OPENGLOBALSCIOPENGLOBALSCI

Open Global Scientific JournalOpen Global Scientific Journal

Latar belakang: Aditif makanan merupakan komponen yang ditambahkan ke dalam makanan untuk mengubah atau memengaruhi bentuk, karakteristik, atau sifat produk makanan. Vanillin adalah salah satu rasa yang banyak digunakan dalam industri makanan, parfum, dan kosmetik. Vanillin alami diperoleh dari Vanilla planifolia melalui ekstraksi biji vanili, namun produksinya terbatas sehingga metode alternatif seperti sintesis kimia dan teknik bioteknologi semakin banyak digunakan. Curcumin yang berasal dari rizoma tanaman kunyit (Curcuma longa) dapat terdegradasi menjadi vanillin melalui proses degradasi. Tujuan & Metode: Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi proses degradasi curcumin menjadi vanillin dengan pelarut etanol pada suhu 50 °C, 60 °C, dan 70 °C. Parameter yang dianalisis meliputi perubahan warna menggunakan colorimetry, kadar curcumin menggunakan spektrofotometri, dan kadar vanillin menggunakan HPLC. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa peningkatan suhu perlakuan menyebabkan penurunan signifikan pada kadar curcumin serta peningkatan pada kadar vanillin. Suhu pemanasan memengaruhi kadar curcumin, meskipun tidak berpengaruh pada intensitas warna dan kadar vanillin yang terbentuk. Vanillin tidak terbentuk pada suhu 50 °C, 60 °C, dan 70 °C, kecuali pada suhu 60 °C terdapat pembentukan vanillin yang signifikan.

Peningkatan suhu perlakuan menurunkan kadar curcumin secara signifikan dan meningkatkan kadar vanillin.Suhu pemanasan memengaruhi kadar curcumin namun tidak memengaruhi intensitas warna maupun jumlah vanillin yang terbentuk.Pada suhu 50‑70 °C tidak terbentuk senyawa vanillin secara lengkap, namun pada 60 °C tercatat peningkatan signifikan kadar vanillin.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki pengaruh durasi pemanasan yang lebih beragam (misalnya 10‑120 menit) pada konversi curcumin menjadi vanillin untuk menentukan waktu optimal yang memaksimalkan hasil vanillin. Selain itu, kajian kuantitatif tentang rendemen vanillin yang diperoleh pada masing‑masing suhu dan durasi harus dilakukan dengan analisis statistik untuk mengevaluasi efisiensi proses. Penelitian dapat memperluas sumber bahan baku dengan menggunakan kunyit segar (rimpang) daripada curcumin murni, sehingga menilai efek matriks alami terhadap laju degradasi dan kualitas vanillin yang terbentuk. Untuk mengatasi keterbatasan penggunaan etanol sebagai pelarut, studi dapat membandingkan pelarut hijau lain seperti propanol atau pelarut berbasis air‑etanol dengan konsentrasi berbeda untuk menilai keamanan dan efisiensi produksi. Pendekatan kombinasi suhu dan katalis enzimatis, misalnya menggunakan peroksidase atau laccase, dapat dieksplorasi untuk mempercepat tahap konversi intermediat (ferulic acid, 4‑vinyl guaiacol) menjadi vanillin. Analisis profil senyawa samping melalui kromatografi massa (LC‑MS) dapat memberikan wawasan tentang mekanisme degradasi curcumin pada kondisi termal berbeda. Selanjutnya, skala pilot produksi dengan menggunakan reaktor kontinu harus diuji untuk menilai kelayakan industri dan konsistensi kualitas produk vanillin. Akhirnya, evaluasi sensori dan keamanan pangan vanillin yang dihasilkan dari proses ini penting untuk memastikan kesesuaian dengan regulasi makanan Indonesia.

  1. Profil Bahan Perisa Kritis Halal dalam Peraturan BPOM No. 13/2020 | Jurnal Mutu Pangan : Indonesian Journal... doi.org/10.29244/jmpi.2022.9.2.92Profil Bahan Perisa Kritis Halal dalam Peraturan BPOM No 13 2020 Jurnal Mutu Pangan Indonesian Journal doi 10 29244 jmpi 2022 9 2 92
Read online
File size518.96 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test