonfirmasi stabilitas sistem penahan beban vertikal.Sebaliknya, pelat lantai menjadi elemen yang paling terdampak, di mana 69% panel lantai dua melampaui batas tekan yang diizinkan.Balok menempati tingkat kerusakan menengah, dengan 26–36% elemen pada lantai atas mengalami overstress lentur, meskipun kapasitas gesernya tetap aman di seluruh tingkat.Temuan ini menjadi dasar penetapan prioritas rehabilitasi.(1) perbaikan segera pada sebelas panel pelat lantai dua yang mengalami overstress berat, (2) perkuatan lokal pada panel F2 dan F6 di lantai tiga, dan (3) peningkatan kapasitas lentur pada balok-balok primer yang menerima beban tributari lebih besar.Karena seluruh kolom masih dalam kondisi aman, upaya rehabilitasi dapat difokuskan pada sistem pelat dan balok tanpa perlu rekonstruksi besar, sehingga memberikan efisiensi biaya yang signifikan serta mempercepat pemulihan operasional fasilitas kesehatan.Dari sisi metodologis, hasil penelitian menegaskan bahwa kombinasi pengujian non-destruktif dan analisis komputasional merupakan pendekatan yang kuat dan dapat diandalkan untuk menilai kondisi pasca-kebakaran pada bangunan beton bertulang.Pengujian rebound hammer menyediakan data mutu material yang spesifik untuk masing-masing elemen, sementara pemodelan ETABS mampu memetakan distribusi tegangan secara detail dan mengidentifikasi area kritis dengan presisi tinggi.Integrasi kedua teknik ini menghasilkan kerangka evaluasi yang komprehensif, efisien, dan berbasis bukti untuk merumuskan strategi rehabilitasi bangunan pasca-kebakaran.

Berdasarkan hasil penelitian, saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: . . 1. Mengembangkan metode pengujian non-destruktif yang lebih canggih dan akurat untuk mengevaluasi kondisi pasca-kebakaran pada bangunan beton bertulang. Metode ini dapat menggabungkan berbagai teknik pengujian, seperti pengujian gelombang ultrasonik, pengujian kecepatan gelombang ultrasonik (UPV), dan pengujian rebound hammer, untuk meningkatkan akurasi dan presisi dalam mengidentifikasi kerusakan struktural. . . 2. Meneliti dan mengembangkan strategi rehabilitasi yang lebih efisien dan efektif untuk bangunan fasilitas kesehatan yang terdampak kebakaran. Penelitian ini dapat berfokus pada pengembangan metode perkuatan dan penguatan struktur yang cepat, hemat biaya, dan dapat diterapkan dalam waktu singkat tanpa mengganggu operasional rumah sakit. . . 3. Melakukan studi komparatif antara berbagai metode pemodelan komputasional untuk evaluasi pasca-kebakaran, seperti ETABS, SAP2000, dan ABAQUS. Penelitian ini dapat mengeksplorasi kelebihan dan kekurangan masing-masing metode, serta mengembangkan panduan praktis untuk memilih metode pemodelan yang paling sesuai dengan karakteristik bangunan dan tingkat kerusakan yang dihadapi. . . Dengan menggabungkan saran-saran di atas, penelitian lanjutan dapat meningkatkan kemampuan evaluasi dan rehabilitasi bangunan fasilitas kesehatan pasca-kebakaran, sehingga menjamin keselamatan dan keberlanjutan fungsi pelayanan kesehatan.

Read online
File size768.13 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test