WIDYAYUWANAWIDYAYUWANA

JPAK: Jurnal Pendidikan Agama KatolikJPAK: Jurnal Pendidikan Agama Katolik

Individu dengan autisme sering menghadapi diskriminasi dan isolasi sosial dalam lingkungan mereka. Untuk mengoptimalkan potensi dan mendorong perkembangan fisik serta emosional, mereka memerlukan dukungan khusus yang berkelanjutan melalui berbagai media pendukung (pendidikan iman inklusif). Penelitian ini menjawab permasalahan bagaimana pendidikan inklusif bagi anak autis dapat dikembangkan melalui media yang sesuai, salah satunya adalah media lukis. Lukisan dapat berfungsi sebagai media yang tepat untuk pendidikan iman bagi anak‑anak tersebut, dengan menyesuaikan tingkat keautisan masing‑masing. Ekspresi iman bersifat unik dan kerap mengandung nilai artistik. Proses pendidikan iman dapat diadaptasi untuk mengakomodasi individu dengan tingkat berpikir, perasaan, dan kemampuan bertindak yang beragam. Melalui kegiatan melukis, anak autis dapat mengekspresikan iman dan kepercayaan mereka kepada Kristus, memanfaatkan kekuatan serta keterbatasan unik mereka. Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan fokus pada kelompok anak autis serta orang tua/pendampingnya. Teknik pengumpulan data meliputi observasi terhadap 17 anak autis dan wawancara dengan 17 orang tua serta dua pendamping untuk mendukung tujuan penelitian. Observasi berfokus pada ekspresi pemikiran dan perasaan anak melalui lukisan setelah menerima pengajaran singkat dan sederhana, sedangkan wawancara memperkenalkan karakter anak berdasarkan pandangan orang tua dan pendamping. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebelum anak autis terlibat aktif dalam proses pendidikan iman, orang tua dan pendamping (katekis) berperan penting dalam memahami minat dan potensi masing‑masing anak. Kegiatan melukis tidak selalu cocok untuk semua tipe atau tingkat autisme, sehingga peran orang tua dan katekis sangat penting dalam merancang konten pendidikan iman yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak.

Pendekatan pendidikan dengan media lukis dapat membantu anak autis fokus, namun bukan satu‑satunya faktor keberhasilan katekese.persiapan pendampingan dan indikator pencapaian yang disesuaikan dengan kondisi peserta sangat penting.Anak autis membutuhkan pendampingan personal dari orang terdekat yang dapat dipercaya agar proses iman dapat terlaksana secara efektif.Gereja memberikan ruang, waktu, dan perhatian rohani, mengakui anak autis sebagai bagian aktif gereja yang memiliki hak berpartisipasi dalam pelayanan sesuai kemampuan mereka.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi bagaimana kombinasi media multisensorial seperti musik, sentuhan, dan teknologi digital bersama dengan aktivitas melukis mempengaruhi pemahaman iman dan keterlibatan emosional anak autis, dengan membandingkan kelompok yang hanya menggunakan lukisan versus kelompok yang menerima paket multisensorial. Penelitian ini juga dapat menilai perubahan dalam kemampuan regulasi emosi dan persepsi spiritual selama periode tiga bulan. Selanjutnya, diperlukan studi longitudinal yang mengamati efek pendampingan pribadi oleh katekis atau orang terdekat terhadap perkembangan spiritual dan kesejahteraan psikologis anak autis selama setahun, dengan mengumpulkan data melalui observasi rutin, wawancara, dan skala penilaian. Kajian ini dapat mengidentifikasi faktor‑faktor kunci yang mendukung keberhasilan proses katekese jangka panjang. Akhirnya, penelitian eksperimental dapat menyelidiki dampak pelatihan khusus bagi guru dan katekis dalam menerapkan pendidikan iman inklusif, dengan membandingkan kelas yang guru‑nya telah mengikuti program pelatihan khusus versus kelas tanpa pelatihan, serta mengukur kepuasan anak, orang tua, dan kualitas pembelajaran. Hasilnya diharapkan memberikan rekomendasi kebijakan bagi gereja dan institusi pendidikan dalam memperkuat dukungan bagi anak autis.

Read online
File size470.73 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test