UMSUMS
Forum GeografiForum GeografiDi banyak negara berkembang, kabupaten otonom memiliki hak signifikan untuk membangun dan mengelola fasilitas pengumpulan sampah yang krusial dalam mengangkut sampah ke lokasi pembuangan akhir. Namun, keterbatasan anggaran sering kali membatasi hak-hak ini, terutama di tingkat komunitas, di mana kebutuhan pengelolaan sampah lebih mendesak. Mengingat semakin pentingnya dan munculnya isu-isu terkait sampah selama bertahun-tahun, penelitian ini mengatasi tantangan mendesak dalam penentuan lokasi fasilitas pengumpulan sampah padat rumah tangga dalam konteks wilayah otonom. Kami mengusulkan beberapa model lokasi-alokasi—yaitu P-median tertimbang sampah, P-median murni, P-center, P-dispersi, dan model distance gap—untuk mengoptimalkan penentuan lokasi fasilitas-fasilitas ini. Menggunakan data dari Kabupaten Karanganyar di Indonesia, kami menunjukkan bahwa model optimal untuk penentuan lokasi fasilitas bergantung pada tujuan spesifik inisiatif, seperti meminimalkan biaya transportasi atau memaksimalkan cakupan layanan. Temuan kami menggarisbawahi kebutuhan akan perencanaan yang lebih baik di sekitar fasilitas pengumpulan sampah berkapasitas tinggi, menekankan peran pentingnya dalam menangani permintaan pengelolaan sampah rumah tangga di masa depan di wilayah otonom. Studi ini menyediakan kerangka kerja bagi pembuat kebijakan untuk membuat keputusan yang tepat tentang penentuan lokasi fasilitas sampah dan mempromosikan praktik pengelolaan sampah berkelanjutan di lingkungan dengan sumber daya terbatas. Penyertaan lebih banyak wilayah otonom, berbagai skenario pertumbuhan populasi dan timbulan sampah, perspektif tambahan tentang pengelolaan sampah, pertimbangan lingkungan dan sosial, serta investigasi teknologi baru dalam pengelolaan sampah disarankan sebagai area untuk penelitian di masa depan.
Analisis menunjukkan bahwa model optimal untuk penentuan lokasi di wilayah otonom sangat bergantung pada tujuan pengelolaan sampah yang jelas, sehingga wilayah seperti Karanganyar harus memprioritaskan penetapan tujuan utama dan mengintegrasikan penentuan lokasi ke dalam strategi yang lebih luas untuk memastikan penerimaan pemangku kepentingan.Perbandingan data 2016 dan 2026 mengungkapkan bahwa lebih dari 40% fasilitas pengumpulan sampah (WCF) secara konsisten dipilih, menunjukkan kecenderungan fasilitas berkapasitas lebih besar seiring peningkatan volume sampah.Hal ini menekankan pentingnya mengantisipasi kebutuhan masa depan dan mengembangkan fasilitas berkapasitas tinggi untuk efisiensi pengelolaan sampah di wilayah otonom.
Penelitian ini telah membuka jalan bagi pemahaman yang lebih baik tentang optimasi fasilitas pengumpulan sampah rumah tangga di wilayah otonom. Namun, untuk mengembangkan kerangka kerja yang lebih komprehensif, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang dapat dieksplorasi. Pertama, akan sangat berharga untuk melakukan studi komparatif multi-regional yang menganalisis bagaimana model penentuan lokasi fasilitas optimal dan kinerjanya bervariasi di berbagai wilayah otonom di negara berkembang. Studi ini dapat mempertimbangkan konteks sosio-ekonomi, fitur geografis, dan kebijakan pengelolaan sampah lokal yang unik, sehingga dapat mengidentifikasi pola atau adaptasi model yang diperlukan untuk kondisi yang berbeda. Kedua, penting untuk memperkaya model lokasi-alokasi yang ada dengan mengintegrasikan faktor-faktor lingkungan dan sosial secara eksplisit sebagai kriteria optimasi. Pertanyaan penelitian dapat berfokus pada bagaimana dampak emisi, kualitas tanah dan air, serta persepsi masyarakat, keadilan spasial, dan potensi dampak kesehatan dapat diukur dan dimasukkan ke dalam model, serta bagaimana bobot relatif faktor-faktor ini memengaruhi penentuan lokasi fasilitas pengelolaan sampah yang paling berkelanjutan dan diterima masyarakat. Ketiga, mengingat penekanan pada penerimaan pemangku kepentingan, penelitian lebih lanjut dapat menyelidiki bagaimana proses partisipatif yang melibatkan masyarakat lokal, pemerintah daerah, dan sektor swasta dapat diimplementasikan secara efektif dalam fase perencanaan penentuan lokasi fasilitas sampah. Investigasi ini dapat mengeksplorasi bagaimana masukan dari berbagai perspektif ini dapat memengaruhi kriteria dan prioritas dalam model lokasi-alokasi, bukan hanya untuk memastikan efisiensi logistik tetapi juga untuk mencapai solusi yang diterima secara sosial dan adil. Melalui pendekatan ini, penelitian di masa depan dapat memberikan panduan yang lebih holistik dan praktis bagi para pembuat kebijakan dalam merancang sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
| File size | 755.03 KB |
| Pages | 12 |
| DMCA | Report |
Related /
JOURNAL STIAYAPPIMAKASSARJOURNAL STIAYAPPIMAKASSAR Efisiensi ini merupakan ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi sumber daya manusia dan biaya untuk mencapai hasil kebijakan yang dijalankan. c) Ketepatan,Efisiensi ini merupakan ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi sumber daya manusia dan biaya untuk mencapai hasil kebijakan yang dijalankan. c) Ketepatan,
STIMI BJMSTIMI BJM Program ini mengadopsi pendekatan holistik yang mencakup sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan. Tahap awal berfokus pada peningkatan kesadaran tentangProgram ini mengadopsi pendekatan holistik yang mencakup sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan. Tahap awal berfokus pada peningkatan kesadaran tentang
PDSIPDSI Temuan ini menunjukkan bahwa metode deep learning, terutama model berbasis EfficientNet, dapat efektif dalam mengenali berbagai jenis sampah dari dataTemuan ini menunjukkan bahwa metode deep learning, terutama model berbasis EfficientNet, dapat efektif dalam mengenali berbagai jenis sampah dari data
JOMPARNDJOMPARND Sampah nonorganik dapat didaur ulang menjadi kerajinan atau produk daur ulang, sedangkan sampah organik dapat diolah menjadi pakan ternak, biogas, danSampah nonorganik dapat didaur ulang menjadi kerajinan atau produk daur ulang, sedangkan sampah organik dapat diolah menjadi pakan ternak, biogas, dan
UNSERAUNSERA Hasil kegiatan ini menunjukkan peningkatan pemahaman siswa-siswi mengenai isu lingkungan sebagai salah satu isu global terutama mengenai masalah sampah.Hasil kegiatan ini menunjukkan peningkatan pemahaman siswa-siswi mengenai isu lingkungan sebagai salah satu isu global terutama mengenai masalah sampah.
UNSERAUNSERA Kegiatan ini berhasil memberikan solusi sederhana namun berdampak signifikan dalam penanganan sampah organik di Sekolah TAUD SAQU Insan Cerdas.melaluiKegiatan ini berhasil memberikan solusi sederhana namun berdampak signifikan dalam penanganan sampah organik di Sekolah TAUD SAQU Insan Cerdas.melalui
ITENASITENAS Adanya permasalahan tersebut maka penelitian ini diangkat bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan dan menganalisis kelayakan sistem serta unit pengelolaanAdanya permasalahan tersebut maka penelitian ini diangkat bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan dan menganalisis kelayakan sistem serta unit pengelolaan
UBTUBT Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk menumbuhkan karakter peduli lingkungan terhadap anak pada usia dini. Metode pelaksanaan kegiatan berupa observasiTujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk menumbuhkan karakter peduli lingkungan terhadap anak pada usia dini. Metode pelaksanaan kegiatan berupa observasi
Useful /
UIMUIM Masalah kemiskinan telah menjadi topik yang dibahas secara regional, nasional, dan internasional oleh pemerintah. Masalah kemiskinan menarik untuk didekatiMasalah kemiskinan telah menjadi topik yang dibahas secara regional, nasional, dan internasional oleh pemerintah. Masalah kemiskinan menarik untuk didekati
STIE TDNSTIE TDN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling dan melibatkan 96 responden pengguna Bibit. HasilPenelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling dan melibatkan 96 responden pengguna Bibit. Hasil
ITENASITENAS 8464(IRIrd) 1. 8894, with a coefficient of determination (R²) of 0. 4701. A polynomial analysis was used to examine the link between the IRI values from8464(IRIrd) 1. 8894, with a coefficient of determination (R²) of 0. 4701. A polynomial analysis was used to examine the link between the IRI values from
UPYUPY Data kemudian dianalisis secara kuantitatif untuk mengevaluasi tingkat kepuasan mahasiswa terhadap PBL dalam mata kuliah CAD 2D. Hasil penelitian ini menunjukkanData kemudian dianalisis secara kuantitatif untuk mengevaluasi tingkat kepuasan mahasiswa terhadap PBL dalam mata kuliah CAD 2D. Hasil penelitian ini menunjukkan