STAITARUNASTAITARUNA

Jurnal KeislamanJurnal Keislaman

Fenomena kehidupan malam (nightlife) di kalangan generasi muda urban di Indonesia semakin memperlihatkan eskalasi signifikan seiring dengan derasnya arus urbanisasi, modernisasi, serta penetrasi budaya global. Nightlife bukan lagi sekadar dipahami sebagai ruang hiburan, melainkan juga sebagai arena rekreasi, ekspresi diri, konstruksi identitas, dan aktualisasi eksistensi sosial. Kehadiran klub malam, konser musik, bar, hingga aktivitas digital seperti live streaming malam menjadi bagian integral dari gaya hidup kontemporer masyarakat kota besar. Namun, di balik popularitas tersebut, praktik nightlife kerap merefleksikan problem fundamental yang dihadapi generasi muda, yakni nihilisme dan krisis makna. Nihilisme, sebagaimana dikemukakan Friedrich Nietzsche, merupakan kondisi di mana individu kehilangan landasan nilai, mengalami kekosongan spiritual, dan menilai kehidupan tanpa tujuan yang jelas. Dalam konteks Indonesia, fenomena ini diperkuat oleh gaya hidup yang semakin individualistik, fragmentaris, dan berorientasi pada kesenangan sesaat, sehingga nightlife seringkali berfungsi sebagai sarana pelarian dari tekanan sosial maupun kebingungan eksistensial. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka untuk menganalisis fenomena nightlife dalam kerangka filsafat nihilisme dan etika Islam. Analisis difokuskan pada tiga aspek utama: (1) keterkaitan antara nightlife dan gaya hidup hedonistik yang mencerminkan nihilisme, (2) krisis makna dalam budaya urban yang memunculkan alienasi sosial serta keterasingan spiritual, dan (3) tawaran solusi etika dan hukum Islam, khususnya melalui maqāṣid al-syarīah serta pendekatan tasawuf, untuk merevitalisasi kesadaran moral dan tujuan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nightlife merupakan cerminan dari pergeseran nilai dalam budaya urban kontemporer yang membawa implikasi serius terhadap identitas dan spiritualitas generasi muda Muslim. Karena itu, dibutuhkan pendekatan kritis dan solutif berbasis etika Islam yang mampu mengintegrasikan kebutuhan rekreasi dengan orientasi spiritual, sehingga nilai-nilai keislaman tetap relevan dalam menghadapi tantangan budaya urban modern.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena nightlife di kota-kota besar Indonesia bukan hanya sebuah aktivitas hiburan, tetapi juga mencerminkan interaksi kompleks antara faktor struktural, psikososial, filosofis, dan spiritual.Urbanisasi, modernisasi, dan globalisasi memperkuat gaya hidup konsumtif dan infrastruktur yang menjadikan nightlife sebagai bagian integral dari identitas budaya kota.Dalam perspektif psikososial, nightlife berfungsi sebagai ruang pelarian sementara dari tekanan rutinitas.namun, pelarian ini bersifat sementara dan sering memperburuk perasaan hampa serta alienasi eksistensial.Dalam kerangka filsafat Barat, fenomena ini dapat dijelaskan sebagai manifestasi nihilisme Nietzsche, di mana runtuhnya nilai transendental mendorong individu mengejar kesenangan sesaat.Heidegger dan Sartre menambahkan bahwa remaja sering gagal menghadapi thrownness eksistensial mereka, beralih pada rutinitas hiburan superfisial.Teori liquid modernity Bauman menjelaskan kerentanan ikatan sosial di budaya nightlife, di mana hubungan yang bersifat cair dan superficial memperkuat isolasi generasi muda.Dampak dinamis ini terlihat pada peningkatan masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan perilaku adiktif.Islam, bagaimanapun, memberikan kerangka etika dan solusi melalui prinsip maqāṣid al-syarīah, yang mengevaluasi praktik nightlife yang berpotensi merusak iman, kehidupan, akal, keturunan, dan harta.Dalam pandangan Islam, krisis eksistensial remaja bukanlah hasil absennya Tuhan, melainkan ketidakakraban manusia dengan Tuhan sebagai sumber makna utama.Para pemikir Muslim klasik seperti Al-Ghazālī, Ibnu Sīnā, Al-Fārābī, dan Ibnu Miskawayh menekankan bahwa tujuan hidup manusia berada dalam devosi, kesempurnaan intelektual, nilai moral, dan keterhubungan sosial yang bermakna.Dalam respons Islam, dua jalur utama ditawarkan.(1) memperkuat spiritualitas praktis melalui tasawuf, dzikir, dan tazkiyat al-nafs untuk mengisi kekosongan batin.(2) melakukan intervensi sosial-budaya seperti pendidikan etika kontekstual, pembentukan komunitas religius, dan budaya kota yang inklusif, kreatif, dan transendental.Dalam kerangka ini, nightlife bukan hanya dihukumi, melainkan direkonstruksi menjadi ruang yang lebih sehat dan bermakna.Dengan demikian, nightlife mencerminkan krisis nilai dan makna yang dihadapi remaja urban.Sementara filsafat Barat memberikan alat deskriptif untuk mendiagnosis nihilisme dan alienasi, Islam menawarkan kerangka normatif dan transformasi berbasis spiritualitas, moralitas, serta tujuan syariah.Penggabungan perspektif ini memungkinkan pemahaman yang lebih holistik dan formulasi strategi konstruktif untuk membimbing generasi muda keluar dari krisis eksistensial menuju kehidupan kota yang lebih autentik, bermakna, dan transendental.

Untuk penelitian lanjutan, pertama, dilakukan penelitian tentang pengaruh strategi pendidikan agama berbasis teknologi, seperti pembelajaran interaktif melalui media sosial, terhadap peningkatan spiritualitas remaja dalam menghadapi tekanan budaya urban. Kedua, mengkaji peran komunitas religius setempat, seperti pesantren atau lingkungan masjid, dalam menciptakan ruang alternatif yang memadukan hiburan kreatif berbasis nilai Islam, misalnya melalui seni religius atau festival musik inspiratif. Ketiga, membandingkan efektivitas program pencegahan berbasis nilai (values-based prevention) dengan program pendidikan budaya hiburan yang menekankan kesadaran moral, khususnya dalam mengurangi risiko perilaku buruk di tempat hiburan malam. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat ditemukan model baru yang memadukan kebutuhan rekreasi remaja dengan etika dan tujuan transendental, sehingga generasi muda mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial moderen dan nilai-nilai agama.

  1. Impact of Hedonistic Lifestyle on Social Interaction among High School Students: A Case Study in Indonesia... ilomata.org/index.php/ijss/article/view/1284Impact of Hedonistic Lifestyle on Social Interaction among High School Students A Case Study in Indonesia ilomata index php ijss article view 1284
  2. DINAMIKA KEHIDUPAN MALAM KOTA MALANG SEBAGAI DAMPAK DARI URBANISASI | PANGRIPTA. dinamika kehidupan malam... jurnalpangriptav3.malangkota.go.id/PANGRIPTA/article/view/124DINAMIKA KEHIDUPAN MALAM KOTA MALANG SEBAGAI DAMPAK DARI URBANISASI PANGRIPTA dinamika kehidupan malam jurnalpangriptav3 malangkota go PANGRIPTA article view 124
  3. Hedonism in the Young Generation: The Challenge of Pancasila Moral Education | Jurnal Panjar: Pengabdian... doi.org/10.15294/panjar.v4i2.55040Hedonism in the Young Generation The Challenge of Pancasila Moral Education Jurnal Panjar Pengabdian doi 10 15294 panjar v4i2 55040
  4. Nightlife, Nihilism, and The Existential Crisis of Indonesian Urban Youth: An Islamic and Philosophical... journal.staitaruna.ac.id/index.php/JK/article/view/635Nightlife Nihilism and The Existential Crisis of Indonesian Urban Youth An Islamic and Philosophical journal staitaruna ac index php JK article view 635
  1. #guru pai#guru pai
  2. #nilai moral#nilai moral
Read online
File size816.38 KB
Pages19
Short Linkhttps://juris.id/p-2Zg
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test