UNANDUNAND

Jurnal ArbitrerJurnal Arbitrer

Artikel ini membahas tentang double prefix dalam bahasa Kakenauwe. Bahasa ini dituturkan di Kecamatan Kapuntori dan Kecamatan Lasalimu di Kabupaten Buton. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Metode deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan berurusan langsung dengan pengumpulan data. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data bahasa lisan. Hasil yang diperoleh dari analisis data adalah 33 prefiks ganda dalam bahasa Kakenauwe, yaitu cifo-, cifopo-, feka-, fomo-, fose-, kafe-, kafeka-, kafo-, nacifo-, nako-, namo-, nocifo-, nefo- dan pofeka-. Bahasa Kakenauwe memiliki kritik spesifik seperti bahasa Kakenauwe yang merupakan bahasa vokalis, yang memiliki prefiks ganda hingga tiga kali.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan double prefix dalam bahasa Kakenauwe.Hasil penelitian menemukan 14 double prefixes dalam bahasa Kakenauwe, yaitu cifo-, cifopo-, feka-, fomo-, fose-, kafe-, kafeka-, kafo-, nacifo-, nako-, namo-, nocifo-, nefo- dan pofeka-.Dengan hasil penelitian ini diharapkan peneliti selanjutnya akan melakukan penelitian di bidang lain dari morfologi seperti kelas kata, kata majemuk dalam elemen sintaksis juga perlu diteliti.Selanjutnya, hasil penelitian ini dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah, terutama untuk pembelajaran konten lokal di lokasi bahasa Kakenauwe.Hal ini dikarenakan bahasa ini dikelilingi oleh dua bahasa utama, yaitu Muna dan Wolio.Karena bahasa ini dikelilingi oleh dua bahasa utama, kemungkinan bahasa Kakenauwe akan berangsur-angsur tergerus atau bergeser.

Berdasarkan penelitian ini, saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: 1. Menganalisis lebih lanjut sistem morfologi bahasa Kakenauwe, khususnya dalam hal kata majemuk dan kelas kata. 2. Meneliti pengaruh bahasa Muna dan Wolio terhadap bahasa Kakenauwe, terutama dalam hal pemindahan atau pergeseran bahasa. 3. Mengembangkan metode pembelajaran bahasa Kakenauwe yang efektif untuk siswa di sekolah, dengan mempertimbangkan konten lokal dan konteks budaya.

  1. #pembelajaran bahasa#pembelajaran bahasa
  2. #traditional market#traditional market
Read online
File size1.6 MB
Pages7
Short Linkhttps://juris.id/p-28n
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test