UNCMUNCM

Jurnal Genta MuliaJurnal Genta Mulia

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecerdasan emosi antara siswa SMA reguler dan SMA berbasis agama. Subjek penelitian terdiri dari 265 siswa kelas X dan XI, masing-masing dari SMAS Nasional Namoterasi (sekolah reguler) dan SMAS GKPI Padang Bulan (sekolah agama). Metode yang digunakan adalah ex post facto dengan pendekatan komparatif, menggunakan instrumen angket skala kecerdasan emosi yang mencakup lima aspek utama: mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan. Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukkan skala yang digunakan valid dan reliabel (α = 0,954). Uji normalitas dan homogenitas menunjukkan data berdistribusi normal dan homogen. Analisis t-test menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p < 0,05), dengan hasil bahwa siswa dari sekolah berbasis agama memiliki kecerdasan emosi yang lebih tinggi dibandingkan siswa sekolah reguler. Nilai rata-rata kecerdasan emosi siswa sekolah agama secara empirik lebih tinggi dari rata-rata hipotetik, sementara siswa sekolah reguler justru berada di bawahnya. Temuan ini menunjukkan bahwa pengajaran nilai-nilai spiritual dan aktivitas keagamaan yang intensif di sekolah agama memberikan kontribusi terhadap peningkatan kecerdasan emosi siswa. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya integrasi nilai-nilai moral dan emosional dalam pendidikan untuk mendukung perkembangan siswa secara holistik.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam tingkat kecerdasan emosi antara siswa sekolah reguler dan siswa sekolah berbasis agama, di mana siswa sekolah berbasis agama menunjukkan tingkat kecerdasan emosi yang lebih tinggi.Perbedaan ini mengindikasikan bahwa pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan aktivitas keagamaan berkontribusi pada pengembangan aspek emosional siswa.Temuan ini menekankan pentingnya pendidikan yang menyeluruh, tidak hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga emosional dan spiritual, untuk membentuk individu yang matang secara emosional.

Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar sekolah reguler mengadopsi pendekatan pendidikan yang lebih memperhatikan pengembangan aspek emosional siswa, misalnya melalui pelatihan keterampilan sosial dan emosional, kegiatan keagamaan atau moralitas, serta pembinaan karakter yang konsisten. Lebih lanjut, perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam untuk mengidentifikasi faktor-faktor spesifik dalam lingkungan sekolah berbasis agama yang berkontribusi pada peningkatan kecerdasan emosi siswa, seperti kurikulum, metode pengajaran, atau interaksi sosial. Sebagai tambahan, penelitian di masa depan dapat mengeksplorasi efektivitas intervensi yang dirancang khusus untuk meningkatkan kecerdasan emosi siswa di sekolah reguler, dengan mempertimbangkan karakteristik unik dari populasi siswa dan konteks sekolah. Dengan demikian, diharapkan semua siswa, baik dari sekolah reguler maupun berbasis agama, dapat tumbuh dengan kecerdasan emosi yang baik sebagai bekal dalam kehidupan sosial dan profesional mereka di masa depan.

  1. #kualitas pendidikan#kualitas pendidikan
  2. #siswa sekolah menengah#siswa sekolah menengah
Read online
File size164.25 KB
Pages8
Short Linkhttps://juris.id/p-3fW
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test