STAIMASWONOGIRISTAIMASWONOGIRI

Jurnal Al BasirahJurnal Al Basirah

Gunung Merapi merupakan kawasan berisiko tinggi akibat aktivitas vulkanik yang dinamis, sehingga masyarakat di sekitarnya membutuhkan pendidikan kebencanaan yang relevan dan berkelanjutan. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat literasi iklim di kalangan siswa dan komunitas lereng Gunung Merapi melalui model pembelajaran eco-kultural yang mengintegrasikan pengetahuan ekologis lokal seperti pranoto mongso, struktur ruang adat, ritus Merapi, dan peta risiko. Metode observasi partisipatif, wawancara tokoh adat, pemetaan partisipatif, serta analisis dokumen festival budaya dan mitigasi berbasis Masyarakat. Kegiatan dilakukan melalui penyusunan modul pembelajaran berbasis eko-kultural, lokakarya bersama guru dan pemuda, pembelajaran kelas, serta praktik lapangan berupa pemetaan risiko, observasi lingkungan, dan aksi konservasi. Hasil pelaksanaan menunjukkan skor rata-rata post-test meningkat sebesar 23,7% dibanding pre-test, diikuti penguatan sikap kewargaan ekologis dan partisipasi konservasi sebesar 72% siswa setelah program pembelajaran diterapkan. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi kearifan lokal dan data ilmiah dalam pembelajaran mampu menciptakan proses co-production of knowledge yang memperkuat literasi iklim, identitas ekologis lokal, dan ketahanan komunitas. Model eco-kultural Merapi memiliki implikasi strategis bagi pengembangan kurikulum pendidikan kebencanaan nasional, khususnya di kawasan rawan bencana yang memiliki warisan pengetahuan lokal yang kuat. Pendekatan eko-kultural terbukti efektif sebagai strategi pendidikan iklim yang kontekstual dan mendorong terbentuknya kewargaan ekologis. Model ini berpotensi direplikasi di komunitas rawan bencana lainnya di Indonesia untuk memperkuat ketahanan iklim berbasis budaya lokal.

Program pengabdian masyarakat berbasis eco‑kultural di lereng Gunung Merapi berhasil mengintegrasikan ilmu kebencanaan modern dengan pengetahuan ekologis lokal, sehingga meningkatkan literasi iklim, identitas ekologis, dan kewargaan ekologis siswa.Peningkatan skor post‑test sebesar 23,7 % dan keterlibatan ekologis sebesar 72 % menunjukkan efektivitas model dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana dan konservasi.Model ini memberikan kontribusi strategis bagi pengembangan kurikulum kebencanaan nasional dan dapat direplikasi di wilayah rawan bencana lain di Indonesia.

Penelitian lanjutan dapat menyelidiki dampak jangka panjang penerapan pembelajaran eco‑kultural terhadap perilaku dan kepedulian iklim siswa setelah mereka lulus dari pendidikan dasar, sehingga dapat menilai keberlanjutan perubahan sikap. Selanjutnya, perlu dilakukan studi komparatif untuk menguji skalabilitas model eco‑kultural di daerah vulkanik lain di Indonesia, dengan membandingkan hasil literasi iklim, partisipasi komunitas, dan efektivitas mitigasi bencana antar daerah. Selain itu, penelitian dapat mengeksplorasi integrasi teknologi digital seperti aplikasi mobile GIS dengan pengetahuan tradisional dalam proses pemetaan risiko, guna menilai apakah kombinasi tersebut meningkatkan akurasi data, partisipasi warga, dan kesiapsiagaan bencana secara keseluruhan. Semua penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang cara terbaik menggabungkan kearifan lokal, ilmu pengetahuan, dan teknologi modern untuk memperkuat ketahanan komunitas terhadap bencana.

Read online
File size282.69 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test