UNIVET BANTARAUNIVET BANTARA

Keraton: Journal of History Education and CultureKeraton: Journal of History Education and Culture

The origin and owner ceremony tradition Li Bali are the property of the tribe Power is taken from the highlands of the mountain areas Seminung / Lake Ranau, then this tradition brought by the power spread of riparian komering in Muaradua to go into the rural areas as well as in the village of Flat , Li Bali ceremony tradition is a tradition or custom series of activities undertaken by the Power to seek peace, and demand protection from spirits who inhabit the forest in time would dilakukanya forest clearing as a farmland. In this study the author uses descriptive qualitative method. This study shows that (1) Incidence ceremony tradition Li Bali due to the inclusion of tribal power in the village Datar who believe in ancestral spirits, (2) procession Li Bali consists of four stages, (3) With the aim of asking for peace, and protection against the spirit of the forest, offerings, spells and public opinion showed evidence of the trust Animism, and black chicken is believed capable of providing peace and can bring sustenance evidence Of the dynamism of confidance.

Latar belakang timbulnya tradisi upacara Li Bali di desa Datar ialah masuk dan berkembangnya suku Daya yang membawa kebiasaan percaya pada roh halus atau roh leluhur secara turun-temurun diyakini keberadaanya dan mengangangap hutan salah satu tempat tinggal roh leluhur, juga mengingat pada awalnya desa Datar merupakan hutan rimba cocok untuk dijadikan lahan pertanian menyebabkan pula semakin berkembangnya masyarakat yang menjalankan tradisi upacara Li Bali.Prosesi tradisi upacara Li Bali terdiri dari empat tahapan.(1) menentukan waktu dan tempat penyelenggaraan yaitu dilaksanakan sebelum hutan dibuka antara bulan Mei hingga Juli dan bertempat di tengah-tengah lahan yang akan di buka (2) mempersiapkan Pendekahan (sesajen) yaitu ayam hitam, daun sirih, buah pinang, kapur sirih, gambir, rokok daun nipah, tembakau, ketan hitam, daun pisang, takir, kemenyan, api, air bersih, air cendana, kayu cendana dan kelapa, (3) pelaksanaan Tradisi Upacara Li Bali, pelaksanaan tradisi upacara Li bali dilaksanakan apabila waktu dan tempat telah ditentukan serta sesajen sudah dipersiapkan dan dibantu oleh seorang tokoh adat (dukun/pawang) tuan rumah menyampaikan permintaanya terhadap roh leluhur penghuni hutan, dan ke (4) kegiatan akhir sebagai simbol telah terjalin hubungan damai antara tuan rumah dan roh leluhur maka diadakannya makan bersama sesajen yang dibawa di tepat pelaksanaan tradisi upacara Li Bali.Di lihat dari bukti pendekahan atau sesajen dan Mantra yang diucapkan untuk pemujaan terhadap roh-roh leluhur (Ratu Singgra Alam dan Pitu Blibator) dan pendapat masyarakat desa Datar tradisi upacara Li Bali adalah sebagai bukti peninggalan kepercayaa Animisme bagi masyarakat.Ayam hitam yang digunakan dalam sesajen tradisi upacara Li Bali salah satu bukti peninggalan kepercayaan Dinamisme karena masyarakat desa Datar menganggap ayam hitam hewan peliharaan roh-roh ghaib yang perlu dirawat dan dijaga sehingga dengan melalui sajian sesajen ayam hitam mampu memberikan perdamaian dan perlindungan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan. Pertama, perlu dilakukan studi lebih mendalam mengenai kepercayaan Animisme dan Dinamisme di desa Datar, termasuk sejarah dan perkembangan kepercayaan tersebut di masyarakat. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada peran dan pengaruh tokoh adat atau pawang dalam tradisi upacara Li Bali, serta bagaimana mereka menjaga kelestarian tradisi tersebut. Ketiga, studi komparatif antara tradisi upacara Li Bali dengan tradisi serupa di daerah lain dapat dilakukan untuk memahami dinamika dan perkembangan kepercayaan animistik dan dinamis di Indonesia.

Read online
File size583.05 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test