UIN SUKAUIN SUKA
Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan HadisJurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan HadisArtikel ini mengkaji fenomena tafsir Bugis, baik tulis maupun lisan, yang dihasilkan oleh ulama Asadiyah dalam islamisasi di Indonesia Timur. Asadiyah menjadi pesantren tertua dan berperan penting dalam proses penyebaran dan pengajaran Islam. Dalam proses islamisasi ini, tafsir Bugis menjadi fenomena penting diteliti karena tafsir menjadi fenomena awal dari kehadiran pesantren ini. Hal ini sebagaimana terlihat dalam tafsir Bugis berjudul tafsir surah amma bil-lughah al-buqisiyyah karya AGH. Muhammad Asad Al-Bugisy, sang pendiri pesantren. Bukan hanya itu, tafsir Bugis juga dilakukan secara variatif oleh kalangan ulama Asadiyah yang dimulai oleh murid-murid pendiri pesantren ini. Artikel ini berargumentasi bahwa tafsir lokal bukan hanya menjadi bagian khazanah intelektual pesantren, tetapi juga signifikan dalam pembentukan tradisi pesantren. Studi ini menggunakan pendekatan fenomenologis-historis, menggabungkan tinjauan pustaka dan kerja lapangan. Temuan studi ini menunjukkan bahwa produksi tafsir Bugis sangat penting untuk mengenalkan dan transmisi Islam di Indonesia Timur melalui interpretasi Al-Quran yang responsif terhadap konteks kontemporer. Peran ini terutama terlihat dalam tiga aspek utama: (1) dakwah yang berakar pada budaya, (2) pelestarian warisan intelektual dan budaya melalui tafsir, dan (3) penjagaan kekhasan pesantren dan budaya Bugis. Ketiga fungsi utama ini menekankan pentingnya penggunaan bahasa lokal dalam proses Islamisasi melalui tafsir terutama dalam konteks budaya penafsir, terlebih lagi ketika penafsir tersebut adalah seorang ulama pesantren.
Produksi tafsir Bugis dalam tradisi Asadiyah sangat penting untuk mengenalkan dan memperluas Islam di Indonesia Timur melalui interpretasi Al-Quran yang berakar pada konteks budaya Bugis.Tafsir Bugis bertindak sebagai sarana dakwah, pelestari budaya lokal, dan penjaga identitas pesantren.Penggunaan bahasa lokal dalam tafsir ini menjadi kunci keberhasilan islamisasi dan penerusannya di masyarakat adat Bugis.
Penelitian lanjutan disarankan untuk mengkaji lebih dalam dinamika interaksi antara tafsir Bugis lisan dengan praktik ibadah komunitas Bugis modern. Studi banding antara penggunaan tafsir lokal di pesantren Asadiyah dengan pesantren lain di Indonesia Timur bisa membuka wawasan tentang keunikan pendekatan Asadiyah. Selain itu, perlu diteliti bagaimana media digital memengaruhi efektivitas penyebaran tafsir Bugis dalam konteks globalisasi saat ini.
| File size | 412.55 KB |
| Pages | 25 |
| DMCA | Report |
Related /
ISNJBENGKALISISNJBENGKALIS Makanan tradisional merupakan bagian penting dari warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, meliputi makanan pokok, makanan selingan, sertaMakanan tradisional merupakan bagian penting dari warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, meliputi makanan pokok, makanan selingan, serta
FDIKJOURNAL UINMAFDIKJOURNAL UINMA Tradisi Nyelamak Dilaok tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga berperan penting dalam mempererat hubungan sosial dan spiritual antara masyarakatTradisi Nyelamak Dilaok tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga berperan penting dalam mempererat hubungan sosial dan spiritual antara masyarakat
UMPARUMPAR Temuan ini menekankan bahwa di tengah tren digital, faktor kepercayaan dan jaminan kehalalan tetap menjadi pertimbangan kritis, sementara social influenceTemuan ini menekankan bahwa di tengah tren digital, faktor kepercayaan dan jaminan kehalalan tetap menjadi pertimbangan kritis, sementara social influence
UMMUBAUMMUBA Subjek penelitian adalah 25 siswa kelas VI SDN 5 Woja tahun pelajaran 2025/2026. Instrumen yang digunakan meliputi lembar validasi ahli, angket responSubjek penelitian adalah 25 siswa kelas VI SDN 5 Woja tahun pelajaran 2025/2026. Instrumen yang digunakan meliputi lembar validasi ahli, angket respon
IAIN PONOROGOIAIN PONOROGO Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan kerangka sosiologi agama, studi ini menggabungkan teori otoritas Weberian dan konsep habitus BourdieuDengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan kerangka sosiologi agama, studi ini menggabungkan teori otoritas Weberian dan konsep habitus Bourdieu
UBBGUBBG Uji coba dilakukan pada salah satu sekolah menengah pertama di Jepara pada kelas 7. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen kuantitatif murni denganUji coba dilakukan pada salah satu sekolah menengah pertama di Jepara pada kelas 7. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen kuantitatif murni dengan
ISNJBENGKALISISNJBENGKALIS Metode yang diterapkan meliputi diskusi, edukasi, pelatihan praktis, pengembangan produk kreatif, kompetisi dan festival, kerja sama dengan pihak terkait,Metode yang diterapkan meliputi diskusi, edukasi, pelatihan praktis, pengembangan produk kreatif, kompetisi dan festival, kerja sama dengan pihak terkait,
ISQIISQI Bahkan, tidak ada lagi paham ekstrem yang mengatasnamakan Islam sebagai kedok dengan tujuan untuk melakukan aksi terorisme. Visi Indonesia sebagai rahmatBahkan, tidak ada lagi paham ekstrem yang mengatasnamakan Islam sebagai kedok dengan tujuan untuk melakukan aksi terorisme. Visi Indonesia sebagai rahmat
Useful /
UNDARUNDAR Penelitian ini dilakukan di pondok pesantren Maimunah Fil Madinah, menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Interpretative Phenomenological AnalysisPenelitian ini dilakukan di pondok pesantren Maimunah Fil Madinah, menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis
UBBGUBBG The findings highlight a significant need for targeted vocabulary instruction, particularly focusing on aspects like meaning, pronunciation, and connotation.The findings highlight a significant need for targeted vocabulary instruction, particularly focusing on aspects like meaning, pronunciation, and connotation.
IICETIICET Hasil penelitian menunjukkan peningkatan persentase hasil belajar afektif siswa pada aspek tanggung jawab dari rata-rata 67,62 pada siklus I menjadi 85,00Hasil penelitian menunjukkan peningkatan persentase hasil belajar afektif siswa pada aspek tanggung jawab dari rata-rata 67,62 pada siklus I menjadi 85,00
IICETIICET Disamping itu peningkatan kemampuan dapat kita lihat dari kenaikan prosentase tingkat kemampuan dari para guru, yaitu: bahwa pada siklus I para guru yangDisamping itu peningkatan kemampuan dapat kita lihat dari kenaikan prosentase tingkat kemampuan dari para guru, yaitu: bahwa pada siklus I para guru yang