STIQ WALISONGOSTIQ WALISONGO

ALBAYANALBAYAN

Ruqyah syariyyah di Indonesia berkembang pesat pasca Orde Baru seiring meluasnya kebebasan ekspresi keagamaan. Jamiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) hadir sebagai lembaga yang menghidupkan praktik ruqyah sesuai syariat dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran sebagai media penyembuhan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemahaman JRA dengan penafsiran Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir terhadap ayat-ayat ruqyah, sekaligus menemukan titik temu dan perbedaan orientasi keduanya. Metode yang digunakan adalah studi komparatif dengan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif analitik. Kajian dilakukan melalui penelitian kepustakaan (library research) dengan menjadikan Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili sebagai sumber tafsir serta buku panduan resmi JRA sebagai rujukan praktik ruqyah. Selain itu, penelitian ini juga dilengkapi dengan penelitian lapangan (field research) di JRA cabang Bandar Lampung. Analisis data dilakukan menggunakan teori resepsi Al-Quran dan pendekatan eksegesis, dengan pengumpulan data melalui studi literatur, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesesuaian sekaligus perbedaan dalam pemahaman ayat-ayat ruqyah. Pada sebagian besar ayat seperti Al-Falaq, Al-Qalam, Thaha, Al-Isra, dan An-Nahl, JRA dan Tafsir al-Munir menunjukkan keselarasan. Namun, pada ayat-ayat seperti Al-Anbiya dan Ali Imran, terdapat perbedaan signifikan karena JRA menggunakannya secara fungsional dalam praktik ruqyah, sedangkan Tafsir al-Munir menekankan konteks historis-teologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman JRA dan penafsiran Wahbah az-Zuhaili meski terdapat perbedaan namun tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. JRA merepresentasikan praktik penghidupan Quran dalam masyarakat, sedangkan Tafsir al-Munir menjadi landasan teologis dalam penafsiran dan pemahaman Al-Quran.

Jamiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) mengimplementasikan ayat-ayat Al-Quran sebagai pedoman ruqyah sekaligus sarana penguatan spiritual dan identitas keagamaan.Praktik JRA yang moderat dan berlandaskan tradisi Ahl al‑Sunnah wa al‑Jamāah menekankan keyakinan terhadap kalāmullāh, sholawat, serta pelatihan peruqyah dengan sanad sahih.Perbandingan dengan Tafsir Al‑Munir menunjukkan bahwa meskipun orientasinya berbeda Tafsir Al‑Munir menitikberatkan pada makna, hukum, dan konteks ayat, sedangkan JRA memprioritaskan penerapan praktis kedua pendekatan sama-sama meneguhkan nilai‑nilai Al‑Quran dalam kehidupan sehari‑hari.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efektivitas klinis praktik ruqyah JRA dibandingkan dengan terapi medis konvensional dalam mengurangi gejala gangguan psikosomatis pada pasien, sehingga memberikan bukti empiris tentang manfaat kesehatan yang spesifik. Selanjutnya, studi etnografi lintas daerah dapat menggali bagaimana penerapan ayat-ayat ruqyah dalam JRA dipengaruhi oleh konteks budaya lokal, misalnya perbedaan praktik antara wilayah Jawa dan Sumatera, untuk memahami dinamika adaptasi tradisi keagamaan dalam masyarakat modern. Terakhir, analisis komparatif teks dapat memperluas pemetaan ayat-ayat Quran yang belum banyak digunakan dalam ruqyah JRA, seperti surah‑surah minoritas, untuk menilai potensi pengembangan prosedur ruqyah yang lebih komprehensif dan sesuai dengan tafsir kontemporer.

  1. Jurnal Studia Insania. implementasi ruqyah syar iyah alternatif psikoterapi kajian psikologi islam jurnal... doi.org/10.18592/jsi.v9i1.3923Jurnal Studia Insania implementasi ruqyah syar iyah alternatif psikoterapi kajian psikologi islam jurnal doi 10 18592 jsi v9i1 3923
Read online
File size580.26 KB
Pages26
DMCAReport

Related /

ads-block-test