UMPRUMPR

Anterior JurnalAnterior Jurnal

Penelitian ini bertujuan untuk mengamati secara visual dan fisiologis sebagai pertimbangan kriteria panen kangkung darat akibat pemberian kapur dolomit di tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September–Desember 2015 di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah. Pemberian kapur dolomit sebagai perlakuan dilakukan pada 3 taraf dosis, yaitu : D1 = 3 ton ha-1; D2 = 6 ton ha-1 dan D3 = 9 ton ha-1 sebanyak 9 ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman (cm); jumlah daun (daun); luas daun (cm2), indeks luas daun (ILD), berat segar panen (g), dan indeks panen segar (IP) pada umur 21 dan 28 hari setelah tanam (HST). Panen segar kangkung darat dilakukan dengan cara dicabut. Analisis pertumbuhan luas daun, indeks luas daun, berat segar panen, dan indeks panen segar menggunakan metode Sitompul dan Guritno (1995). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian visual dan pertimbangan indikator fisiologis pertumbuhan tanaman kangkung darat di tanah gambut akibat pemberian kapur dolomit, maka kriteria panen dapat dipertimbangkan bisa dilakukan mulai umur 21 HST dan tidak perlu menunggu umur 28 HST pada semua dosis pemberian kapur yang diberikan (3–9 ton ha-1) karena telah memiliki pertumbuhan fisiologis yang mendukung indeks panen yang relatif tinggi sebesar 73,2–78,1% meskipun panen segar di umur 28 HST juga mampu mencapai indeks panen sebesar 74,9–76,1%. Hasil penelitian ini menyarankan bahwa panen segar kangkung darat dengan cara dicabut sebaiknya dilakukan dimulai umur 21 HST apabila ditanam di tanah gambut menggunakan kapur dolomit dengan dosis 3–9 ton ha-1.

Berdasarkan hasil pengamatan dan uraian pembahasan, penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa.1) Pengamatan visual dan fisiologis tanaman sayuran kangkung darat di tanah gambut akibat pemberian kapur dolomit bisa digunakan sebagai pertimbangan kriteria saat panen yang tepat dan menguntungkan.2) Penilaian visual dan pertimbangan indikator fisiologis pertumbuhan tanaman kangkung darat cukup memberi pertimbangan kriteria panen tanaman sayur kangkung darat yang bisa dilakukan mulai umur 21 HST dan tidak perlu menunggu umur 28 HST pada semua dosis pemberian kapur (3–9 ton ha-1).3) Panen tanaman sayur kangkung darat mulai umur 21 HST telah memiliki indeks panen yang relatif tinggi sebesar 73,2-78,1% meskipun panen segar di umur 28 HST juga mampu mencapai indeks panen sebesar 74,9-76,1% pada semua dosis pemberian kapur yang diberikan (3–9 ton ha-1).

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh berbagai dosis kapur dolomit terhadap kualitas tanah gambut dan pertumbuhan kangkung darat. Selain itu, perlu juga dilakukan kajian mengenai efisiensi penggunaan air pada sistem budidaya kangkung darat di lahan gambut dengan pemberian kapur dolomit, serta potensi penggunaan pupuk organik sebagai pelengkap untuk meningkatkan hasil panen. Pengembangan teknologi panen yang lebih efisien dan ramah lingkungan juga menjadi fokus penelitian lanjutan, terutama untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomis produk.

  1. #peserta didik#peserta didik
  2. #guru sd#guru sd
Read online
File size326.48 KB
Pages9
Short Linkhttps://juris.id/p-2wf
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test