SASTRA UNESSASTRA UNES

Jurnal Ilmiah Pendidikan ScholasticJurnal Ilmiah Pendidikan Scholastic

Penelitian ini berjudul Perbandingan Dialek Lubuk Gadang dan Pasir Talang di Kabupaten Solok Selatan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk membandingkan dialek Lubuk Gadang dan Pasir Talang, yang berasal dari wilayah Solok Selatan. Penelitian ini berfokus pada kesamaan leksikal, perbedaan leksikal, dan proses pembentukan kata dalam kedua dialek tersebut. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan, dengan data dikumpulkan melalui wawancara langsung, observasi, catatan, dan rekaman audio. Penelitian ini didasarkan pada teori leksikal, dialektologi, dan teori morfologi. Kerangka kerja ini digunakan untuk menganalisis kosakata kedua dialek untuk mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan, serta memahami proses pembentukan kata yang terlibat. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada 692 item leksikal yang memiliki kesamaan antara kedua dialek, sementara 92 item leksikal menunjukkan perbedaan bentuk. Selain itu, 73 item kosakata diidentifikasi sebagai memiliki bentuk yang berbeda tetapi memiliki arti yang sama. Dalam hal pembentukan kata, beberapa proses morfologis ditemukan dalam kedua dialek, termasuk peminjaman 13 item, penggabungan 21 item, pemotongan 3 item, akronim 1 item, dan turunan 12 item. Temuan ini menunjukkan keragaman dan kompleksitas linguistik dalam dialek regional di Solok Selatan.

Penelitian tentang Perbandingan Dialek Lubuk Gadang dan Pasir Talang di Kabupaten Solok Selatan menyimpulkan bahwa variasi dialek sangat terkait dengan konteks budaya, sosial, dan sejarah penuturnya.Dialek Lubuk Gadang (LGD), yang dituturkan oleh komunitas agraris yang konservatif, mencerminkan fitur linguistik yang lebih tradisional dan formal.Sebaliknya, Dialek Pasir Talang (PTD), yang berkembang dalam komunitas perdagangan dengan interaksi yang sering dengan orang luar, menunjukkan karakter yang lebih fleksibel, adaptif, dan terbuka.Perbedaan sosial ini secara langsung mempengaruhi cara masing-masing dialek berevolusi, membentuk tidak hanya pilihan kosakata tetapi juga pola pengucapan dan pembentukan kata, sehingga menggambarkan hubungan yang kuat antara bahasa dan masyarakat.Dari perspektif fonemik dan leksikal, penelitian ini menunjukkan bahwa kedua dialek memiliki kekerabatan yang kuat, tetapi dibedakan oleh variasi sistematis.Perubahan fonem, seperti penghapusan, penggantian, atau modifikasi di posisi awal, tengah, atau akhir kata, menciptakan perbedaan dalam struktur bunyi tetapi mempertahankan inteligibilitas.Secara leksikal, penelitian ini menemukan kesamaan yang signifikan antara kedua dialek, tetapi juga perbedaan yang menonjol di mana beberapa kata mengambil bentuk yang berbeda dengan arti yang sama atau menggunakan kosakata yang sepenuhnya berbeda untuk mengekspresikan konsep yang sama.Temuan ini menekankan bahwa meskipun kedua dialek tetap erat terkait dalam sistem bahasa Minangkabau, mereka juga menunjukkan adaptasi kreatif bahasa terhadap pengalaman lokal dan pengaruh eksternal.Dalam hal morfologi, penelitian ini mengidentifikasi berbagai proses pembentukan kata, termasuk peminjaman, penggabungan, pemotongan, akronim, dan turunan.Proses-proses ini mengungkapkan bagaimana bahasa dibentuk oleh perkembangan internal dan kontak eksternal.Peminjaman menunjukkan interaksi budaya dan linguistik dengan bahasa lain, penggabungan menggambarkan kreativitas dalam menggabungkan konsep lokal, sementara pemotongan dan akronim mencerminkan kecenderungan menuju penyederhanaan dalam percakapan sehari-hari.Turunan, melalui penggunaan afiks yang berbeda, menunjukkan bagaimana masing-masing dialek menyesuaikan struktur gramatikalnya untuk menghasilkan makna baru.Secara keseluruhan, variasi fonemik, leksikal, dan morfologis ini mengonfirmasi bahwa keragaman dialek bukan tanda perpecahan tetapi refleksi kekayaan budaya.Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada bidang dialektologi dan morfologi, tetapi juga memainkan peran penting dalam mendokumentasikan dan melestarikan warisan linguistik dan budaya orang Minangkabau di Solok Selatan.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa arah studi. Pertama, penelitian dapat dilakukan untuk menganalisis lebih lanjut variasi fonemik dan leksikal antara dialek Lubuk Gadang dan Pasir Talang, dengan fokus pada perbedaan dan kesamaan dalam pola pengucapan dan kosakata. Kedua, studi komparatif dapat dilakukan untuk membandingkan proses pembentukan kata dalam kedua dialek, termasuk peminjaman, penggabungan, dan turunan, serta bagaimana proses-proses ini mencerminkan pengaruh budaya dan sosial. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk menyelidiki pengaruh interaksi sosial dan ekonomi pada perkembangan dialek, dengan fokus pada bagaimana perbedaan gaya hidup dan interaksi dengan orang luar mempengaruhi evolusi dialek. Dengan menggabungkan tiga saran ini, penelitian lanjutan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang keragaman dan kompleksitas dialek regional di Solok Selatan, serta kontribusinya terhadap bahasa dan budaya Minangkabau.

  1. THE DIALECTAL COMPARISON BETWEEN MANINJAU AND TIKU SUBDIALECT: LEXICAL VARIATION | Sultana | English... ejournal.unp.ac.id/index.php/ell/article/view/106702THE DIALECTAL COMPARISON BETWEEN MANINJAU AND TIKU SUBDIALECT LEXICAL VARIATION Sultana English ejournal unp ac index php ell article view 106702
  2. The Lexical Comparison between Tanjung Bonai Aur Sub Dialect in Sijunjung and Standard Minangkabaunese... ejournal.unp.ac.id/index.php/ell/article/view/119606The Lexical Comparison between Tanjung Bonai Aur Sub Dialect in Sijunjung and Standard Minangkabaunese ejournal unp ac index php ell article view 119606
  1. #rumah sakit#rumah sakit
  2. #lubuk gadang#lubuk gadang
Read online
File size366.63 KB
Pages8
Short Linkhttps://juris.id/p-2DJ
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test