DWCUDWCU

Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict StudiesAradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies

Tulisan ini mengkaji fenomena fandom terhadap tokoh agama di era digital dengan pendekatan lintas-disiplin yang menggabungkan teologi publik, etika Kristiani, serta pendekatan korelasional dan praksis dari Gordon Lynch. Fenomena ini menunjukkan pergeseran peran tokoh agama dari pembimbing spiritual menjadi figur publik yang tampil dalam logika budaya populer, melalui konsep mediapheme dan dorongan Fear of Missing Out (FoMo). Mediapheme menjelaskan bagaimana pencitraan dan viralitas membentuk otoritas religius, sementara FOMO menggambarkan tekanan sosial digital yang memengaruhi praktik keagamaan umat dan tokoh agama. Dengan kerangka teologis Lynch, tulisan ini menekankan pentingnya menjaga dimensi normatif, kontekstual, dan dinamis dalam refleksi iman, serta mengajak pembaca untuk melihat budaya populer bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga ruang potensial bagi spiritualitas yang reflektif dan transformatif.

Fenomena fandom terhadap tokoh agama di era digital merepresentasikan pergeseran penting dalam lanskap religius kontemporer.Tokoh agama tidak hanya menjadi penyampai pesan spiritual, tetapi juga menjelma sebagai figur publik yang beroperasi dalam logika budaya populer - terutama melalui media sosial yang memfasilitasi viralitas dan visualitas.Melalui konsep mediapheme dan FoMo, dapat terlihat bagaimana mekanisme pencitraan, algoritmik, serta ketakutan sosial membentuk dinamika baru dalam relasi antara umat dan tokoh agama.Di satu sisi, fenomena ini membuka ruang partisipasi dan kedekatan yang lebih luas.namun di sisi lain, juga menimbulkan risiko komodifikasi spiritualitas, reduksi pesan iman, serta penguatan kultus individu yang mengaburkan nilai-nilai profetik ajaran agama.Melalui pendekatan korelasional dan praksis dari Lynch, tulisan ini menawarkan cara pandang alternatif yang konstruktif dan kritis terhadap fenomena tersebut.Pendekatan korelasional mendorong dialog dua arah antara teologi dan budaya populer sebagai dua medan makna yang saling memperkaya.Budaya populer tidak sekadar objek kritik, tetapi juga subjek refleksi yang mampu menantang dan memperluas horizon teologis.Sementara itu, pendekatan praksis menekankan dimensi etis dan transformasional dari refleksi iman.bahwa ekspresi religius di ruang digital harus berpihak pada keadilan, solidaritas, kesederhanaan, dan pembebasan.Dalam kerangka teologi publik dan etika Kristen, fenomena fandom tokoh agama harus dibaca bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga sebagai peluang bagi gereja dan umat beriman untuk membangun spiritualitas digital yang lebih kontekstual, inklusif, dan bermakna - sebuah iman yang tidak larut dalam arus popularitas, tetapi tetap menyuarakan nilai-nilai ilahi di tengah dunia yang terus berubah.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi empiris yang menyelidiki dampak fandom tokoh agama terhadap praktik keagamaan umat, khususnya dalam hal pemahaman dan penerapan nilai-nilai agama. Selain itu, penelitian dapat fokus pada strategi komunikasi yang digunakan tokoh agama dalam media sosial untuk menarik pengikut dan bagaimana strategi ini mempengaruhi pemahaman dan interpretasi ajaran agama oleh umat. Terakhir, penelitian juga dapat mengeksplorasi peran media sosial dalam membentuk identitas religius dan spiritualitas generasi muda, serta bagaimana tokoh agama dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan nilai-nilai agama yang lebih inklusif dan transformatif.

  1. Fandom Tokoh Agama di Era Digital: Antara Spiritualitas, Popularitas, dan Tantangan Etis | Aradha: Journal... doi.org/10.21460/aradha.2025.52.1396Fandom Tokoh Agama di Era Digital Antara Spiritualitas Popularitas dan Tantangan Etis Aradha Journal doi 10 21460 aradha 2025 52 1396
Read online
File size248.08 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test