PPJBSIPPPJBSIP

Jurnal BébasanJurnal Bébasan

Dalam cerpen “Kalabaka yang berkisah tentang periode kolonial, permasalahan tentang penjajah dan yang terjajah selalu melibatkan pula permasalahan dikotomi Barat-Timur. Cerpen ini juga mempersoalkan tentang relasi kuasa, identitas, serta ruang. Terkait relasi kuasa antara penjajah dengan yang terjajah tersebut, kemudian, memunculkan peran antara yang dominan dan subaltern. Dalam hal ini, yang dominan tentu merupakan penjajah dan subaltern adalah pribumi yang terjajah. Persoalan seperti ini di dalam cerpen membuat penelitian ini menggunakan pandangan Gayatri Spivak tentang subalternitas dan representasi. Oleh karena itu, penelitian berusaha menjelaskan posisi subaltern yang dikonstruksikan oleh struktur cerpen serta peran representasi sebagai bentuk pelanggengan kolonialisme. Di dalam cerpen “Kalabaka, subalternitas tercipta karena posisi dominan tokoh penjajah terhadap warga pribumi. Cara pandang Barat ini kemudian selalu memandang rendah Timur. Hal ini kemudian menyebabkan munculnya representasi-representasi yang mencoba mengisi posisi tokoh Kalabaka serta masyarakat Banda oleh tokoh Belanda di dalam cerita.

Cerpen Kalabaka menggambarkan interaksi antara penjajah Belanda dan penduduk pribumi Banda, menyoroti dikotomi Barat-Timur dan relasi kuasa yang tidak seimbang.Representasi ganda muncul, di mana Belanda berusaha mengkonstruksi identitas dan realitas penduduk Banda sesuai dengan kepentingan kolonial mereka.Posisi subaltern Kalabaka, sebagai representasi masyarakat Banda, terbungkam dan dimanipulasi oleh kekuasaan Belanda, menunjukkan bagaimana suara dan kebenaran subaltern seringkali tidak didengar atau diakui.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan menganalisis bagaimana representasi subaltern dalam cerpen Kalabaka memengaruhi pembentukan identitas nasional Indonesia pasca-kolonial. Selain itu, studi komparatif dapat dilakukan dengan membandingkan representasi subaltern dalam karya Iksaka Banu dengan karya penulis lain yang mengangkat tema serupa, untuk melihat perbedaan pendekatan dan perspektif. Terakhir, penelitian dapat berfokus pada analisis wacana kekuasaan dalam cerpen, menelusuri bagaimana bahasa dan narasi digunakan untuk melegitimasi dominasi kolonial dan membungkam suara-suara subaltern, serta bagaimana resistensi terhadap kekuasaan tersebut dimanifestasikan dalam teks.

Read online
File size201.14 KB
Pages18
Short Linkhttps://juris.id/p-2vF
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test