YANAYANA

Algebra : Jurnal Pendidikan, Sosial dan SainsAlgebra : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Sains

Fenomena toxic friendship semakin umum terjadi di lingkungan sekolah, terutama di kalangan siswa SMP yang sedang dalam tahap eksplorasi identitas. Pertemanan yang idealnya sebagai ruang dukungan emosional justru berkembang menjadi interaksi yang penuh tekanan, manipulasi, dan perilaku negatif. Penelitian ini bertujuan menggali pola penanganan toxic friendship di SMPT Darul Dakwah dengan fokus pada tiga aspek: (1) bentuk atau karakteristik toxic friendship, (2) faktor penyebab, dan (3) peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mengatasi masalah ini. Pendekatan kualitatif fenomenologis digunakan untuk mengumpulkan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi melibatkan siswa kelas VIII, guru PAI, serta guru bimbingan konseling (BK). Hasil menunjukkan bahwa toxic friendship muncul dalam bentuk kelompok eksklusif, pengecualian sosial, bullying verbal, dan manipulasi emosional. Faktor penyebab meliputi pola asuh keluarga, pengaruh kelompok sebaya, dan intensitas penggunaan media sosial. Guru PAI menerapkan strategi pencegahan (penanaman nilai agama), pendekatan kuretif (konseling islamis), dan upaya rehabilitatif (mendorong rasa hormat dan kerja sama positif). Temuan ini menggarisbawahi peran strategis guru PAI dalam menciptakan hubungan rekan sebaya yang sehat serta merekomendasikan kolaborasi lebih kuat dengan bimbingan konseling dan sekolah untuk mencegah toxic friendship.

Penelitian di SMPT Darul Dakwah mengungkapkan bahwa toxic friendship adalah masalah sosial signifikan di kalangan siswa, terlihat dalam bentuk kelompok eksklusif, pengecualian sosial, bullying, dan manipulasi emosional yang merugikan prestasi akademik dan kesejahteraan psikologis.Faktor penyebab utama meliputi latar belakang keluarga, komunikasi keluarga yang lemah, pengaruh rekan sebaya, dan penggunaan media sosial yang berlebihan.Guru PAI memainkan peran kunci dalam penanganan melalui pendekatan pencegahan (penanaman nilai agama dan akhlak mulia), pendekatan kuretif (konseling islamis), dan strategi rehabilitasi (membangun kerja sama positif).Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut efektif namun memerlukan kolaborasi dengan guru bimbingan konseling, sekolah, dan orang tua, serta pengembangan program pembentukan karakter berkelanjutan.

Penelitian lanjutan dapat memfokuskan pada dampak budaya lokal terhadap dinamika toxic friendship di sekolah pesantren, khususnya bagaimana nilai-nilai tradisional dan modern saling bersaing dalam membentuk pola perilaku antar pelajar. Peneliti juga dapat mengeksplorasi korelasi antara pola komunikasi emosional dalam keluarga dan kecenderungan terbentuknya toxic friendship, dengan memperluas data dari berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, studi lebih lanjut perlu menguji efektivitas intervensi berbasis pesantren yang menggabungkan pendekatan spiritual dan psikologis untuk memulihkan hubungan rekan sebaya yang rusak dan mencegah toxic friendship secara berkelanjutan.

Read online
File size287.81 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test