UIN SUKAUIN SUKA

Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan HadisJurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis

Pengecualian sejumlah hadis oleh para penyusun al-Shaykhān (Sahīh al-Bukhārī dan Sahīh Muslim), meskipun mereka menerima periwayatan dari perawi yang sama dalam riwayat lain, menunjukkan adanya cacat tertentu pada hadis-hadis tersebut. Proses selektif ini telah memunculkan perdebatan luas dalam kajian kritik hadis, khususnya terkait konsep “otentik menurut syarat al-Shaykhān. Perdebatan ilmiah berfokus pada bagaimana syarat tersebut didefinisikan, ditafsirkan, dan diterapkan oleh para pengkritik hadis generasi setelahnya. Studi ini meneliti perbedaan metodologis antara al-Hākim al-Nīsābūrī dan al-Dhahabī dalam menggunakan kriteria al-Bukhārī dan Muslim sebagai tolok ukur keotentikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan al-Hākim dalam menilai otentisitas cenderung longgar, kadang mengabaikan cacat struktural maupun kontekstual. Sebaliknya, penilaian al-Dhahabī mencerminkan kerangka evaluasi yang lebih ketat, dengan penolakan munkar yang sering didasarkan pada keberadaan perawi lemah, mata rantai periwayatan yang terputus, atau konteks transmisi yang bermasalah.

Penelitian ini menunjukkan bahwa klasifikasi al-Dhahabī terhadap sejumlah hadis sebagai munkar, meskipun al-Hākim menilainya memenuhi syarat al-Shaykhān, mencerminkan ketelitian metodologis yang lebih tinggi.Hasil analisis tersebut mengungkapkan bahwa pendekatan al-Hākim secara teoritis berlandaskan syarat al-Shaykhān tetapi kurang memperhatikan cacat tersembunyi dalam rantai periwayatan, berbeda dengan metodologi al-Dhahabī yang lebih sistematis dalam mengidentifikasi kelemahan struktural.Meskipun penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai perbedaan pendekatan klasik dalam kritik hadis, ruang lingkupnya masih terbatas pada beberapa kasus yang dipilih, sehingga diperlukan analisis lanjutan untuk memperluas pemahaman.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada analisis perbedaan interpretasi terhadap definisi munkar di berbagai wilayah dan generasi ulama, termasuk membandingkan pendekatan al-Dhahabī dengan ulama klasik lainnya. Selain itu, perlu dikaji metode identifikasi cacat tersembunyi (illah khafiyyah) dalam hadis secara objektif dan sistematis, terutama dengan memanfaatkan alat analisis digital untuk memetakan pola kelemahan transmisi. Penelitian juga dapat mengeksplorasi pengaruh perbedaan metodologis terhadap validasi hadis dalam konteks kritik kontemporer, khususnya dalam upaya memadukan prinsip klasik dengan pendekatan ilmu pengetahuan modern.

  1. DOI Name 10.35632 Values. doi name values index type timestamp data hs serv 06z crossref email support... doi.org/10.35632DOI Name 10 35632 Values doi name values index type timestamp data hs serv 06z crossref email support doi 10 35632
  2. Carrying on the Tradition: A Social and Intellectual History of Hadith Transmission across a Thousand... doi.org/10.35632/ajis.v38i3-4.2992Carrying on the Tradition A Social and Intellectual History of Hadith Transmission across a Thousand doi 10 35632 ajis v38i3 4 2992
  3. Developments of Ḥadīth Riwāya in al-Andalus (2nd - 3rd Centuries of Hijriyya) | Ulumuna. developments... doi.org/10.20414/ujis.v21i2.5Developments of adth RiwAya in al Andalus 2nd 3rd Centuries of Hijriyya Ulumuna developments doi 10 20414 ujis v21i2 5
  1. #tafsir islam#tafsir islam
  2. #al shaykhn#al shaykhn
Read online
File size431.03 KB
Pages24
Short Linkhttps://juris.id/p-36U
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test