STAIMUNSTAIMUN

TIME Journal: Transformation of Islamic Management and Education JournalTIME Journal: Transformation of Islamic Management and Education Journal

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan perbedaan teori pembelajaran pedagogik, andragogik, dan heutagogik. Teori heutagogik merupakan kontinuum antara pedagogi dan andragogi. Berdasarkan pemahaman tentang kontinuum PAH (Pedagogy‑Andragogy‑Heutagogy), kami ingin menilai relevansi teori pembelajaran PAH terhadap karakteristik guru pada abad ke‑21. Metode penelitian yang digunakan adalah tinjauan pustaka untuk mengidentifikasi konsep‑konsep yang terdapat dalam literatur terkait kontinuum PAH serta menilai kesesuaian teori tersebut dengan guru abad ke‑21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori pedagogik berfokus pada proses belajar yang berpusat pada guru dan tidak berpusat pada siswa. Teori andragogik menekankan bahwa untuk menjadi pembelajar aktif, siswa perlu secara mandiri merencanakan kebutuhan belajar mereka serta mengetahui cara memenuhinya sehingga merasa puas. Teori heutagogik menekankan otonomi penuh siswa dalam proses belajar di kelas dengan menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan. Pembelajaran pada abad ke‑21 menuntut inovasi sehingga pendidikan tidak membatasi pembelajar dalam memperluas pengetahuan; oleh karena itu, teori andragogi masih dianggap relevan untuk pembelajaran abad ke‑21, sedangkan heutagogi lebih cocok untuk pembelajaran pada pendidikan tinggi.

Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan abad ke‑21 menuntut pergeseran peran guru dari sumber pengetahuan tunggal menjadi fasilitator yang mendorong pembelajar aktif, mandiri, dan reflektif, dengan bergerak dari pedagogi yang berpusat pada guru menuju andragogi yang memberi otonomi, hingga heutagogi yang menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran penuh.Meskipun begitu, penelitian ini terbatas pada kajian konseptual tanpa data empiris mengenai implementasi ketiga pendekatan tersebut serta variasi karakteristik peserta didik, institusi, dan kesiapan guru.Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk menguji secara empiris penerapan pedagogi, andragogi, dan heutagogi melalui studi kualitatif maupun kuantitatif, mempertimbangkan konteks budaya dan kelembagaan agar model pembelajaran yang dikembangkan lebih aplikatif dan berkelanjutan.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana guru di sekolah menengah menerapkan teori pedagogi, andragogi, dan heutagogi dalam praktik sehari‑hari, dengan mengumpulkan data observasi kelas dan wawancara guru serta siswa. Penelitian kuantitatif dapat menguji pengaruh tingkat otonomi belajar yang diberikan oleh pendekatan heutagogi terhadap motivasi belajar dan pencapaian akademik siswa di perguruan tinggi. Studi komparatif lintas budaya dapat membandingkan efektivitas kontinuum PAH di negara dengan budaya pendidikan yang berbeda, misalnya antara Indonesia dan negara Barat, untuk mengidentifikasi faktor budaya yang memoderasi keberhasilan penerapan. Penelitian tindakan dapat merancang modul pelatihan guru yang mengintegrasikan prinsip andragogi dan heutagogi, kemudian mengevaluasi perubahan kompetensi guru serta dampaknya terhadap kepuasan belajar siswa. Analisis longitudinal dapat menelusuri perkembangan kemampuan belajar mandiri siswa selama tiga tahun setelah penerapan pendekatan PAH, guna menilai keberlanjutan efeknya. Penelitian mixed‑methods dapat mengeksplorasi hambatan institusional, seperti kebijakan kurikulum dan fasilitas teknologi, yang menghalangi implementasi heutagogi di sekolah dasar. Eksperimen desain pembelajaran dapat menguji apakah penggunaan teknologi immersive (VR/AR) meningkatkan efektivitas pendekatan heutagogi dalam menciptakan lingkungan belajar yang interaktif. Penelitian etnografi dapat menggali persepsi guru konservatif terhadap perubahan paradigma pembelajaran, untuk memahami resistensi dan strategi adaptasi yang mungkin. Akhirnya, studi meta‑analisis dapat mengkonsolidasikan temuan‑temuan sebelumnya tentang pedagogi, andragogi, dan heutagogi, sehingga menghasilkan kerangka kerja praktis bagi pembuat kebijakan pendidikan.

  1. The effect of principal's managerial competence and teacher discipline on teacher productivity |... doi.org/10.18844/cjes.v16i2.5634The effect of principals managerial competence and teacher discipline on teacher productivity doi 10 18844 cjes v16i2 5634
  2. On a Theory of Independent Study. theory independent study publication distance education perspectives... doi.org/10.4324/9781003033950-8On a Theory of Independent Study theory independent study publication distance education perspectives doi 10 4324 9781003033950 8
  3. Full article: Beyond content-focused professional development: powerful professional learning through... tandfonline.com/doi/full/10.1080/19415257.2020.1725904Full article Beyond content focused professional development powerful professional learning through tandfonline doi full 10 1080 19415257 2020 1725904
  4. The dynamic mix of heutagogy and technology: Preparing learners for lifelong learning - Blaschke - 2021... bera-journals.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/bjet.13105The dynamic mix of heutagogy and technology Preparing learners for lifelong learning Blaschke 2021 bera journals onlinelibrary wiley doi 10 1111 bjet 13105
  5. Paradigm Shift in Business Education: A Competence-Based Approach. paradigm shift business education... mdpi.com/2071-1050/12/4/1348Paradigm Shift in Business Education A Competence Based Approach paradigm shift business education mdpi 2071 1050 12 4 1348
Read online
File size282.96 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test