UNIVERSITASMBOJOBIMAUNIVERSITASMBOJOBIMA

Jurnal Komunikasi dan KebudayaanJurnal Komunikasi dan Kebudayaan

Penelitian ini dilatarbelakangi realitas keberagaman identitas yang dimiliki manusia. Bahwa manusia baik sebagai individu maupun kelompok, memiliki ciri masing masing yang disebut budaya atau kebudayaan. Begitu juga dengan kebudayaan masyarakat Donggo (dou Donggo) di Bima, NTB. Dou Donggo merupakan masyarakat asli suku Mbojo (Bima), yang mendiami salah satu wilayah administratif kecamatan di Kabupaten Bima, yaitu Kecamatan Donggo. Dou Donggo menjadi bagian masyarakat Bima yang masih memegang teguh nilai nilai kebudayaan asli suku Mbojo. Kepatuhan mereka dengan tetap memegang teguh nilai nilai kebudayaan, tidak terlepas dari peran pemimpin mereka, yakni Ncuhi. Ncuhi merupakan sebutan dou donggo untuk kepala sukunya. Menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan studi lapangan di Desa Kala, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, peneliti meneliti bentuk komunikasi Ncuhi dalam upayanya melestarikan budaya pernikahan dan kesenian tradisional dou Donggo. Dari hasil penelitian ditemukan, keberadaan Ncuhi sebagai penerus atau pewaris kebudayaan lokal tidak lagi berfungsi secara maksimal. Ncuhi hanya melakukan komunikasi antarpersonal, kelompok dan publik kepada generasi yang lebih muda untuk mewarisi nilai nilai kebudayaan. Tidak ada lagi komunikasi secara organisasi, maupun menyebarkan dengan media massa untuk melestarikan kebudayaan pernikahan dan kesenian.

Penelitian menunjukkan bahwa dalam melestarikan budaya, baik kesenian tradisional maupun upacara pernikahan, Ncuhi hanya memanfaatkan tiga bentuk komunikasi, yaitu antarpersonal, kelompok, dan publik.Dalam konteks kesenian, komunikasi antarpersonal digunakan untuk berinteraksi dengan pemimpin komunitas, komunikasi kelompok untuk memberikan wejangan secara bersama, dan komunikasi publik saat ada pementasan di luar komunitas.Sementara itu, untuk pelestarian upacara pernikahan, komunikasi antarpersonal dilakukan saat memberi nasihat kepada calon pengantin, komunikasi kelompok saat mewakili keluarga, dan komunikasi publik saat berperan sebagai penghulu atau pemberi sambutan.

Penelitian ini membuka peluang untuk kajian lebih lanjut yang lebih fokus pada solusi konkret. Studi selanjutnya bisa mengeksplorasi bagaimana cara membangun model komunikasi baru bagi kepala suku (Ncuhi) yang memanfaatkan media sosial atau organisasi formal, mengingat saat ini mereka hanya berkomunikasi secara tatap muka. Penelitian ini bisa bertanya, Apakah dengan membuat akun media sosial resmi atau kelompok pemuda adat, pesan budaya bisa menyebar lebih luas kepada generasi muda?. Selain itu, penting juga untuk menyelidiki mengapa minat generasi muda terhadap budaya sendiri menurun dengan mencari tahu apakah ada cara untuk memotivasi Ncuhi agar lebih proaktif. Terakhir, agar hasil penelitian ini lebih umum, perlu ada perbandingan dengan komunitas Dou Donggo lainnya di luar Desa Kala. Sebuah penelitian komparatif dapat mengidentifikasi apakah tantangan yang dihadapi Ncuhi di sini juga sama dengan yang dihadapi oleh kepala suku di daerah lain, sehingga dapat ditemukan pola yang lebih besar dan solusi yang lebih tepat sasaran. Dengan demikian, penelitian masa depan tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga merancang strategi adaptasi budaya yang relevan dengan zaman.

  1. #pelestarian budaya#pelestarian budaya
  2. #model komunikasi#model komunikasi
Read online
File size618.23 KB
Pages13
Short Linkhttps://juris.id/p-1UX
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test