UWMYUWMY

AGROTECH : JURNAL ILMIAH TEKNOLOGI PERTANIANAGROTECH : JURNAL ILMIAH TEKNOLOGI PERTANIAN

Beberapa daerah memanfaatkan buah sukun sebagai bahan pangan dengan cara direbus, digoreng, atau diolah menjadi gaplek. Namun buah sukun memiliki peluang untuk diolah menjadi tepung sukun. Mie umumnya menggunakan bahan dasar dari tepung terigu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh kualitas substitusi tepung sukun pada tepung terigu dalam pembuatan mie, (2) tingkat kesukaan dan daya terima masyarakat terhadap kualitas mie sukun, (3) tingkat kandungan serat yang terdapat pada mie sukun. Teknik pengambilan sampel menggunakan angket dengan kriteria tertulis dan substitusi tepung sukun dengan 16 sampel panelis semi terlatih dan 60 panelis tidak terlatih. Tingkat kandungan serat menggunakan uji laboratorium dengan tiga kali percobaan di Laboratorium Chemix‑Pratama. Pembuatan mie sukun dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan kampung Gatak, Sumberagung, Jetis, Bantul. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) terdapat pengaruh substitusi tepung sukun terhadap kualitas mie, (2) hasil uji kesukaan masyarakat tertinggi pada mie sukun dengan persentase 15 %, (3) hasil uji laboratorium kandungan serat paling tinggi pada persentase 50 % (5,1597 g) dan paling rendah pada persentase 0 % (2,8268 g).

Penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung sukun mempengaruhi kualitas mie, dengan persentase 25 % memberikan kombinasi rasa, aroma, tekstur, dan warna terbaik.Tingkat kesukaan konsumen paling tinggi tercapai pada mie dengan 15 % substitusi tepung sukun.Kandungan serat kasar paling tinggi diperoleh pada mie dengan 50 % substitusi, mencapai rata‑rata 1,7199 g.

Penelitian selanjutnya dapat mengkaji bagaimana perlakuan enzimatis pada tepung sukun memodifikasi sifat gelatinisasi dan berkontribusi pada pembentukan jaringan gluten ketika dicampur dengan tepung terigu, sehingga dapat meningkatkan tekstur mie sukun terutama pada variasi mie kering. Selain itu, penambahan ekstrak anti‑oksidan alami, misalnya ekstrak daun katuk, bersama dengan tepung sukun dapat diuji untuk menilai peningkatan stabilitas oksidatif serta perpanjangan masa simpan baik pada mie basah maupun mie instan, sehingga menghasilkan produk yang lebih tahan lama tanpa mengorbankan kualitas sensorik. Selanjutnya, kombinasi tepung sukun dengan isolat protein kacang-kacangan dapat dieksplorasi untuk menghasilkan mie yang tidak hanya tinggi serat tetapi juga tinggi protein, dan kemudian dilakukan uji penerimaan konsumen serta analisis nilai gizi untuk menentukan potensi penerapan komersial. Dengan ketiga fokus penelitian ini, diharapkan dapat menghasilkan varian mie sukun yang lebih baik dari segi tekstur, keamanan pangan, dan nilai gizi, sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

  1. Vol. 1 No. 1 (2016): Agrotech: Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian | AGROTECH : JURNAL ILMIAH TEKNOLOGI... doi.org/10.37631/agrotech.v1i1Vol 1 No 1 2016 Agrotech Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian AGROTECH JURNAL ILMIAH TEKNOLOGI doi 10 37631 agrotech v1i1
  2. Pengaruh Substitusi Tepung Sukun Pada Pembuatan Mie Terhadap Sifat Sensoris Dan Kadar Seratnya | AGROTECH... doi.org/10.37631/agrotech.v7i2.2250Pengaruh Substitusi Tepung Sukun Pada Pembuatan Mie Terhadap Sifat Sensoris Dan Kadar Seratnya AGROTECH doi 10 37631 agrotech v7i2 2250
Read online
File size654.02 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test